V. Munasabah (Korelasi)
Munasabah adalah ilmu yang
membahas korelasi urutan antar
ayat Al-Qur’an dan atau antar
surah Al-Qur’an. Pengetahuan
tentang munasabah akan
membantu memahami makna
ayat Al-Qur’an. Kadang
ditemukan kaitan umum atau
khusus diantara ayat-ayat Al-
Qur’an baik yang rasional,
inderawi maupun imajinatif
tanpa mengupas lafazh-lafazh
menurut makna peristilahan
bahasa maupun pemikiran
filosofis. Sebagian besar
kaitannya berkisar sekitar sebab
dan musabab. Jika ayat-ayat itu
tidak saling bertemu, tidak
terdapat kecocokan, tentu
berhadapan dengan lawannya.
misalnya menyebut rahmat
setelah azab, menerangkan
keadaan sorga dan neraka,
mengarahkan hati nurani serta
membangkitkan akal pikiran dan
memberikan peringatan serta
mengutarakan ketentuan
hukum.
Ahli tafsir sangat sedikit
mengetengahkan soal-soal
seperti ini, bukan hanya karena
rumit semata, melainkan juga
karena persoalannya dipandang
oleh sebagian orang sangat
tidak dibutuhkan, disamping
banyak menguras tenaga dan
pikiran.
Orang pertama yang membahas
munasabah dalam menafsirkan
Al-Qur’an adalah Abu Bakar An
Naisaburi (wafat 324 H). As
Suyuthi berkata : “Setiap kali ia
(An-Naisaburi) duduk diatas
kursi, apabila dibacakan Al-
Qur’an kepadanya, beliau
berkata : “Mengapa ayat ini
diletakkan disamping ayat ini
dan apa rahasia diletakkan surat
ini disamping surat ini ?”. Beliau
mengkritik para ulama Baghdad
lantaran mereka tidak
mengetahui.”
Tindakan An-Naisaburi
merupakan kejutan dan langkah
barudalam dunia tafsir waktu
itu. Beliau mempunyai
kemampuan untuk menyingkap-
persesuaian, baik antar ayat
ataupun antar surah, terlepas
dari segi tepat atau tidaknya,
segi pro dan kontra terhadap
apa yang dicetuskan beliau. Satu
hal yang jelas, beliau dipandang
sebagai bapak ilmu munasabah.
Perkembangan selanjutnya
munasabah meningkat menjadi
salah satu cabang dari ilmu-ilmu
Al-Qur’an. Penulis yang
membahas dengan baik masalah
munasabah adalah Burhanuddin
Al-Biqa’i dalam kitabnya
Nazhmud Durar fi Tanasubil
Ayati was Suwar.
Manfaat munasabah dalam
memahami ayat Al-Qur’an ada
dua yaitu :
1. Memahami keutuhan,
keindahan dan kehalusan
bahasa.
2. Membantu dalam memahami
kutuhan makna Al-Qur’an.
Untuk menemukan korelasi
antar ayat,sangat diperlukan
kejernihan rohani dan pikiran
agar kita terhindar dari
kesalahan penafsiran.
Sabtu, 10 Desember 2011
IJAS (KEMUKJIZATAN) AL-QUR'AN
IV. Ijaz (Kemukjizatan) Al-
Qur’an
Kata mukjizat berasal dari kata
‘ajaz (lemah).I’jaz dapat
diartikan mukjizat, hal yang
melemahkan, yang menjadikan
sesuatu atau pihak lain tak
berdaya. I’jazul Qur’an adalah
kekuatan, keunggulan dan
keistimewaan yang dimiliki Al-
Qur’an yang menetapkan
kelemahan manusia, baik secara
terpisah maupun berkelompok-
kelompok, untuk bisa
mendatangkan minimal yang
menyamainya. Kadar
kemukjizatan Al-Qur’an itu
meliputi tiga aspek, yaitu : aspek
bahasa (sastra, badi’, balagah/
kefasihan), aspek ilmiah
(science, knowledge, ketepatan
ramalan) dan aspek
tasyri’ (penetapan hukum
syariat).
Muhammad Ali Ash Shabumi
dalam kitab At-Tibyan
menyebutkan segi-segi
kemukjizatan Al-Qur’an sebagai
berikut :
1. Susunan kalimatnya indah.
2. Terdapat uslub (cita rasa
bahasa) yang unik, berbeda
dengan semua uslub-uslub
bahasa Arab.
3. Menantang semua mahkluk
untuk membuat satu ayat saja
yang bisa menyamai Al-Qur’an,
tapi tantangan itu tidak pernah
bisa dipenuhi sampai sekarang
ini.
4. Betuk perundang-undangan
yang memuat prinsip dasar dan
sebagian memuat detail rinci
yang mencakup seluruh aspek
kehidupan manusia melebihi
setiap undang-undang ciptaan
manusia.
5. Menerangkan hal-hal ghaib
yang tidak diketahui bila
mengandalkan akal semata-
mata.
6. Tidak bertentangan dengan
pengetahuan ilmiah (ilmu pasti,
science).
7. Tepat terbukti semua janji
(ramalan) yang dikhabarkan
dalam Al-Qur’an.
8. Mengandung prinsip-prinsip
ilmu pengetahuan ilmiah
didalamnya.
9. Berpengaruh kepada hati
pengikut dan musuhnya
Qur’an
Kata mukjizat berasal dari kata
‘ajaz (lemah).I’jaz dapat
diartikan mukjizat, hal yang
melemahkan, yang menjadikan
sesuatu atau pihak lain tak
berdaya. I’jazul Qur’an adalah
kekuatan, keunggulan dan
keistimewaan yang dimiliki Al-
Qur’an yang menetapkan
kelemahan manusia, baik secara
terpisah maupun berkelompok-
kelompok, untuk bisa
mendatangkan minimal yang
menyamainya. Kadar
kemukjizatan Al-Qur’an itu
meliputi tiga aspek, yaitu : aspek
bahasa (sastra, badi’, balagah/
kefasihan), aspek ilmiah
(science, knowledge, ketepatan
ramalan) dan aspek
tasyri’ (penetapan hukum
syariat).
Muhammad Ali Ash Shabumi
dalam kitab At-Tibyan
menyebutkan segi-segi
kemukjizatan Al-Qur’an sebagai
berikut :
1. Susunan kalimatnya indah.
2. Terdapat uslub (cita rasa
bahasa) yang unik, berbeda
dengan semua uslub-uslub
bahasa Arab.
3. Menantang semua mahkluk
untuk membuat satu ayat saja
yang bisa menyamai Al-Qur’an,
tapi tantangan itu tidak pernah
bisa dipenuhi sampai sekarang
ini.
4. Betuk perundang-undangan
yang memuat prinsip dasar dan
sebagian memuat detail rinci
yang mencakup seluruh aspek
kehidupan manusia melebihi
setiap undang-undang ciptaan
manusia.
5. Menerangkan hal-hal ghaib
yang tidak diketahui bila
mengandalkan akal semata-
mata.
6. Tidak bertentangan dengan
pengetahuan ilmiah (ilmu pasti,
science).
7. Tepat terbukti semua janji
(ramalan) yang dikhabarkan
dalam Al-Qur’an.
8. Mengandung prinsip-prinsip
ilmu pengetahuan ilmiah
didalamnya.
9. Berpengaruh kepada hati
pengikut dan musuhnya
Jumat, 09 Desember 2011
III. Sejarah Pembukuan Al-
Qur’an
i. Masa Rasulullah
Pada masa Rasulullah ayat Al-
Qur’an yang turun dihafal oleh
beliau “Sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (didadamu)
dan (membuatmu pandai)
membacanya” (QS Al-Qiyamah
[75] : 17-18). Oleh karena itu
beliau merupakan hafidz
(penghafal) Al-Qur’an yang
pertama dan maha guru
pemberi contoh panutan paling
baik bagi para sahabat dalam
menghafalnya. Dalam sahih
Bukhary dalam tiga riwayat
disebutkan ada tujuh hafidz dari
kalangan sahabat yang hafal Al-
Qur’an, yaitu :
1. Abdullah bin Mas’ud
2. Salim Bin Ma’qal maula Abu
Huzaifah.
3. Mu’az Bin Jabal.
4. Ubay Bin Ka’ab.
5. Zaid Bin Tsabit.
6. Abu Zaid Bin Sakan.
7. Abu Darda’.
Ke-tujuh penghafal Al-Qur’an
diatas adalah para sahabat yang
hafal Al-Qur’an diluar kepala
yang menunjukkan hafalannya
dihadapan Nabi dan sanadnya
sampai kepada kita melalui
riwayat Bukhary. Sedangkan
kenyataannya setelah Rasulullah
wafat, jumlah penghafal
(hafidz) Al-Qur’an dikalangan
sahabat terus bertambah. Untuk
melukiskan hal itu dapat
diketahui dari keterangan Al-
Qurtubi : “Telah terbunuh tujuh
puluh orang qari’ pada perang
Yamamah; dan terbunuh pula
pada masa Nabi sejumlah itu
dalam peristiwa pembunuhan di
sumur Maa’unah”.
Rasulullah telah mengangkat
beberapa penulis Al-Qur’an dari
sahabat-sahabat terkemuka,
seperti : Ali Bin Abi Thalib,
Mu’awiyah Bin Abi Sufyan, Ubay
Bin Ka’ab dan Zaid Bin Tsabit.
Bila ayat Al-Qur’an turun beliau
memerintahkan mereka
menuliskannya dan
menunjukkan tempat ayat
tersebut didalam surat,
sehingga penulisan pada
lembaran itu membantu
penghafalan didalam hati (diluar
kepala). Disamping itu sebagian
sahabat menuliskan ayat Al-
Qur’an yang turun itu dengan
kemauan sendiri tanpa
diperintah oleh Nabi. Mereka
menuliskan ayat Al-Qur’an pada
pelepah kurma, lempengan batu,
daun lontar, kulit binatang atau
kulit kayu, pelana, potongan
tulang belulang binatang. Dalam
Al Mustadrak, Hakim
meriwayatkan bahwa Zaid Bin
Tsabit berkata : “kami
menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an
pada kulit binatang” (sanad
sahih menurut syarat Bukhary
dan Muslim).
Pada masa Rasulullah Al-Qur’an
belum dikumpulkan dalam satu
mushaf, karena pada masa
kenabian wahyu masih turun
dan Rasulullah masih selalu
menanti turunnya ayat Al-
Qur’an, disamping itu terkadang
pula terdapat ayat yang nasikh
(dihapus). Susunan atau tertib
penulisan Al-Qur’an itu tidak
menurut tertib nuzulnya, tetapi
setiap ayat turun dituliskan
ditempat penulisan sesuai
dengan petunjuk Nabi, yaitu
beliau menjelaskan bahwa ayat
anu harus diletakkan dalam
surah anu. Al-Khattabi berkata :
“Rasulullah tidak mengumpulkan
Al-Qur’an dalam satu mushaf
karena beliau senantiasa
menunggu ayat nasikh terhadap
sebagian hukum-hukum atau
bacaannya”.
ii. Masa Khalifah Abu Bakar
Shidiq ra.
Setelah Rasulullah wafat, Abu
Bakar terpilih sebagai khalifah.
Saat itu hampir seluruh kabilah-
kabilah Arab kembali murtad
dan sebagian membangkang
menolak membayar zakat,
karena mereka mengira
kekuatan Islam sudah pudar
setelah meninggalnya
Rasulullah. Untuk mengatasi
kemurtadan dan
pembangkangan khabilah-
khabilah Arab itu Khalifah Abu
Bakar mengirimkan pasukan
untuk menundukkan mereka
dan menyeru kembali kepada
Islam yang dikenal sebagai
“perang ridah”.
Disamping itu di daerah
Yamamah –Arab Selatan- muncul
Musailamah Al-Khazab –sang
pendusta- yang mengaku
sebagai nabi. Khalifah Abu Bakar
memeranginya yang dikenal
sebagai “perang Yamamah”.
Pada berbagai peperangan-
peperangan tersebut banyak
qari dan pengahafal Al-Qur’an
dari kalangan sahabat nabi yang
gugur. Umar Bin Khattab yang
merupakan penasehat utama
Khalifah Abu Bakar merasa
khawatir Al-Qur’an akan punah
bersama banyaknya qari yang
gugur tersebut. Umar Bin
Khattab mengusulkan agar Al-
Qur’an dikumpulkan dalam satu
mushaf.
Mula-mula Khalifah Abu Bakar
menolak usulan itu dengan
alasan hal itu tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan hal itu tidak
diperintahkan oleh Rasulullah.
Tetapi Umar terus membujuk
Khalifah Abu Bakar tentang
perlunya pembukuan Al-Qur’an
dalam satu mushaf, sehingga
Allah membukakan hati Abu
Bakar untuk menerima usulan
umar tersebut. Khalifah Abu
Bakar kemudian memanggil Zaid
Bin Tsabit dan
memerintahkannya untuk
mengumpulkan Al-Qur’an dalam
satu mushaf.
Zaid Bin Tsabit berkata :
“Mengapa anda berdua ingin
melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan oleh
Rasulullah ?” Abu Bakar
menjawab : “Demi Allah, itu
baik”, Abu Bakar terus
membujukku sehingga Allah
membukakan hatiku”.
Maka Zaid Bin Tsabit mulai
bekerja mengumpulkan tulisan
manuskrip Al-Qur’an dengan
sangat teliti dan hati-hati. Zaid
Bin Tsabit meneliti hafalan
pemilik catatan Al-Qur’an dan
mensyaratkan harus ada 2
orang saksi yang menyaksikan
bahwa tulisan manuskrip Al-
Qur’an itu ditulis dihadapan
Rasulullah, padahal Zaid Bin
Tsabit sendiri sudah hafal
seluruh Al-Qur’an diluar kepala.
Dengan kerja keras, teliti dan
hati-hati akhirnya seluruh Al-
Qur’an berhasil dikumpulkan
dalam satu mushaf dengan
“tujuh huruf”.
Setelah Abu Bakar wafat,
Mushaf tersebut disimpan oleh
Khalifah penggantinya yaitu
Umar Bin Khattab. Setelah
Khalifah Umar meninggal,
Mushaf tersebut disimpan oleh
Hafsah Binti Umar.
C. Masa Khalifah Usman Bin
Affan ra.
Pada masa pemerintahan
Khalifah Abu Bakar dan Umar
kaum muslimin telah melakukan
penaklukan ke negeri-negeri
diluar jazirah Arab seperti, Syam,
Iraq, Persia dan Mesir. Pada masa
Khalifah Usman penaklukan
masih terus berlangsung.
Ketika terjadi perang
penaklukan Armenia dan
Azerbaijan, diantara mujahidin
yang ikut menyerbu itu adalah
sahabat nabi Huzaifah Bin Al-
Yaman. Beliau melihat banyak
perbedaan diantara pasukan
kaum muslimin dalam cara-cara
membaca Al-Qur’an. Sebagian
bacaan itu bercampur dengan
kesalahan, tetapi masing-masing
mempertahankan dan
bersikukuh berpegang pada
bacaannya masing-masing dan
bahkan sempat saling berselisih
dan saling mengkafirkan.
Riwayat dari Anas, Huzaifah
berkata kepada Usman :
“Selamatkanlah umat ini
sebelum mereka terlibat dalam
perselisihan (masalah kitab suci)
sebagaimana perselisihan
orang-orang Yahudi dan
Nasrani”.
Atsar dari Abu Qalabah berkata :
“Pada masa kekhalifahan Usman
telah terjadi seorang guru qiraat
mengajarkan qiraat kepada
seseorang dan guru yang lain
juga mengajarkan qiraat yang
berbeda kepada anak yang lain.
Dua kelompok anak-anak yang
belajar qiraat ini pada suatu
ketika bertemu dan berselisih
dan hal itu menjalar juga sampai
kepada guru-guru mereka”. Hal
itu akhirnya sampai terdengar
kepada Khalifah Usman, maka ia
berpidato : “Kalian yang ada
dihadapanku teah berselisih
paham dan salah dalam
membaca Al-Qur’an. Penduduk
yang jauh dari kami tentu lebih
besar lagi perselisihan dan
kesalahannya. Bersatulah wahai
sahabat-sahabat Muhammad,
tulislah untuk semua orang satu
imam (mushaf pedoman) saja !”.
Khalifah Usman kemudian
meminjam mushaf yang ada
pada Hafsah binti Umar dan
memerintahkan Zaid bin Tsabit,
Abdullah Bin Zubair, Sa’id Bin
Ash dan Abdurrahman Bin Haris
untuk menyalinnya. Usman
berkata kepada ketiga orang
Quraisy itu : “Bila kalian
berselisih pendapat dengan Zaid
Bin Tsabit tentang sesuatu dari
Al-Qur’an, maka tulislah dengan
logat Quraisy, karena Al-Qur’an
diturunkan dalam bahasa
Quraisy”. Merekapun bekerja
menyalin Mushaf Abu Bakar
menjadi beberapa mushaf.
Setelah mereka selesai
menyalinnya menjadi beberapa
mushaf, Khalifah Usman
mengembalikan mushaf asli
kepada Hafsah. Selanjutnya
Khalifah Usman mengirimkan
kesetiap wilayah, masing-
masing satu mushaf dan
memerintahkan agar semua
manuskrip Al-Qur’an yang
lainnya dibakar.
Ketika penyalinan mushaf telah
selesai, Khalifah Usman menulis
surat kepada semua penduduk
daerah yang isinya : “Aku telah
melakukan yang demikian dan
demikian. Aku telah menghapus
apa yang ada padaku, maka
hapuskanlah apa yang ada
padamu”.
Uraian diatas menunjukkan
bahwa penyalinan mushaf pada
masa Khalifah Usman ditulis
dengan “satu huruf” yaitu
sesuai dengan dialek Quraisy
dan meninggalkan “enam
huruf” yang lainnya, hal itu
untuk keseragaman dan
menghindari perselisihan.
Mushaf Usmani inilah yang
kemudian dinukil turun temurun
secara mutawatir sampai
kepada kita sekarang ini.
Tertib Ayat dan Surah
Tertib susunan ayat Al-Qur’an
menurut jumhur adalah taufiqi
(ketentuan dari Allah) bukan
ijtihadi Rasulullah atau para
penyusun Mushaf Al Qur’an. As
Suyuthi berkata : “Jibril
menurunkan beberapa ayat
kepada Rasulullah dan
menunjukkan kepadanya
tempat dimana ayat-ayat itu
harus diletakkan dalam surah
atau ayat-ayat yang turun
sebelumnya. Lalu Rasulullah
memerintahkan kepada para
penulis wahyu untuk
menuliskannya di tempat
tersebut. Beliau mengatakan
kepada mereka : “Letakkanlah
ayat-ayat ini pada surah yang
didalamnya disebutkan begini
dan begini,” atau “Letakkanlah
ayat ini ditempat anu.”
Mengenai tertib susunan surah,
beberapa sahabat nabi ada yang
mempunyai mushaf pribadi
yang berbeda tertib susunan
surahnya dengan tertib surah
mushaf Usmani. Mushaf Ali
disusun berdasarkan urutan
nuzulnya, Mushaf Ibnu Mas’ud
dimulai dari surah Al-Baqarah
tanpa surah Al-Falaq dan An-
Naas. Mushaf Ubay Bin Ka’ab
dimulai Al-Fatihah, An-Nisa’
kemudian Ali-‘Imran, namun
demikian Mushaf pribadi
sebagian sahabat tersebut tidak
dapat dijadikan pedoman.
Tertib susunan surah yang
disepakati dan umat sudah
Ijma’ (sepakat) adalah tertib
susunan surah mushaf Usman
yang dikerjakan secara resmi
oleh panitia khusus yang terdiri
dari beberapa sahabat nabi
pilihan. Tentang tertib susunan
surah Al-Qur’an, jumhur ulama
mengatakan bahwa tertib
susunannya adalah taufiqi.
Al-Kirmani dalam kitab Al-
Burhan mengatakan : “Tertib
surah seperti yang kita kenal
sekarang ini adalah menurut
Allah pada Lauhful Mahfud, Al-
Qur’an sudah menurut tertib ini.
Dan menurut tertib ini pula Nabi
membacakan dihadapan
Malakikat Jibril setiap tahun di
bulan Ramadhan apa yang telah
dikumpulkannya dari Jibril itu.
Pada tahun ke wafatannya Nabi
membacakannya dihadapan
Jibril dua kali.
As-Suyuthi mengatakan tertib
susunan surah Al-Qur’an itu
taufiqi kecuali surah Al-Anfal
dan At-Taubah, berdasarkan
riwayat Ibnu Abbas : “Aku
bertanya kepada Usman :
‘Apakah yang mendorongmu
mengambil Anfal yang termasuk
katagori masani dan Bara’ah
(At-Taubah) yang termasuk
mi’in untuk kamu gabungkan
keduanya menjadi satu tanpa
kamu tuliskan diantara
keduanya
Bismillahirrahmaanirrahim, dan
kamu pun meletakaannya pada
as-sab’ut tiwal (tujuh surat
panjang) ?’, Usman menjawab :
‘Telah turun kepada Rasulullah
surah-surah yang yang
mempunyai bilangan ayat.
Apabila ada ayat turun
kepadanya, ia panggil beberapa
penulis wahyu dan
mengatakan : ‘Letakkanlah ayat
ini pada surah yang didalamnya
terdapat ayat anu dan anu.’
Surah Anfal termasuk surah
pertama yang turun di Madinah
sedang surah Bara’ah termasuk
yang terakhir diturunkan. Kisah
dalam surah Anfal serupa
dengan kisah dalam surah
Bara’ah, sehingga aku
mengirabahwa surah Bara’ah
adalah bagian dari surah Anfal.
Dan sampai wafatnya Rasulullah
tidak menjelaskan kepada kami
bahwa surah Bara’ah
merupakan bagian dari surah
Anfal. Oleh karena itu, kedua
surah tersebut aku gabungkan
dan diantara keduanya tidak
aku tuliskan
Bismillahirrahmaanirrahim sera
aku meletakkan pula pada as-
sab’ut tiwal.
Surah-surah dan ayat-ayat Al-
Qur’an
1. At-Tiwal : adalah tujuh surat
awal yang panjang-panjang
yaitu : Al-Baqarah, Ali ‘Imran,
An-Nisa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-
A’raf , ketujuh : Al-Anfal dan At-
Taubah sekaligus, sebagian ada
yang mengatakan yang ke-tujuh
surah Yunus.
2. Al-Mi’un : yaitu surah-surah
yang ayat-ayatnya lebih dari
seratur atau sekitar itu.
3. Al-Masani : yaitu surah-surah
yang jumlah ayatnya dibawah
Al-Mi’un. Dinamakan Masani,
karena surah itu diulang-ulang
bacaannya lebih bnayak dari At-
Tiwal dan Al-Mi’un.
4. Al-Mufassal : yaitu surah yang
dimulai dari surah Qaf, ada pula
yang mengatakan dimulai dari
surah Hujarat. Dinamai Mufassal
karena banyaknya pemisahan
fasl (pemisahan) dinatara surah-
surah tersebut dengan
basmallah. Mufassal dibagi
menjadi tiga :
a. Mufassal Tiwal : dimulai dari
surah Qaf atau hujurat sampai
dengan ‘Amma atau Buruj.
b. Mufassal Ausat : dimulai dari
‘Amma atau Buruj sampai
dengan Duha atau Lam Yakun.
c. Mufassal qisar : dimulai dari
Duha atau Lam Yakun sampai
dengan surah terakhir (An-
Naas).
Rasm Usmani
Yang dimaksud dengan rasm
Usmani adalah bentuk tulisan
(khot) Al-Qur’an hasil kerja
beberapa sahabat Nabi pilihan
dalam suatu panitia penyalin
mushaf Al-Qur’an yang diketuai
oleh Zaid Bin Tsabit atas
penunjukan Khalifah Usman.
Mengenai penulisan Al-Qur’an
dengan rasm Usmani ini ada
beberapa pendapat :
1. Rasm (bentuk tulisan) dalam
mushaf Usmani adalah taufiqi
yang wajib dipakai dalam
penulisan Al-Qur’an. Ini
pendapat Ibnul Mubarak dan
gurunya Abdul Azis ad-Dabbag.
2. Rasm Usmani bukan taufiqi,
tapi cara penulisan yang
diterima dan menjadi Ijma’ umat
dan wajib menjadi pegangan
seluruh umat dan tidak boleh
menyalahinya.
3. Rasm Usmani hanyalah istilah
dan tatacara. Tidak ada dalil
agama yang mewajibkan umat
mengikuti satu rasm tertentu
dan tidak ada salahnya jika
menyalahi bila orang telah
mempergunakan rasm tertentu
untuk imla dan rasm itu tersiar
luas diantara mereka. Ini adalah
pendapat Abu Bakar Al-Baqalani.
Jumhur ulama, diantaranya
Imam Malik, Imam Ahmad
melarang penulisan Al-Qur’an
yang menyalahi rasm Usmani.
I’jam (penambahan tanda titik,
dll) Rasm Usmani
Mushaf Usmani tidak memakai
tanda baca titik dan syakal,
karena semata-mata didasarkan
pada watak pembawaan orang-
orang Arab yang masih murni,
sehingga tidak memerlukan
syakal, harokat dan titik. Ketika
Islam sudah menyebar keluar
jazirah Arab dan bahasa Arab
mulai mengalami kerusakan
karena banyaknya percampuran
dengan bahasa non Arab, maka
para penguasa merasa
pentingnya ada perbaikan
penulisan mushaf dengan
syakal, titik, harokat dan lain lain
yang dapat membantu
pembacaan yang benar. Banyak
ulama berpendapat bahwa
orang pertama yang melakukan
hal ini adalah Abul Aswad Ad-
Du’ali, peletak pertama dasar-
dasar kaidah bahasa Arab atas
petunjuk Khalifah Ali Bin Abi
Thalib.
Perbaikan rasm Usmani berjalan
secara bertahap. Pada mulanya
syakal berupa titik : fathah
berupa satu titik diatas awal
huruf, dammah berupa satu titik
diatas akhir huruf dan kasrah
berupa satu titik dibawah awal
huruf. Kemudian terjadi
perubahan penentuan harakat
yang berasal dari huruf dan
itulah yang dilakukan oleh Al-
Khalil. Perubahan itu adalah
fathah adalah dengan tanda
sempang diatas huruf, dammah
dengan wawu kecil diatas huruf
dan tanwin dengan tambahan
tanda serupa (double). Alif yang
dihilangkan dan diganti, pada
tempatnya dituliskan dengan
warna merah. Hamzah yang
dihilangkan dituliskan berupa
hamzah dengan warna merah
tanpa huruf. Pada nun dan
tanwin sebelum huruf ba diberi
tanda iqlab berwarna merah.
Sedang nun dan tanwin sebelum
huruf tekak (halaq) diberi tanda
sukun dengan warna merah.
Nun dan tanwain tidak diberi
tanda apa apa ketika idgam dan
ikkhfa’. Setiap huruf yang harus
dibaca sukun (mati) diberi tanda
sukun dan huruf yang di-idgam-
kan tidak diberi tanda sukun
tetapi huruf sesudahnya diberi
tanda syaddah; keculai huruf ta
sebelum ta, maka sukun tetap
dituliskan.
Para ulama pada mulanya tidak
menyukai usaha perbaikan
tersebut karena khawatir akan
terjadi penambahan dalam Al-
Qur’an, berdasarkan ucapan
Ibnu Mas’ud : “Bersihkan Al-
Qur’an dan jangan
dicampuradukkan dengan
apapun”. Al-Halimi mengatakan :
“Makruh menuliskan perpuluhan,
perlimaan, nama-nama surah
dan bilangan ayat dalam
mushaf” sedangkan pemberian
titik diperbolehkan karena titik
tidak mempunyai bentuk yang
mengacaukan antara yang Al-
Qur’an dengan yang bukan Al-
Qur’an. Titik merupakan
petunjuk atas keadaan sebuah
huruf yang dibaca sehingga
dibolehkan untuk
mempermudah pembacaan.
Kemudian akhirnya itu sampai
kepada hukum boleh dan
bahkan anjuran. Al Hasan dan
Ibnu Sirin keduanya
mengatakan : “Tidak ada
salahnya memberikan titik pada
mushaf”. Rabiah Bin Abi
Abdurrahman mengatakan :
“Tidak mengapa memberi syakal
pada mushaf”. An-Nawawi
mengatakan : “Pemberian titik
dan pensyakalan mushaf itu
dianjurkan (mustahab), karena
ia dapat menjaga mushaf daru
kesalahan dan penyimpangan
(pembacaan)”. Penyempurnaan
itu terus berlanjut hingga kini
telah mencapai puncaknya
dalam bentuk tulisan Arab (Al-
Khattul Araby).
Al-Qur’an Dengan Tujuh Huruf
Nash-nash sunah cukup banyak
yang mengemukakan hadis
mengenai turunnya Al-Qur’an
dengan tujuh huruf,
diantaranya :
Dari Ibnu Abbas : “Rasulullah
berkata : ‘Jibril membacakan (Al-
Qur’an) kepadaku dengan satu
huruf. Kemudian berulang kali
aku mendesak dan meminta
agar huruf itu ditambah dan ia
pun menambahnya kepadaku
sampai tujuh huruf’”.
Dari Ubay Bin Ka’ab : “Ketika
Nabi berada di dekat parit Bani
Gafar, ia didatangi Jibril seraya
mengatakan : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan satu huruf.’
Beliau menjawab : ‘Aku
memohon kepada Allah
ampunan dan maghfirallah-Nya,
karena umatku tidak dapat
melaksanakan perintah itu.’
Kemudian Jibril datang lagi
untuk kedua kalinya dan
berkata : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan dua huruf.’
Nabi menjawab : ‘Aku memohon
kepada Allah ampunan dan
maghfirah-Nya, umatku tidak
kuat melaksanakannya.’ Jibril
datang lagi untuk yang ketiga
kalinya, lalu mengatakan : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan tiga huruf.’
Nabi menjawab : ‘Aku memohon
kepada Allah ampunan dan
maghfirah-Nya, umatku tidak
kuat melaksanakannya.’
Kemudian Jibril datang lagi
untuk yang keempat kalinya
seraya berkata : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan tujuh huruf,
dengan huruf mana saja mereka
membaca, mereka benar.’”
Hadis-hadis berkenaan dengan
Al-Qur’an dengan tujuh huruf
sangat banyak. As-Suyuthi
menyebutkan bahwa hadits-
hadits tersebut diriwayatkan
oleh lebih dari dua puluh orang
sahabat. Abu Ubaid Al-Qasim bin
Salam menetapkan
kemutawatiran hadis mengenai
Al-Qur’an dengan tujuh huruf.
Perbedaan pendapat tentang
pengertian tujuh huruf,
diantaranya :
1. Tujuh macam bahasa dari
bahasa-bahasa Arab mengenai
satu makna yang sama, yaitu
bahasa suku Quraisy, Huzail,
Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim
dan Yaman. Sebagian
memasukkan Asad, Rabi’ah, Sa’d.
Pendapat ini maksudnya satu
kata boleh dibaca berbeda
menurut dialek masing-masing
kabilah diatas selama maknanya
masih tetap sama.
2. Tujuh macam bahasa dari
bahasa-bahasa Arab dengan
mana Al-Qur’an diturunkan,
yaitu : Quraisy, Huzail, Saqif,
Hawasin, Kinanah, Tamim dan
Yaman. Bedanya dengan yang
pendapat pertama adalah
bahasa Al-Qur’an mencakup dari
tujuh bahasa diatas yang paling
fasih dan berterbaran di seluruh
Al-Qur’an
3. Tujuh wajah, yaitu : amr
(perintah), hanyu (larangan),
wa’d (janji), wa’id (ancaman),
jadal (perdebatan), qasas
(cerita) dan amsal
(perumpamaan)
4. Tujuh macam hal yang
didalamnya terjadi ikhtilaf
(perbedaan), yaitu ikhtilaf
dalam : asma’ (kata benda), i’rab
(harakat akhir kata), tasrif,
taqdim (mendahulukan), ibdal
(penggantian), penambahan-
pengurangan dan lahjah (tebal-
tipis, imalah-tidak imalah, idhar
dan idgam).
5. Qiraat Tujuh.
Pendapat pertama adalah
pendapat yang paling kuat dan
banyak diikuti oleh jumhur
ulama.
Hikmah Al-Qur’an dengan tujuh
huruf :
1. Memudahkan bacaan dan
hafalan bagi bangsa yang ummi,
tidak bisa baca tulis, yang setiap
kabilah mempunyai dialek
masing-masing.
2. Bukti kemukjizatan Al-Qur’an
bagi naluri atau watak dasar
kebahasaan orang Arab yang
mana seluruh orang Arab pada
khususnya ditantang untuk
membuat satu surah saja yang
seperti Al-Qur’an, ternyata
seluruh orang Arab tidak
mampu membuatnya.
3. Perbedaan bentuk lafaz pada
sebagian huruf dan kata-kata
memberi peluang penyimpulan
hukum yang berbeda. Para
fukaha dalam menyimpulkan
hukumdan ijtihad ber hujjah
dengan qiraat bagi ketujuh
huruf ini.
Qur’an
i. Masa Rasulullah
Pada masa Rasulullah ayat Al-
Qur’an yang turun dihafal oleh
beliau “Sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (didadamu)
dan (membuatmu pandai)
membacanya” (QS Al-Qiyamah
[75] : 17-18). Oleh karena itu
beliau merupakan hafidz
(penghafal) Al-Qur’an yang
pertama dan maha guru
pemberi contoh panutan paling
baik bagi para sahabat dalam
menghafalnya. Dalam sahih
Bukhary dalam tiga riwayat
disebutkan ada tujuh hafidz dari
kalangan sahabat yang hafal Al-
Qur’an, yaitu :
1. Abdullah bin Mas’ud
2. Salim Bin Ma’qal maula Abu
Huzaifah.
3. Mu’az Bin Jabal.
4. Ubay Bin Ka’ab.
5. Zaid Bin Tsabit.
6. Abu Zaid Bin Sakan.
7. Abu Darda’.
Ke-tujuh penghafal Al-Qur’an
diatas adalah para sahabat yang
hafal Al-Qur’an diluar kepala
yang menunjukkan hafalannya
dihadapan Nabi dan sanadnya
sampai kepada kita melalui
riwayat Bukhary. Sedangkan
kenyataannya setelah Rasulullah
wafat, jumlah penghafal
(hafidz) Al-Qur’an dikalangan
sahabat terus bertambah. Untuk
melukiskan hal itu dapat
diketahui dari keterangan Al-
Qurtubi : “Telah terbunuh tujuh
puluh orang qari’ pada perang
Yamamah; dan terbunuh pula
pada masa Nabi sejumlah itu
dalam peristiwa pembunuhan di
sumur Maa’unah”.
Rasulullah telah mengangkat
beberapa penulis Al-Qur’an dari
sahabat-sahabat terkemuka,
seperti : Ali Bin Abi Thalib,
Mu’awiyah Bin Abi Sufyan, Ubay
Bin Ka’ab dan Zaid Bin Tsabit.
Bila ayat Al-Qur’an turun beliau
memerintahkan mereka
menuliskannya dan
menunjukkan tempat ayat
tersebut didalam surat,
sehingga penulisan pada
lembaran itu membantu
penghafalan didalam hati (diluar
kepala). Disamping itu sebagian
sahabat menuliskan ayat Al-
Qur’an yang turun itu dengan
kemauan sendiri tanpa
diperintah oleh Nabi. Mereka
menuliskan ayat Al-Qur’an pada
pelepah kurma, lempengan batu,
daun lontar, kulit binatang atau
kulit kayu, pelana, potongan
tulang belulang binatang. Dalam
Al Mustadrak, Hakim
meriwayatkan bahwa Zaid Bin
Tsabit berkata : “kami
menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an
pada kulit binatang” (sanad
sahih menurut syarat Bukhary
dan Muslim).
Pada masa Rasulullah Al-Qur’an
belum dikumpulkan dalam satu
mushaf, karena pada masa
kenabian wahyu masih turun
dan Rasulullah masih selalu
menanti turunnya ayat Al-
Qur’an, disamping itu terkadang
pula terdapat ayat yang nasikh
(dihapus). Susunan atau tertib
penulisan Al-Qur’an itu tidak
menurut tertib nuzulnya, tetapi
setiap ayat turun dituliskan
ditempat penulisan sesuai
dengan petunjuk Nabi, yaitu
beliau menjelaskan bahwa ayat
anu harus diletakkan dalam
surah anu. Al-Khattabi berkata :
“Rasulullah tidak mengumpulkan
Al-Qur’an dalam satu mushaf
karena beliau senantiasa
menunggu ayat nasikh terhadap
sebagian hukum-hukum atau
bacaannya”.
ii. Masa Khalifah Abu Bakar
Shidiq ra.
Setelah Rasulullah wafat, Abu
Bakar terpilih sebagai khalifah.
Saat itu hampir seluruh kabilah-
kabilah Arab kembali murtad
dan sebagian membangkang
menolak membayar zakat,
karena mereka mengira
kekuatan Islam sudah pudar
setelah meninggalnya
Rasulullah. Untuk mengatasi
kemurtadan dan
pembangkangan khabilah-
khabilah Arab itu Khalifah Abu
Bakar mengirimkan pasukan
untuk menundukkan mereka
dan menyeru kembali kepada
Islam yang dikenal sebagai
“perang ridah”.
Disamping itu di daerah
Yamamah –Arab Selatan- muncul
Musailamah Al-Khazab –sang
pendusta- yang mengaku
sebagai nabi. Khalifah Abu Bakar
memeranginya yang dikenal
sebagai “perang Yamamah”.
Pada berbagai peperangan-
peperangan tersebut banyak
qari dan pengahafal Al-Qur’an
dari kalangan sahabat nabi yang
gugur. Umar Bin Khattab yang
merupakan penasehat utama
Khalifah Abu Bakar merasa
khawatir Al-Qur’an akan punah
bersama banyaknya qari yang
gugur tersebut. Umar Bin
Khattab mengusulkan agar Al-
Qur’an dikumpulkan dalam satu
mushaf.
Mula-mula Khalifah Abu Bakar
menolak usulan itu dengan
alasan hal itu tidak dilakukan
oleh Rasulullah dan hal itu tidak
diperintahkan oleh Rasulullah.
Tetapi Umar terus membujuk
Khalifah Abu Bakar tentang
perlunya pembukuan Al-Qur’an
dalam satu mushaf, sehingga
Allah membukakan hati Abu
Bakar untuk menerima usulan
umar tersebut. Khalifah Abu
Bakar kemudian memanggil Zaid
Bin Tsabit dan
memerintahkannya untuk
mengumpulkan Al-Qur’an dalam
satu mushaf.
Zaid Bin Tsabit berkata :
“Mengapa anda berdua ingin
melakukan sesuatu yang tidak
pernah dilakukan oleh
Rasulullah ?” Abu Bakar
menjawab : “Demi Allah, itu
baik”, Abu Bakar terus
membujukku sehingga Allah
membukakan hatiku”.
Maka Zaid Bin Tsabit mulai
bekerja mengumpulkan tulisan
manuskrip Al-Qur’an dengan
sangat teliti dan hati-hati. Zaid
Bin Tsabit meneliti hafalan
pemilik catatan Al-Qur’an dan
mensyaratkan harus ada 2
orang saksi yang menyaksikan
bahwa tulisan manuskrip Al-
Qur’an itu ditulis dihadapan
Rasulullah, padahal Zaid Bin
Tsabit sendiri sudah hafal
seluruh Al-Qur’an diluar kepala.
Dengan kerja keras, teliti dan
hati-hati akhirnya seluruh Al-
Qur’an berhasil dikumpulkan
dalam satu mushaf dengan
“tujuh huruf”.
Setelah Abu Bakar wafat,
Mushaf tersebut disimpan oleh
Khalifah penggantinya yaitu
Umar Bin Khattab. Setelah
Khalifah Umar meninggal,
Mushaf tersebut disimpan oleh
Hafsah Binti Umar.
C. Masa Khalifah Usman Bin
Affan ra.
Pada masa pemerintahan
Khalifah Abu Bakar dan Umar
kaum muslimin telah melakukan
penaklukan ke negeri-negeri
diluar jazirah Arab seperti, Syam,
Iraq, Persia dan Mesir. Pada masa
Khalifah Usman penaklukan
masih terus berlangsung.
Ketika terjadi perang
penaklukan Armenia dan
Azerbaijan, diantara mujahidin
yang ikut menyerbu itu adalah
sahabat nabi Huzaifah Bin Al-
Yaman. Beliau melihat banyak
perbedaan diantara pasukan
kaum muslimin dalam cara-cara
membaca Al-Qur’an. Sebagian
bacaan itu bercampur dengan
kesalahan, tetapi masing-masing
mempertahankan dan
bersikukuh berpegang pada
bacaannya masing-masing dan
bahkan sempat saling berselisih
dan saling mengkafirkan.
Riwayat dari Anas, Huzaifah
berkata kepada Usman :
“Selamatkanlah umat ini
sebelum mereka terlibat dalam
perselisihan (masalah kitab suci)
sebagaimana perselisihan
orang-orang Yahudi dan
Nasrani”.
Atsar dari Abu Qalabah berkata :
“Pada masa kekhalifahan Usman
telah terjadi seorang guru qiraat
mengajarkan qiraat kepada
seseorang dan guru yang lain
juga mengajarkan qiraat yang
berbeda kepada anak yang lain.
Dua kelompok anak-anak yang
belajar qiraat ini pada suatu
ketika bertemu dan berselisih
dan hal itu menjalar juga sampai
kepada guru-guru mereka”. Hal
itu akhirnya sampai terdengar
kepada Khalifah Usman, maka ia
berpidato : “Kalian yang ada
dihadapanku teah berselisih
paham dan salah dalam
membaca Al-Qur’an. Penduduk
yang jauh dari kami tentu lebih
besar lagi perselisihan dan
kesalahannya. Bersatulah wahai
sahabat-sahabat Muhammad,
tulislah untuk semua orang satu
imam (mushaf pedoman) saja !”.
Khalifah Usman kemudian
meminjam mushaf yang ada
pada Hafsah binti Umar dan
memerintahkan Zaid bin Tsabit,
Abdullah Bin Zubair, Sa’id Bin
Ash dan Abdurrahman Bin Haris
untuk menyalinnya. Usman
berkata kepada ketiga orang
Quraisy itu : “Bila kalian
berselisih pendapat dengan Zaid
Bin Tsabit tentang sesuatu dari
Al-Qur’an, maka tulislah dengan
logat Quraisy, karena Al-Qur’an
diturunkan dalam bahasa
Quraisy”. Merekapun bekerja
menyalin Mushaf Abu Bakar
menjadi beberapa mushaf.
Setelah mereka selesai
menyalinnya menjadi beberapa
mushaf, Khalifah Usman
mengembalikan mushaf asli
kepada Hafsah. Selanjutnya
Khalifah Usman mengirimkan
kesetiap wilayah, masing-
masing satu mushaf dan
memerintahkan agar semua
manuskrip Al-Qur’an yang
lainnya dibakar.
Ketika penyalinan mushaf telah
selesai, Khalifah Usman menulis
surat kepada semua penduduk
daerah yang isinya : “Aku telah
melakukan yang demikian dan
demikian. Aku telah menghapus
apa yang ada padaku, maka
hapuskanlah apa yang ada
padamu”.
Uraian diatas menunjukkan
bahwa penyalinan mushaf pada
masa Khalifah Usman ditulis
dengan “satu huruf” yaitu
sesuai dengan dialek Quraisy
dan meninggalkan “enam
huruf” yang lainnya, hal itu
untuk keseragaman dan
menghindari perselisihan.
Mushaf Usmani inilah yang
kemudian dinukil turun temurun
secara mutawatir sampai
kepada kita sekarang ini.
Tertib Ayat dan Surah
Tertib susunan ayat Al-Qur’an
menurut jumhur adalah taufiqi
(ketentuan dari Allah) bukan
ijtihadi Rasulullah atau para
penyusun Mushaf Al Qur’an. As
Suyuthi berkata : “Jibril
menurunkan beberapa ayat
kepada Rasulullah dan
menunjukkan kepadanya
tempat dimana ayat-ayat itu
harus diletakkan dalam surah
atau ayat-ayat yang turun
sebelumnya. Lalu Rasulullah
memerintahkan kepada para
penulis wahyu untuk
menuliskannya di tempat
tersebut. Beliau mengatakan
kepada mereka : “Letakkanlah
ayat-ayat ini pada surah yang
didalamnya disebutkan begini
dan begini,” atau “Letakkanlah
ayat ini ditempat anu.”
Mengenai tertib susunan surah,
beberapa sahabat nabi ada yang
mempunyai mushaf pribadi
yang berbeda tertib susunan
surahnya dengan tertib surah
mushaf Usmani. Mushaf Ali
disusun berdasarkan urutan
nuzulnya, Mushaf Ibnu Mas’ud
dimulai dari surah Al-Baqarah
tanpa surah Al-Falaq dan An-
Naas. Mushaf Ubay Bin Ka’ab
dimulai Al-Fatihah, An-Nisa’
kemudian Ali-‘Imran, namun
demikian Mushaf pribadi
sebagian sahabat tersebut tidak
dapat dijadikan pedoman.
Tertib susunan surah yang
disepakati dan umat sudah
Ijma’ (sepakat) adalah tertib
susunan surah mushaf Usman
yang dikerjakan secara resmi
oleh panitia khusus yang terdiri
dari beberapa sahabat nabi
pilihan. Tentang tertib susunan
surah Al-Qur’an, jumhur ulama
mengatakan bahwa tertib
susunannya adalah taufiqi.
Al-Kirmani dalam kitab Al-
Burhan mengatakan : “Tertib
surah seperti yang kita kenal
sekarang ini adalah menurut
Allah pada Lauhful Mahfud, Al-
Qur’an sudah menurut tertib ini.
Dan menurut tertib ini pula Nabi
membacakan dihadapan
Malakikat Jibril setiap tahun di
bulan Ramadhan apa yang telah
dikumpulkannya dari Jibril itu.
Pada tahun ke wafatannya Nabi
membacakannya dihadapan
Jibril dua kali.
As-Suyuthi mengatakan tertib
susunan surah Al-Qur’an itu
taufiqi kecuali surah Al-Anfal
dan At-Taubah, berdasarkan
riwayat Ibnu Abbas : “Aku
bertanya kepada Usman :
‘Apakah yang mendorongmu
mengambil Anfal yang termasuk
katagori masani dan Bara’ah
(At-Taubah) yang termasuk
mi’in untuk kamu gabungkan
keduanya menjadi satu tanpa
kamu tuliskan diantara
keduanya
Bismillahirrahmaanirrahim, dan
kamu pun meletakaannya pada
as-sab’ut tiwal (tujuh surat
panjang) ?’, Usman menjawab :
‘Telah turun kepada Rasulullah
surah-surah yang yang
mempunyai bilangan ayat.
Apabila ada ayat turun
kepadanya, ia panggil beberapa
penulis wahyu dan
mengatakan : ‘Letakkanlah ayat
ini pada surah yang didalamnya
terdapat ayat anu dan anu.’
Surah Anfal termasuk surah
pertama yang turun di Madinah
sedang surah Bara’ah termasuk
yang terakhir diturunkan. Kisah
dalam surah Anfal serupa
dengan kisah dalam surah
Bara’ah, sehingga aku
mengirabahwa surah Bara’ah
adalah bagian dari surah Anfal.
Dan sampai wafatnya Rasulullah
tidak menjelaskan kepada kami
bahwa surah Bara’ah
merupakan bagian dari surah
Anfal. Oleh karena itu, kedua
surah tersebut aku gabungkan
dan diantara keduanya tidak
aku tuliskan
Bismillahirrahmaanirrahim sera
aku meletakkan pula pada as-
sab’ut tiwal.
Surah-surah dan ayat-ayat Al-
Qur’an
1. At-Tiwal : adalah tujuh surat
awal yang panjang-panjang
yaitu : Al-Baqarah, Ali ‘Imran,
An-Nisa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-
A’raf , ketujuh : Al-Anfal dan At-
Taubah sekaligus, sebagian ada
yang mengatakan yang ke-tujuh
surah Yunus.
2. Al-Mi’un : yaitu surah-surah
yang ayat-ayatnya lebih dari
seratur atau sekitar itu.
3. Al-Masani : yaitu surah-surah
yang jumlah ayatnya dibawah
Al-Mi’un. Dinamakan Masani,
karena surah itu diulang-ulang
bacaannya lebih bnayak dari At-
Tiwal dan Al-Mi’un.
4. Al-Mufassal : yaitu surah yang
dimulai dari surah Qaf, ada pula
yang mengatakan dimulai dari
surah Hujarat. Dinamai Mufassal
karena banyaknya pemisahan
fasl (pemisahan) dinatara surah-
surah tersebut dengan
basmallah. Mufassal dibagi
menjadi tiga :
a. Mufassal Tiwal : dimulai dari
surah Qaf atau hujurat sampai
dengan ‘Amma atau Buruj.
b. Mufassal Ausat : dimulai dari
‘Amma atau Buruj sampai
dengan Duha atau Lam Yakun.
c. Mufassal qisar : dimulai dari
Duha atau Lam Yakun sampai
dengan surah terakhir (An-
Naas).
Rasm Usmani
Yang dimaksud dengan rasm
Usmani adalah bentuk tulisan
(khot) Al-Qur’an hasil kerja
beberapa sahabat Nabi pilihan
dalam suatu panitia penyalin
mushaf Al-Qur’an yang diketuai
oleh Zaid Bin Tsabit atas
penunjukan Khalifah Usman.
Mengenai penulisan Al-Qur’an
dengan rasm Usmani ini ada
beberapa pendapat :
1. Rasm (bentuk tulisan) dalam
mushaf Usmani adalah taufiqi
yang wajib dipakai dalam
penulisan Al-Qur’an. Ini
pendapat Ibnul Mubarak dan
gurunya Abdul Azis ad-Dabbag.
2. Rasm Usmani bukan taufiqi,
tapi cara penulisan yang
diterima dan menjadi Ijma’ umat
dan wajib menjadi pegangan
seluruh umat dan tidak boleh
menyalahinya.
3. Rasm Usmani hanyalah istilah
dan tatacara. Tidak ada dalil
agama yang mewajibkan umat
mengikuti satu rasm tertentu
dan tidak ada salahnya jika
menyalahi bila orang telah
mempergunakan rasm tertentu
untuk imla dan rasm itu tersiar
luas diantara mereka. Ini adalah
pendapat Abu Bakar Al-Baqalani.
Jumhur ulama, diantaranya
Imam Malik, Imam Ahmad
melarang penulisan Al-Qur’an
yang menyalahi rasm Usmani.
I’jam (penambahan tanda titik,
dll) Rasm Usmani
Mushaf Usmani tidak memakai
tanda baca titik dan syakal,
karena semata-mata didasarkan
pada watak pembawaan orang-
orang Arab yang masih murni,
sehingga tidak memerlukan
syakal, harokat dan titik. Ketika
Islam sudah menyebar keluar
jazirah Arab dan bahasa Arab
mulai mengalami kerusakan
karena banyaknya percampuran
dengan bahasa non Arab, maka
para penguasa merasa
pentingnya ada perbaikan
penulisan mushaf dengan
syakal, titik, harokat dan lain lain
yang dapat membantu
pembacaan yang benar. Banyak
ulama berpendapat bahwa
orang pertama yang melakukan
hal ini adalah Abul Aswad Ad-
Du’ali, peletak pertama dasar-
dasar kaidah bahasa Arab atas
petunjuk Khalifah Ali Bin Abi
Thalib.
Perbaikan rasm Usmani berjalan
secara bertahap. Pada mulanya
syakal berupa titik : fathah
berupa satu titik diatas awal
huruf, dammah berupa satu titik
diatas akhir huruf dan kasrah
berupa satu titik dibawah awal
huruf. Kemudian terjadi
perubahan penentuan harakat
yang berasal dari huruf dan
itulah yang dilakukan oleh Al-
Khalil. Perubahan itu adalah
fathah adalah dengan tanda
sempang diatas huruf, dammah
dengan wawu kecil diatas huruf
dan tanwin dengan tambahan
tanda serupa (double). Alif yang
dihilangkan dan diganti, pada
tempatnya dituliskan dengan
warna merah. Hamzah yang
dihilangkan dituliskan berupa
hamzah dengan warna merah
tanpa huruf. Pada nun dan
tanwin sebelum huruf ba diberi
tanda iqlab berwarna merah.
Sedang nun dan tanwin sebelum
huruf tekak (halaq) diberi tanda
sukun dengan warna merah.
Nun dan tanwain tidak diberi
tanda apa apa ketika idgam dan
ikkhfa’. Setiap huruf yang harus
dibaca sukun (mati) diberi tanda
sukun dan huruf yang di-idgam-
kan tidak diberi tanda sukun
tetapi huruf sesudahnya diberi
tanda syaddah; keculai huruf ta
sebelum ta, maka sukun tetap
dituliskan.
Para ulama pada mulanya tidak
menyukai usaha perbaikan
tersebut karena khawatir akan
terjadi penambahan dalam Al-
Qur’an, berdasarkan ucapan
Ibnu Mas’ud : “Bersihkan Al-
Qur’an dan jangan
dicampuradukkan dengan
apapun”. Al-Halimi mengatakan :
“Makruh menuliskan perpuluhan,
perlimaan, nama-nama surah
dan bilangan ayat dalam
mushaf” sedangkan pemberian
titik diperbolehkan karena titik
tidak mempunyai bentuk yang
mengacaukan antara yang Al-
Qur’an dengan yang bukan Al-
Qur’an. Titik merupakan
petunjuk atas keadaan sebuah
huruf yang dibaca sehingga
dibolehkan untuk
mempermudah pembacaan.
Kemudian akhirnya itu sampai
kepada hukum boleh dan
bahkan anjuran. Al Hasan dan
Ibnu Sirin keduanya
mengatakan : “Tidak ada
salahnya memberikan titik pada
mushaf”. Rabiah Bin Abi
Abdurrahman mengatakan :
“Tidak mengapa memberi syakal
pada mushaf”. An-Nawawi
mengatakan : “Pemberian titik
dan pensyakalan mushaf itu
dianjurkan (mustahab), karena
ia dapat menjaga mushaf daru
kesalahan dan penyimpangan
(pembacaan)”. Penyempurnaan
itu terus berlanjut hingga kini
telah mencapai puncaknya
dalam bentuk tulisan Arab (Al-
Khattul Araby).
Al-Qur’an Dengan Tujuh Huruf
Nash-nash sunah cukup banyak
yang mengemukakan hadis
mengenai turunnya Al-Qur’an
dengan tujuh huruf,
diantaranya :
Dari Ibnu Abbas : “Rasulullah
berkata : ‘Jibril membacakan (Al-
Qur’an) kepadaku dengan satu
huruf. Kemudian berulang kali
aku mendesak dan meminta
agar huruf itu ditambah dan ia
pun menambahnya kepadaku
sampai tujuh huruf’”.
Dari Ubay Bin Ka’ab : “Ketika
Nabi berada di dekat parit Bani
Gafar, ia didatangi Jibril seraya
mengatakan : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan satu huruf.’
Beliau menjawab : ‘Aku
memohon kepada Allah
ampunan dan maghfirallah-Nya,
karena umatku tidak dapat
melaksanakan perintah itu.’
Kemudian Jibril datang lagi
untuk kedua kalinya dan
berkata : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan dua huruf.’
Nabi menjawab : ‘Aku memohon
kepada Allah ampunan dan
maghfirah-Nya, umatku tidak
kuat melaksanakannya.’ Jibril
datang lagi untuk yang ketiga
kalinya, lalu mengatakan : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan tiga huruf.’
Nabi menjawab : ‘Aku memohon
kepada Allah ampunan dan
maghfirah-Nya, umatku tidak
kuat melaksanakannya.’
Kemudian Jibril datang lagi
untuk yang keempat kalinya
seraya berkata : ‘Allah
memerintahkanmu agar
membacakan Al-Qur’an kepada
umatmu dengan tujuh huruf,
dengan huruf mana saja mereka
membaca, mereka benar.’”
Hadis-hadis berkenaan dengan
Al-Qur’an dengan tujuh huruf
sangat banyak. As-Suyuthi
menyebutkan bahwa hadits-
hadits tersebut diriwayatkan
oleh lebih dari dua puluh orang
sahabat. Abu Ubaid Al-Qasim bin
Salam menetapkan
kemutawatiran hadis mengenai
Al-Qur’an dengan tujuh huruf.
Perbedaan pendapat tentang
pengertian tujuh huruf,
diantaranya :
1. Tujuh macam bahasa dari
bahasa-bahasa Arab mengenai
satu makna yang sama, yaitu
bahasa suku Quraisy, Huzail,
Saqif, Hawasin, Kinanah, Tamim
dan Yaman. Sebagian
memasukkan Asad, Rabi’ah, Sa’d.
Pendapat ini maksudnya satu
kata boleh dibaca berbeda
menurut dialek masing-masing
kabilah diatas selama maknanya
masih tetap sama.
2. Tujuh macam bahasa dari
bahasa-bahasa Arab dengan
mana Al-Qur’an diturunkan,
yaitu : Quraisy, Huzail, Saqif,
Hawasin, Kinanah, Tamim dan
Yaman. Bedanya dengan yang
pendapat pertama adalah
bahasa Al-Qur’an mencakup dari
tujuh bahasa diatas yang paling
fasih dan berterbaran di seluruh
Al-Qur’an
3. Tujuh wajah, yaitu : amr
(perintah), hanyu (larangan),
wa’d (janji), wa’id (ancaman),
jadal (perdebatan), qasas
(cerita) dan amsal
(perumpamaan)
4. Tujuh macam hal yang
didalamnya terjadi ikhtilaf
(perbedaan), yaitu ikhtilaf
dalam : asma’ (kata benda), i’rab
(harakat akhir kata), tasrif,
taqdim (mendahulukan), ibdal
(penggantian), penambahan-
pengurangan dan lahjah (tebal-
tipis, imalah-tidak imalah, idhar
dan idgam).
5. Qiraat Tujuh.
Pendapat pertama adalah
pendapat yang paling kuat dan
banyak diikuti oleh jumhur
ulama.
Hikmah Al-Qur’an dengan tujuh
huruf :
1. Memudahkan bacaan dan
hafalan bagi bangsa yang ummi,
tidak bisa baca tulis, yang setiap
kabilah mempunyai dialek
masing-masing.
2. Bukti kemukjizatan Al-Qur’an
bagi naluri atau watak dasar
kebahasaan orang Arab yang
mana seluruh orang Arab pada
khususnya ditantang untuk
membuat satu surah saja yang
seperti Al-Qur’an, ternyata
seluruh orang Arab tidak
mampu membuatnya.
3. Perbedaan bentuk lafaz pada
sebagian huruf dan kata-kata
memberi peluang penyimpulan
hukum yang berbeda. Para
fukaha dalam menyimpulkan
hukumdan ijtihad ber hujjah
dengan qiraat bagi ketujuh
huruf ini.
TURUNYA AL QUR'AN
II. Turunnya Al-Qur’an
Allah berfirman dalam Al-
Qur’an :
“Bulan Ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan Al-
Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda antara yang
haq dengan yang batil” (QS Al-
Baqarah [2] : 185).
“Sesungguhnya Kami telah
menurunkan (Al-Qur’an) pada
malam lailatul qodar” (QS Al-
Qadr [97] : 1).
“Sesungguhnya Kami
menurunkan (Al-Qur’an) pada
suatu malam yang
diberkahi” (QS Ad-Dukhan [44] :
3)
Ketiga ayat diatas tidak
bertentangan, karena malam
yang diberkahi adalah malam
lailatul qadr dalam bulan
Ramadhan. Tetapi zahir ayat-
ayat ini bertentangan dengan
kenyataan bahwa ayat-ayat Al-
Qur’an turun kepada Rasulullah
tidak selalu dalam waktu malam
dan pada malam lailatul qadr
dan tidak selalu pada bulan
Ramadhan.
Ada 3 (tiga) pendapat tentang
cara turunnya Al-Qur’an :
Pertama : Pendapat Ibnu Abbas
yang menyatakan Al-Qur’an
diturunkan secara langsung dari
Lauhful Mahfudz ke Baitul Izzah
(langit dunia) secara sekaligus
pada malam lailatul qadr di bulan
Ramadhan, kemudian sesudah
itu Al-Qur’an diturunkan dari
Baitul Izzah kepada Rasulullah
secara bertahap selama kurang
lebih 23 tahun.
Kedua : Pendapat Asy-Sya’bi,
seorang tabi’in besar, guru
Imam Abu Hanifah. Yang
dimaksud Al-Qur’an diturunkan
pada malam lailatul qadr yang
diberkahi pada bulan Ramadhan
adalah permulaannya saja,
kemudian turunnya itu berlanjut
sesudah itu secara bertahap
sesuai dengan kejadian dan
peristiwa-peristiwa selama
kurang lebih 23 tahun
Ketiga : Pendapat sebagian
mufasirin, Al-Qur’an diturunkan
ke langit dunia selama 23 malam
lailatul qadr pada masing-
masing tahun. Jadi pada satu
malam lailatul qadr diturunkan
Al-Qur’an untuk masa genap
satu tahun, demikian seterusnya
tiap tahun sampai kurang lebih
23 tahun.
Pendapat pertama dan kedua
dapat dikompromikan dan
pendapat inilah yang dianut
oleh jumhur ulama.
Hikmah turunnya Al-Qur’an
secara bertahap :
1. Menguatkan dan meneguhkan
hati Rasulullah.
2. Mukjizat dan tantangan
3. Mempermudah hafalan dan
pemahaman.
4. Kesesuaian dengan peristiwa-
peristiwa dan pentahapan
penerapan hukum.
5. Membuktikan Al-Qur’an
datang dari sisi Allah. Selama
rentang waktu turunnya Al-
Qur’an yang begitu panjang
tetap ditemui keserasian dan
keterkaitan antar ayat-ayatnya
dan tidak ditemukan
pertentangan sedikitpun
didalamnya.
Ayat yang pertama kali
diturunkan :
1. Ayat yang pertama kali
diturunkan di Makkah adalah
surat Al-Alaq [96] dan yang
pertama kali diturunkan di
Madinah adalah surat Al-Baqarah
[2].
2. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai
peperangan adalah surat Al-Haj
[22] ayat 39.
3. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai khamr
adalah surat Al-Baqarah [2] ayat
219.
4. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai sajdah
(sujud tilawah) adalah surat An-
Najm [53].
5. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Makkah adalah surat
Al-An’am [6] ayat 145.
6. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Madinah adalah
surat Al-Baqarah [2] ayat 173.
Ayat yang terakhir kali
diturunkan :
Ada beberapa pendapat yang
berbeda mengenai ayat mana
yang terkahir diturunkan,
diantaranya :
1. An-Nisa’ [4] ayat 176 tentang
kalalah, berdasarkan atsar dari
Barra’ Bin ‘Azib yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
Muslim.
2. Al-Baqarah [2] ayat 278
tentang riba, berdasarkan atsar
dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary.
3. Al-Baqarah [2] ayat 281,
berdasarkan atsar dari Ibnu
Abbas dan Sa’id Bin Jubair yang
diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan
lain-lain.
4. Al-Baqarah [2] ayat 282
tentang menuliskan hutang,
berdasarkan atsar dari Sa’id Bin
Al Musayyab.
5. At-Taubah [9] ayat 128,
berdasarkan atsar dari Ubay Bin
Ka’ab dalam kitab Al-Mustadrak
6. Ali ‘Imran [3] ayat 195,
berdasarkan atsar dari Ummu
Salamah yang diriwayatkan oleh
Ibn Mardawaih.
7. An-Nisa’ [4] ayat 93 tentang
membunuh seorang mukmin
dengan sengaja, berdasarkan
atsar dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
yang lain.
Pendapat yang paling kuat dan
banyak diikuti jumhur ulama
adalah empat pendapat yang
pertama.
Allah berfirman dalam Al-
Qur’an :
“Bulan Ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan Al-
Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda antara yang
haq dengan yang batil” (QS Al-
Baqarah [2] : 185).
“Sesungguhnya Kami telah
menurunkan (Al-Qur’an) pada
malam lailatul qodar” (QS Al-
Qadr [97] : 1).
“Sesungguhnya Kami
menurunkan (Al-Qur’an) pada
suatu malam yang
diberkahi” (QS Ad-Dukhan [44] :
3)
Ketiga ayat diatas tidak
bertentangan, karena malam
yang diberkahi adalah malam
lailatul qadr dalam bulan
Ramadhan. Tetapi zahir ayat-
ayat ini bertentangan dengan
kenyataan bahwa ayat-ayat Al-
Qur’an turun kepada Rasulullah
tidak selalu dalam waktu malam
dan pada malam lailatul qadr
dan tidak selalu pada bulan
Ramadhan.
Ada 3 (tiga) pendapat tentang
cara turunnya Al-Qur’an :
Pertama : Pendapat Ibnu Abbas
yang menyatakan Al-Qur’an
diturunkan secara langsung dari
Lauhful Mahfudz ke Baitul Izzah
(langit dunia) secara sekaligus
pada malam lailatul qadr di bulan
Ramadhan, kemudian sesudah
itu Al-Qur’an diturunkan dari
Baitul Izzah kepada Rasulullah
secara bertahap selama kurang
lebih 23 tahun.
Kedua : Pendapat Asy-Sya’bi,
seorang tabi’in besar, guru
Imam Abu Hanifah. Yang
dimaksud Al-Qur’an diturunkan
pada malam lailatul qadr yang
diberkahi pada bulan Ramadhan
adalah permulaannya saja,
kemudian turunnya itu berlanjut
sesudah itu secara bertahap
sesuai dengan kejadian dan
peristiwa-peristiwa selama
kurang lebih 23 tahun
Ketiga : Pendapat sebagian
mufasirin, Al-Qur’an diturunkan
ke langit dunia selama 23 malam
lailatul qadr pada masing-
masing tahun. Jadi pada satu
malam lailatul qadr diturunkan
Al-Qur’an untuk masa genap
satu tahun, demikian seterusnya
tiap tahun sampai kurang lebih
23 tahun.
Pendapat pertama dan kedua
dapat dikompromikan dan
pendapat inilah yang dianut
oleh jumhur ulama.
Hikmah turunnya Al-Qur’an
secara bertahap :
1. Menguatkan dan meneguhkan
hati Rasulullah.
2. Mukjizat dan tantangan
3. Mempermudah hafalan dan
pemahaman.
4. Kesesuaian dengan peristiwa-
peristiwa dan pentahapan
penerapan hukum.
5. Membuktikan Al-Qur’an
datang dari sisi Allah. Selama
rentang waktu turunnya Al-
Qur’an yang begitu panjang
tetap ditemui keserasian dan
keterkaitan antar ayat-ayatnya
dan tidak ditemukan
pertentangan sedikitpun
didalamnya.
Ayat yang pertama kali
diturunkan :
1. Ayat yang pertama kali
diturunkan di Makkah adalah
surat Al-Alaq [96] dan yang
pertama kali diturunkan di
Madinah adalah surat Al-Baqarah
[2].
2. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai
peperangan adalah surat Al-Haj
[22] ayat 39.
3. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai khamr
adalah surat Al-Baqarah [2] ayat
219.
4. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai sajdah
(sujud tilawah) adalah surat An-
Najm [53].
5. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Makkah adalah surat
Al-An’am [6] ayat 145.
6. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Madinah adalah
surat Al-Baqarah [2] ayat 173.
Ayat yang terakhir kali
diturunkan :
Ada beberapa pendapat yang
berbeda mengenai ayat mana
yang terkahir diturunkan,
diantaranya :
1. An-Nisa’ [4] ayat 176 tentang
kalalah, berdasarkan atsar dari
Barra’ Bin ‘Azib yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
Muslim.
2. Al-Baqarah [2] ayat 278
tentang riba, berdasarkan atsar
dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary.
3. Al-Baqarah [2] ayat 281,
berdasarkan atsar dari Ibnu
Abbas dan Sa’id Bin Jubair yang
diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan
lain-lain.
4. Al-Baqarah [2] ayat 282
tentang menuliskan hutang,
berdasarkan atsar dari Sa’id Bin
Al Musayyab.
5. At-Taubah [9] ayat 128,
berdasarkan atsar dari Ubay Bin
Ka’ab dalam kitab Al-Mustadrak
6. Ali ‘Imran [3] ayat 195,
berdasarkan atsar dari Ummu
Salamah yang diriwayatkan oleh
Ibn Mardawaih.
7. An-Nisa’ [4] ayat 93 tentang
membunuh seorang mukmin
dengan sengaja, berdasarkan
atsar dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
yang lain.
Pendapat yang paling kuat dan
banyak diikuti jumhur ulama
adalah empat pendapat yang
pertama.
ULUMUL QUR'AN
I. Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah firman / kalam
Allah yang merupakan mukjizat,
diturunkan berupa wahyu
kepada Rasulullah Muhammad
saw. dikumpulkan pada satu
mushaf mulai dari surat Al-
Fatihah sampai surat An-Naas
dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, membaca dan
mempelajarinya nya merupakan
ibadah yang mendapat pahala.
Nama atau sebutan lain bagi Al-
Qur’an :
1. Al-Kitab –buku yang tertulis-
disebutkan dalam QS Ad-Dukhan,
ayat 2 : “Demi Kitab (Al- Qur’an)
yang menjelaskan”
2. Adz-Dzikra –peringatan-
disebutkan dalam QS Al-Hijr, ayat
9 : “Sesungguhnya kamilah yang
menurunkan adz-Dzikra (Al-
Qur’an) dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya”.
3. Al-Qaul –ucapan- disebutkan
dalam QS Al-Qashash ayat 51 :
“Dan sesungguhnya telah kami
turunkan berturut-turut
perkataan ini (Al-Qur’an) kepada
mereka agar mereka mendapat
pelajaran”.
4. Al-Kalam -firman- disebutkan
dalam QS At-Taubah ayat 6 :
“Dan jika diantara orang-orang
musyrikin itu meminta
perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar Kalam Allah (Al-
Qur’an), kemudian antarkanlah
ia ke tempat yang aman
baginya. Demikian itu
disebabkan mereka kaum yang
tidak mengerti”.
5. At-Tanzil –yang diturunkan-
disebutkan dalam QS Asy-
Syu’ara ayat 192 : “Dan
sesungguhnya (Al-Qur’an) ini
benar-benar diturunkan oleh
tuhan semesta alam”.
6. Al-Furqan –pembeda-
disebutkan dalam QS Al-Furqan
ayat 1 : “Maha suci Allah yang
telah menurunkan Al-Furqan (Al-
Qur’an) kepada hamba-Nya, agar
dia memberi peringatan kepada
seluruh alam”.
7. Ar-Ruh –jiwa- disebutkan
dalam QS Asy-Syura ayat 42 :
“Dan demikianlah Kami
wahyukan kepadamu Ruh (Al-
Qur’an) dengan perintah Kami”.
8. Al-Balagh –penyampaian-
disebutkan dalam QS Ibrahim
ayat 52 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penyampaian yang cukup
kepada manusia supaya mereka
diberi peringatan dengan dia”.
9. Al-Basaha’ir –pedoman-
disebutkan dalam QS Al-Jatsiyah
ayat 20 : “(Al-Qur’an) ini adalah
pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang meyakini”.
10. Al-Bayan –penerangan-
disebutkan dalam QS Ali – Imron
ayat 138 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penerangan bagi seluruh
manusia dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang
yang bertaqwa”.
11. An-Nur –cahaya- disebutkan
dalam QS An-Nisa’ ayat 174 :
“Hai manusia sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti
kebenaran dari tuhanmu dan
telah Kami turunkan kepadamu
cahaya (Al-Qur’an) yang terang
benderang”.
12. Al-Huda –petunjuk-
disebutkan dalam QS At-Taubah
ayat 33 : “Dia lah yang telah
mengutus Rasul-Nya (dengan
membawa) petunjuk (Al-Qur’an)
dan agama yang benar”.
Sebutan lain untuk Al-Qur’an
yang berupa sifat :
1. Nur (cahaya) QS An Nisa’ :
174.
2. Huda (petunjuk), syifa’ (obat),
Rahmat dan Mau’izah (nasehat)
QS Yunus : 57.
3. Mubin (yang menerangkan)
QS Al-Maidah : 15.
4. Mubarak (yang diberkati) QS
Al-An’am : 92.
5. Busyra (khabar gembira) QS
Al-Baqoroh : 97.
6. Azis (mulia) QS Fussilat : 41.
7. Majid (yang dihormati) QS Al-
Buruj : 21.
8. Basyir (pembawa khabar
gembira) dan nadzir (pembawa
peringatan) QS Fussilat : 3-4.
Perbedaan Al-Qur’an dengan
Hadis Qudsi :
1. Al-Qur’an adalah mukjizat dan
mengandung tantangan kepada
seluruh manusia dan Jin yang
mereka semua tidak akan dapat
membuat yang serupa dengan
Al-Qur’an walau satu ayat pun.
Sedangkan hadis qudsi bukan
merupakan mukjizat dan tidak
mengandung tantangan.
2. Seluruh isi Al-Qur’an dinukil
secara mutawatir dan qoth’i,
sedangkan hadis qudsi
kebanyakan adalah khabar ahad
yang sebatas dzan (dugaan).
3. Al-Qur’an semuanya berasal
dari Allah baik makna maupun
redaksi lafalnya, sedangkan
hadis qudsi maknanya saja dari
Allah, sedangkan redaksi
lafalnya dari Rasulullah atau dari
periwayat hadis.
4. Perlakuan terhadap Al-Qur’an
yaitu : dilarang menyentuhnya
bagi yang berhadas kecil,
dilarang membacanya bagi yang
ber hadas besar, tidak berlaku
bagi hadis qudsi.
5. Membaca Al-Qur’an setiap
hurufnya mendatangkan pahala,
sedang membaca hadis qudsi
tidak.
Kandungan Al-Qur’an
1. Doktrin I’tikad dan akidah.
2. Hukum-hukum ibadah,
muamalah, munakahat, Uqubat
(sanksi)
3. Hukum halal-haram.
4. Janji (khabar gembira) dan
ancaman (peringatan).
5. Science Ilmiah.
6. Kisah – kisah.
Pem-Wahyu-an Al-Qur’an
Wahyu adalah Kalam Allah yang
diturunkan kepada salah
seorang Nabi/Rasul-Nya,
mengenai hukum syariat dan
sejenisnya, yang bila tersusun
dalam lembaran (luh/mushaf)
disebut sebagai kitab suci.
Cara turunnya wahyu kepada
Rasulullah :
1. Melalui mimpi yang benar
(ru’yah shadiqah)
2. Dihembuskan oleh Malaikat
Jibril kedalam hati Rasulullah.
3. Malaikat Jibril menjelma
sebagai seorang laki-laki yang
menyampaikan wahyu kepada
Rasulullah dengan kata-kata.
4. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuknya yang
asli (mempunyai 600 sayap).
5. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuk seperti
gemerincingnya lonceng. Ini
cara penerimaan wahyu yang
paling berat, sampai-sampai
Rasulullah berpeluh-keringat
ketika menerima wahyu berupa
gemerincingnya lonceng ini.
6. Allah berbicara secara
langsung dari balik tabir (saat
Isra’ Mi’raj). Sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah :
“Dan tiada seorang manusiaa
pun Allah akan berbicara
kepadanya, kecuali dengan
perantaraan wahyu atau dari
balik tabir atau dengan
mengutus utusan (malaikat) lalu
diwahyukan kepadanya dengan
seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki. Dia sungguh Maha
Tinggi dan Maha Bijaksana” (QS
Asy-Syura [42] : 51)
Semua ucapan Rasulullah adalah
kebenaran, jaminan ini
didasarkan pada firman Allah :
“Apa yang diucapkannya itu
tidak lain adalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya” (QS
An-Najm [53] : 4).
“Katakanlah : ‘Tidaklah patut
bagiku untuk menggantikannya
dari pihak diriku sendiri. Aku
tidak mengikuti kecuali yang
diwahyukan kepadaku” (QS
Yunus [10] : 15).
Al-Qur’an adalah firman / kalam
Allah yang merupakan mukjizat,
diturunkan berupa wahyu
kepada Rasulullah Muhammad
saw. dikumpulkan pada satu
mushaf mulai dari surat Al-
Fatihah sampai surat An-Naas
dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, membaca dan
mempelajarinya nya merupakan
ibadah yang mendapat pahala.
Nama atau sebutan lain bagi Al-
Qur’an :
1. Al-Kitab –buku yang tertulis-
disebutkan dalam QS Ad-Dukhan,
ayat 2 : “Demi Kitab (Al- Qur’an)
yang menjelaskan”
2. Adz-Dzikra –peringatan-
disebutkan dalam QS Al-Hijr, ayat
9 : “Sesungguhnya kamilah yang
menurunkan adz-Dzikra (Al-
Qur’an) dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya”.
3. Al-Qaul –ucapan- disebutkan
dalam QS Al-Qashash ayat 51 :
“Dan sesungguhnya telah kami
turunkan berturut-turut
perkataan ini (Al-Qur’an) kepada
mereka agar mereka mendapat
pelajaran”.
4. Al-Kalam -firman- disebutkan
dalam QS At-Taubah ayat 6 :
“Dan jika diantara orang-orang
musyrikin itu meminta
perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar Kalam Allah (Al-
Qur’an), kemudian antarkanlah
ia ke tempat yang aman
baginya. Demikian itu
disebabkan mereka kaum yang
tidak mengerti”.
5. At-Tanzil –yang diturunkan-
disebutkan dalam QS Asy-
Syu’ara ayat 192 : “Dan
sesungguhnya (Al-Qur’an) ini
benar-benar diturunkan oleh
tuhan semesta alam”.
6. Al-Furqan –pembeda-
disebutkan dalam QS Al-Furqan
ayat 1 : “Maha suci Allah yang
telah menurunkan Al-Furqan (Al-
Qur’an) kepada hamba-Nya, agar
dia memberi peringatan kepada
seluruh alam”.
7. Ar-Ruh –jiwa- disebutkan
dalam QS Asy-Syura ayat 42 :
“Dan demikianlah Kami
wahyukan kepadamu Ruh (Al-
Qur’an) dengan perintah Kami”.
8. Al-Balagh –penyampaian-
disebutkan dalam QS Ibrahim
ayat 52 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penyampaian yang cukup
kepada manusia supaya mereka
diberi peringatan dengan dia”.
9. Al-Basaha’ir –pedoman-
disebutkan dalam QS Al-Jatsiyah
ayat 20 : “(Al-Qur’an) ini adalah
pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang meyakini”.
10. Al-Bayan –penerangan-
disebutkan dalam QS Ali – Imron
ayat 138 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penerangan bagi seluruh
manusia dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang
yang bertaqwa”.
11. An-Nur –cahaya- disebutkan
dalam QS An-Nisa’ ayat 174 :
“Hai manusia sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti
kebenaran dari tuhanmu dan
telah Kami turunkan kepadamu
cahaya (Al-Qur’an) yang terang
benderang”.
12. Al-Huda –petunjuk-
disebutkan dalam QS At-Taubah
ayat 33 : “Dia lah yang telah
mengutus Rasul-Nya (dengan
membawa) petunjuk (Al-Qur’an)
dan agama yang benar”.
Sebutan lain untuk Al-Qur’an
yang berupa sifat :
1. Nur (cahaya) QS An Nisa’ :
174.
2. Huda (petunjuk), syifa’ (obat),
Rahmat dan Mau’izah (nasehat)
QS Yunus : 57.
3. Mubin (yang menerangkan)
QS Al-Maidah : 15.
4. Mubarak (yang diberkati) QS
Al-An’am : 92.
5. Busyra (khabar gembira) QS
Al-Baqoroh : 97.
6. Azis (mulia) QS Fussilat : 41.
7. Majid (yang dihormati) QS Al-
Buruj : 21.
8. Basyir (pembawa khabar
gembira) dan nadzir (pembawa
peringatan) QS Fussilat : 3-4.
Perbedaan Al-Qur’an dengan
Hadis Qudsi :
1. Al-Qur’an adalah mukjizat dan
mengandung tantangan kepada
seluruh manusia dan Jin yang
mereka semua tidak akan dapat
membuat yang serupa dengan
Al-Qur’an walau satu ayat pun.
Sedangkan hadis qudsi bukan
merupakan mukjizat dan tidak
mengandung tantangan.
2. Seluruh isi Al-Qur’an dinukil
secara mutawatir dan qoth’i,
sedangkan hadis qudsi
kebanyakan adalah khabar ahad
yang sebatas dzan (dugaan).
3. Al-Qur’an semuanya berasal
dari Allah baik makna maupun
redaksi lafalnya, sedangkan
hadis qudsi maknanya saja dari
Allah, sedangkan redaksi
lafalnya dari Rasulullah atau dari
periwayat hadis.
4. Perlakuan terhadap Al-Qur’an
yaitu : dilarang menyentuhnya
bagi yang berhadas kecil,
dilarang membacanya bagi yang
ber hadas besar, tidak berlaku
bagi hadis qudsi.
5. Membaca Al-Qur’an setiap
hurufnya mendatangkan pahala,
sedang membaca hadis qudsi
tidak.
Kandungan Al-Qur’an
1. Doktrin I’tikad dan akidah.
2. Hukum-hukum ibadah,
muamalah, munakahat, Uqubat
(sanksi)
3. Hukum halal-haram.
4. Janji (khabar gembira) dan
ancaman (peringatan).
5. Science Ilmiah.
6. Kisah – kisah.
Pem-Wahyu-an Al-Qur’an
Wahyu adalah Kalam Allah yang
diturunkan kepada salah
seorang Nabi/Rasul-Nya,
mengenai hukum syariat dan
sejenisnya, yang bila tersusun
dalam lembaran (luh/mushaf)
disebut sebagai kitab suci.
Cara turunnya wahyu kepada
Rasulullah :
1. Melalui mimpi yang benar
(ru’yah shadiqah)
2. Dihembuskan oleh Malaikat
Jibril kedalam hati Rasulullah.
3. Malaikat Jibril menjelma
sebagai seorang laki-laki yang
menyampaikan wahyu kepada
Rasulullah dengan kata-kata.
4. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuknya yang
asli (mempunyai 600 sayap).
5. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuk seperti
gemerincingnya lonceng. Ini
cara penerimaan wahyu yang
paling berat, sampai-sampai
Rasulullah berpeluh-keringat
ketika menerima wahyu berupa
gemerincingnya lonceng ini.
6. Allah berbicara secara
langsung dari balik tabir (saat
Isra’ Mi’raj). Sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah :
“Dan tiada seorang manusiaa
pun Allah akan berbicara
kepadanya, kecuali dengan
perantaraan wahyu atau dari
balik tabir atau dengan
mengutus utusan (malaikat) lalu
diwahyukan kepadanya dengan
seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki. Dia sungguh Maha
Tinggi dan Maha Bijaksana” (QS
Asy-Syura [42] : 51)
Semua ucapan Rasulullah adalah
kebenaran, jaminan ini
didasarkan pada firman Allah :
“Apa yang diucapkannya itu
tidak lain adalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya” (QS
An-Najm [53] : 4).
“Katakanlah : ‘Tidaklah patut
bagiku untuk menggantikannya
dari pihak diriku sendiri. Aku
tidak mengikuti kecuali yang
diwahyukan kepadaku” (QS
Yunus [10] : 15).
TAFSIR SURAH AL JUMUAH AYAT 6-8
TAFSIR SURAH AL-
JU'MUAH, AYAT 6-8.
JENAYAH AGAMA &
MORAL YAHUDI.
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫَﺎﺩُﻭﺍ ﺇِﻥْ ﺯَﻋَﻤْﺘُﻢْ
ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
ﻓَﺘَﻤَﻨَّﻮُﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ 6) )
Katakanlah:` Hai orang-
orang yang menganut
agama Yahudi, jika kamu
mendakwakan bahwa
sesungguhnya kamu sajalah
kekasih Allah bukan
manusia-manusia yang lain,
maka harapkanlah
kematianmu, jika kamu
adalah orang-orang yang
benar `.(QS. 62:6)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
memberi peringatan kepada
orang-orang Yahudi, bahwa
kalau memang mereka
mendakwakan dan menyangka
bahwa mereka sajalah kekasih
dan kesayangan Allah, maka
silahkan memohon kepada
Allah supaya mereka itu cepat-
cepat mati, agar segera
bertemu dengan Tuhan mereka
karena biasanya orang yang
ingin cepat-cepat bertemu
dengan kekasih dan
kesayangannya, ingin cepat-
cepat bebas dari kesudahan
dan kesulitan dunia dan
menempati surga yang penuh
dengan segala macam
kenikmatan.
ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻮْﻧَﻪُ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺑِﻤَﺎ ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ
ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ 7) )
Mereka tiada akan
mengharapkan kematian itu
selama-lamanya disebabkan
kejahatan yang telah
mereka perbuat dengan
tangan mereka sendiri. Dan
Allah Maha Mengetahui akan
orang-orang yang zalim.(QS.
62:7)
TAFSIR : Pada ayat ini, Allah
SWT menegaskan bahwa
penganut-penganut agama
Yahudi tidak akan meminta
cepat-cepat mati, karena
mereka menyadari dan
mengetahui kesalahan mereka,
keadaan mereka yang
bergelimang dosa. Dan kalau
mereka itu betul-betul
menginginkan supaya cepat
mati, pasti akan terlaksana atas
iradah dan kodrat Allah SWT,
dan tertimpalah kepada mereka
itu siksa Allah SWT yang amat
pedih.
Allah SWT sangat mengetahui
orang-orang yang zalim, maka
diberilah balasan yang setimpal.
Sejalan dengan ayat 7 ini,
firman Allah SWT:
ﻗﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﺧﺎﻟﺼﺔ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺘﻤﻨﻮﺍ
ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺻﺎﺩﻗﻴﻦ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu
(menganggap bahwa)
kampung akhirat (surga) itu
khusus untukmu di sisi
Allah, bukan untuk orang
lain, maka inginilah
kematian (mu), jika kamu
memang benar". (Q.S Al
Baqarah: 94)
ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻣُﻠَﺎﻗِﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
8))
Katakanlah:` Sesungguhnya
kematian yang kamu lari
daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu
akan menemui kamu,
kemudian kamu akan
dikembalikan kepada
(Allah), yang mengetahui
yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan `.(QS. 62:8)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
menerangkan bahwa orang-
orang Yahudi sangat takut
menghadapi kematian dan
mereka berusaha
menghindarinya. Karena itu
Allah SWT memerintahkan
kepada Rasulullah agar
menyampaikan kepada mereka
bahwa kematian pasti datang
menemui mereka. Kemudian
mereka dikembalikan kepada
Allah Yang Maha Mengetahui
yang gaib dan yang kelihatan,
baik di langit maupun di bumi.
Maka Allah memberitahukan
kepada mereka segala apa yang
telah mereka kerjakan, lalu
dibalas dengan amal
perbuatannya. Jahat dibalas
dengan jahat, yaitu neraka,
baik dibalas dengan baik yaitu
surga, sebagaimana firman
Allah:
ﻫﻞ ﻳﺠﺰﻭﻥ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ
Artinya:
Mereka tidak dibalas
melainkan dengan apa yang
telah mereka kerjakan. (Q.S
Saba': 33)
dan firman-Nya:
ﻭﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﻣﺎ ﻓﻲ
ﺍﻷﺭﺽ ﻟﻴﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺳﺎﺀﻭﺍ ﺑﻤﺎ
ﻋﻤﻠﻮﺍ ﻭﻳﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺣﺴﻨﻮﺍ
ﺑﺎﻟﺤﺴﻨﻰ
Artinya:
Dan hanya kepunyaan Allah-
lah apa yang ada di langit
dan yang ada di bumi
supaya Dia memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat jahat terhadap apa
yang telah mereka kerjakan
dan memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat baik dengan pahala
yang lebih baik (surga). (Q.S
An Najm: 31)
JU'MUAH, AYAT 6-8.
JENAYAH AGAMA &
MORAL YAHUDI.
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫَﺎﺩُﻭﺍ ﺇِﻥْ ﺯَﻋَﻤْﺘُﻢْ
ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
ﻓَﺘَﻤَﻨَّﻮُﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ 6) )
Katakanlah:` Hai orang-
orang yang menganut
agama Yahudi, jika kamu
mendakwakan bahwa
sesungguhnya kamu sajalah
kekasih Allah bukan
manusia-manusia yang lain,
maka harapkanlah
kematianmu, jika kamu
adalah orang-orang yang
benar `.(QS. 62:6)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
memberi peringatan kepada
orang-orang Yahudi, bahwa
kalau memang mereka
mendakwakan dan menyangka
bahwa mereka sajalah kekasih
dan kesayangan Allah, maka
silahkan memohon kepada
Allah supaya mereka itu cepat-
cepat mati, agar segera
bertemu dengan Tuhan mereka
karena biasanya orang yang
ingin cepat-cepat bertemu
dengan kekasih dan
kesayangannya, ingin cepat-
cepat bebas dari kesudahan
dan kesulitan dunia dan
menempati surga yang penuh
dengan segala macam
kenikmatan.
ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻮْﻧَﻪُ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺑِﻤَﺎ ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ
ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ 7) )
Mereka tiada akan
mengharapkan kematian itu
selama-lamanya disebabkan
kejahatan yang telah
mereka perbuat dengan
tangan mereka sendiri. Dan
Allah Maha Mengetahui akan
orang-orang yang zalim.(QS.
62:7)
TAFSIR : Pada ayat ini, Allah
SWT menegaskan bahwa
penganut-penganut agama
Yahudi tidak akan meminta
cepat-cepat mati, karena
mereka menyadari dan
mengetahui kesalahan mereka,
keadaan mereka yang
bergelimang dosa. Dan kalau
mereka itu betul-betul
menginginkan supaya cepat
mati, pasti akan terlaksana atas
iradah dan kodrat Allah SWT,
dan tertimpalah kepada mereka
itu siksa Allah SWT yang amat
pedih.
Allah SWT sangat mengetahui
orang-orang yang zalim, maka
diberilah balasan yang setimpal.
Sejalan dengan ayat 7 ini,
firman Allah SWT:
ﻗﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﺧﺎﻟﺼﺔ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺘﻤﻨﻮﺍ
ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺻﺎﺩﻗﻴﻦ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu
(menganggap bahwa)
kampung akhirat (surga) itu
khusus untukmu di sisi
Allah, bukan untuk orang
lain, maka inginilah
kematian (mu), jika kamu
memang benar". (Q.S Al
Baqarah: 94)
ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻣُﻠَﺎﻗِﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
8))
Katakanlah:` Sesungguhnya
kematian yang kamu lari
daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu
akan menemui kamu,
kemudian kamu akan
dikembalikan kepada
(Allah), yang mengetahui
yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan `.(QS. 62:8)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
menerangkan bahwa orang-
orang Yahudi sangat takut
menghadapi kematian dan
mereka berusaha
menghindarinya. Karena itu
Allah SWT memerintahkan
kepada Rasulullah agar
menyampaikan kepada mereka
bahwa kematian pasti datang
menemui mereka. Kemudian
mereka dikembalikan kepada
Allah Yang Maha Mengetahui
yang gaib dan yang kelihatan,
baik di langit maupun di bumi.
Maka Allah memberitahukan
kepada mereka segala apa yang
telah mereka kerjakan, lalu
dibalas dengan amal
perbuatannya. Jahat dibalas
dengan jahat, yaitu neraka,
baik dibalas dengan baik yaitu
surga, sebagaimana firman
Allah:
ﻫﻞ ﻳﺠﺰﻭﻥ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ
Artinya:
Mereka tidak dibalas
melainkan dengan apa yang
telah mereka kerjakan. (Q.S
Saba': 33)
dan firman-Nya:
ﻭﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﻣﺎ ﻓﻲ
ﺍﻷﺭﺽ ﻟﻴﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺳﺎﺀﻭﺍ ﺑﻤﺎ
ﻋﻤﻠﻮﺍ ﻭﻳﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺣﺴﻨﻮﺍ
ﺑﺎﻟﺤﺴﻨﻰ
Artinya:
Dan hanya kepunyaan Allah-
lah apa yang ada di langit
dan yang ada di bumi
supaya Dia memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat jahat terhadap apa
yang telah mereka kerjakan
dan memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat baik dengan pahala
yang lebih baik (surga). (Q.S
An Najm: 31)
Kamis, 08 Desember 2011
TAFSIR SURAH AL-BAQOROH AYAT 1 sd 5
Tafsir Surat Al-
Baqarah (Ayat 1-
5)
Surat ini diturunkan di
Madinah (Madaniyyah)
terdiri dari 286 ayat
ﺍﻟﻢ
1. Alif laam miin
Penjelasan Kalimat
Alif laam miin ini adalah
rangkaian huruf
hujaiyah dan surat-
surat Al-Qur’an yang
diawali dengan huruf
seperti ini berjumlah 29
surat.
Umumnya para mufasir
(pakar tafsir) tidak
menjelaskan maksud
huruf-huruf ini dan
cukup mengatakan,
“Hanya Allah yang
mengetahui
maksudnya (Allahu
A’lamu bimurodihi).
Hal itu disebabkan
tidak ada sama sekali
berita valid dari Nabi
Saw mengenai
maksudnya. Bahkan
Abu Bakar dan Ali bin
Thalib menyebutkan
bahwa tidak perlu
mencari tafsiran huruf-
huruf itu karena
bagian dari ayat
mutasyabihat (ayat
yang sulit dijelaskan
dan hanya Allah saja
yang mengetahuinya),
dan cukup menyakini
saja bahwa itu bagian
dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain
sebagian pakar tafsir
menyerahkan
pengertiannya kepada
Allah karena dipandang
Termasuk ayat-ayat
mutasyabihat dan
tidak perlu dikaji lebih
lanjut, karena seperti
komentar as-Sa’di,
pakar tafsir
kontemporer;
“ Tidak perlu dibahas
lebih lanjut karena
tidak adanya berita
valid dengan
menyakinkan bahwa
Allah tidak mungkin
bergurau dan pasti ada
hikmah di balik itu.”
Namun banyak pula
pakar tafsir
menafsirkan huruf-
huruf itu karena
memang nalar akan
selalu mencari rahasia
atau bahkan hikmah di
balik huruf-huruf itu,
Meskipun terkadang
pandangan mereka
berlainan, terkadang
disepakati oleh pakar
lainnya dan
sebagainya. Dan
tampaknya tidak salah
jika ada beberapa
pakar tafsir tradisional
yang mencoba
mengukapkan makna
huruf-huruf itu.
Beberapa Pandangan
Tafsiran Alif Lam Mim
A. Bahwa Allah
memerintahkan untuk
tadabbur sekaligus
memahami Al-Qur’an
dan tidak mungkin ada
kata dalam Al-Qur’an
yang tidak bisa
ditafsirkan karena AL-
Qur’an sendiri selalu
memerintahkannya
seperti anjuran
beberapa ayat:
“Sesungguhnya Kami
menjadikan Al-Qur’an
dalam bahasa Arab
supaya kalian
berfikir.”(QS. Az-
Zukhruf:3)
“ (Al-Qur’an)
diturunkan dengan
(menggunakan) bahasa
arab yang jelas.” (QS.
Asy-Syu’ara: 195)
Bagi sebagian pakar
tafsir yang menyetujui
pandangan ini
munculah beberapa
penafsiran tentang
huruf-huruf ini antara
lain:
1. Huruf-huruf ini biasa
digunakan masyarakat
arab di dalam sajak/
syair/prosa sebagai
penganti kalimat-
kalimat. Namun
pandangan ini
dibantah karena
ketidak tahuan mana
kalimat yang dibuang
dan juga tidak ada
satupun sumber yang
valid baik dari Nabi,
maupun atsar sahabat,
mana kalimat yang
dibuang tersebut dan
apa bentuknya.
2. Huruf- huruf
dimaksudkan sebagai
kalimat yang
menyuarakan
tantangan bagi yang
meragukan Al-Qur’an.
Seakan-akan ada
tantangan untuk
membuat bandingan
Al-Qur’an. Dan
maknanya seperti ini:
“ Huruf Alif Lam Mim ini
bukanlah huruf –huruf
yang asing bagi kalian
yang kalian gunakan
sehari-hari, kalian
sendiri menganggap
diri kalian ahli balaghah
dan fushah
(ahlibahasa; ahli dalam
syair/prosa). Kami lah
yang menciptakan Al-
Qur’an ini, dan cobalah
kalian menciptakan
bandingan Al-Qur’an
itu, dan pastinya kalian
tidak akan mampu
meskipun hanya satu
ayat.”
3. Bahwa huruf-huruf
ini merupakan rumus
yang biasa digunakan
oleh masyarakat arab
waktu itu. Alif itu
tanda atau rumus dari
kalimat Allah, huruf
Lam tanda dari Jibril,
dan Mim tanda dari
kalimat Muhammad.
B. Sebagian
menafsirkanAlif
menunjukan kata ana
(saya/Allah). Lam
menunjukan kata Allah,
dan Mim menunjukan
lebih tahu (A’lamu). Jadi
artinya,” Saya (Allah)
lebih mengetahui
maknanya. “
C. Ada yang
menyebutkan bahwa
huruf-huruf itu
hanyalah nama dari
surat yang
bersangkutan. Seperti
yang dikemukan oleh
pakar tafsir legendaris
Az-Zamaksyari dan
disetujui oleh banyak
pakar tafsir lainnya.
Argumen yang mereka
kemukakan adalah
sebuah hadist:
“ Sesungguhnya
Rasulullah Saw pernah
membaca di shalat
subuh di hari jum’at
Alif Lam Mim (surat)
Sajdah dan (surat) Hal
Ata ‘alal Insan.” (HR.
Bukhari Muslim)
D. Sebagian
menfasirkan sebagai
huruf sumpah (Qasam),
yaitu kalimat sumpah
yang digunakan untuk
menunjukan Ke maha
kemualiaan dan
keagungan Allah Swt.
Jadi huruf-huruf ini jika
diartikan:
“Demi Allah. Kitab ini
tidak ada keraguan
sedikitpun di
dalamnya,”
Huruf laa sendiri (dari
kalimat Laa Raiba Fih)
adalah jawaban kalimat
sumpah (Qasam).
Penafsiran ini
berpedoman pada
riwayat Ikrimah
(seorang tabi’in, murid
Ibnu Abbas) dari
riwayat Ibnu Abi Hatim
dan diriwayatkan pula
oleh ath-Thabari
dengan sanad yang
sahih yang
menyebutkan bahwa
Alif Lam Mim adalah
huruf sumpah.
E. Jika memukingkan
mengabungkan semua
pandangan yang ada,
artinya bisa diartikan
bahwa Alif Lam Mim ini
adalah nama lain dari
surat itu, karena
terkadang satu kata
dalam Al-Qur’an bisa
diartikan dengan
banyak arti. Dan bisa
juga diartikan bahwa
huruf-huruf itu bisa
berarti salah satu dari
sifat-sifat Allah.
Kesimpulan
1. Sebagian pakar yang
tidak menfasirkan
huruf-huruf ini karena
tidak ada satupun
keterangan yang sahih
yang valid mengenai
arti dari huruf-huruf
dan meyerahkan
sepenuhnya
pengertiannya pada
Allah Swt.
2. Sebagian lain
mencoba menafsirkan
huruf-huruf tersebut
karena Al-Qur’an
sendiri selalu
memerintahkan bagi
para peneliti dan
pengkaji Al-Qur’an
untuk tadabbur dan
merenungi maknanya.
Jika ada sebagian ayat
yang tidak bisa
ditafsirkan bagaimana
mungkin bisa tadabbur
dan merenungkan
hikmah dibaliknya.
3. Sekalipun banyak
tafsiran tentang huruf-
huruf itu, namun
jangan dipastikan
bahwa itu adalah
tafsiran yang tepat
atau sebuah
kebenaran. Karena
tafsiran ini masih
dalam kategori zhani
(hanya prasangka
belaka) artinya bisa
mengandung
kebenaran atau salah.
Namun salah disini
bukan berarti dosa,
tapi bisa jadi terbantah
oleh pandangan-
pandangan berikutnya.
4. Ada pandangan
menarik dari pakar
tafsir kontemporer,
Mutawali asy-Sya’rawi,
bahwa kita tidak wajib
mencari jawaban
huruf-huruf seperti ini,
karena hal ini diluar
perintah dasar, yaitu
membaca, taddabur
dan akhirnya
merngamalkannya.
ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ
ﻫُﺪًﻯ ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
2. “ Kitab (Al Quran) ini
tidak ada keraguan
padanya; petunjuk
bagi mereka yang
bertaqwa.”
Arti Kata
( ﺫَﻟِﻚَ ) Kata benda ini
(isim Isyaroh)
meskipun berarti
sesuatu yang jauh,
namun diartikan ini
( ﻫﺬﺍ ) yaitu sesuatu
yang dekat. Ini
menunjukan mulia dan
agungnya Al-Qur’an ini.
ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ Al-Qur’an
(ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ) Tidak ada
keraguaan bahwa Al-
Qur’an berasal dari
Allah Swt yang
diwahyukan kepada
Nabi Saw. Huruf ( ﻻَ )
adalah Laa naïf li jinsi
dan khabarnya wajib
dibuang.
( ﻓِﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ) Petunjuk
menuju kebahagiaan ,
kesuksesan dunia
akhirat
( ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ) Bagi yang
bertakwa, takwa
adalah takut dari azab
Allah kemudian
manifestasi ketakutan
itu diaplikasikan dalam
bentuk banyak
melakukan taat dan
menjauhkan semua
larangannya.
Arti Ayat
Allah Saw memberi
pernyataan bahwa Al-
Qur’an itu adalah kitab
milik-Nya yang
diurunkan kepada Nabi
Saw. Isi Qur’an ini tidak
ada sedikitpun
kepalsuan apalagi
kebohongan bahwa
Qur’an ini bukan dari
Allah. Sebaliknya Al-
Qur’an ini merupakan
kunci sukses, sumber
hidayah, petunjuk bagi
orang yang beriman
dan dan bertakwa
untuk memperoleh
kebahagiaan dunia
akhirat.
Kesimpulan Ayat
1. Menguatkan Iman
kepada Allah Swt itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
dan mempelajari
sunnah Nabi Saw
2. Hidayat atau
meminta petunjuk itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
itu sendiri.
3. Ayat ini menjelaskan
kemuliaan orang yang
bertakwa, jadi orang
yang takwa itu pasti
banyak membaca,
mempelajari, dan
mengkaji Al-Qur’an.
Adapun aplikasi
wejangan Al-Qur’an itu
pastilah akan dimiliko
oleh seseorang yang
disebut dengan
manusia Takwa.
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﻣِﻤَّﺎ
ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨﻔِﻘُﻮﻥَ
2. “(Yaitu) mereka yang
berimankepada yang
ghaibyang mendirikan
shalatdan
menafkahkan
sebahagian rezeki yang
Kami anugerahkan
kepada mereka.”
Arti Ayat
1. Orang yang takwa
itu adalah orang-orang
yang mempercayai
semua ajaran yang
dibawa oelh Nabi Saw.
Baik itu tentang
masalah ghaib seperti
adanya surga, neraka,
hari kiamat dll. Atau
tentang sejarah
generasi sebelumnya,
generasi akan datang
apapun kebaikan atau
keburukan mereka.
2. Orang takwa itu juga
suka mengerjakan
shalat, dan tidak cukup
hanya mengerjakan
saja, namun harus
diperhatikan pula
syarat wajib, atau etika
shalat itu sendiri,
ternasuk anjuran untuk
khusuk. Dengan
demikina shalat itu
nantinya akan menolak
semua keburukan dan
kekejina bagi yang
melaksanakannya.
3. Orang takwa itu juga
menunaikan kewajiban
zakat, sering memberi
sedekah, ringan tangan
membantu kesulitan
orang lain, atau sering
melakukan kebajikan
lainnya. Perintah
mengeluarkan zakat
dan sedekah inipun
hanya sebagian kecil
saja dan bukan seluruh
harta karena rizeki itu
dasarnya milik Allah,
jadi jangan pelit karena
ia bukan milik kita.
ﻭﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ
ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ
ﻭَﺑِﺎﻵﺧِﺮَﺓِ ﻫُﻢْ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ
3. “Dan mereka yang
beriman kepada kitab
(Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu
dan Kitab-Kitab yang
telah diturunkan
sebelummu[, serta
mereka yakin akan
adanya (kehidupan)
akhirat”
Arti Ayat
Orang Mukmin itu
mempercayai
seluruhnya apa yang
dibawa oleh Nabi Saw,
begitu pula beriman
ada kitab-kitab lainnya
yang diturunkan
sebelum Al-Qur’an.
Orang takwa itu
beriman kepada semua
Nabi tanpa terkecuali,
dan tidak disebut
mukmin jika hanya
mempercayai sebagian
dari para Nabi itu.
ﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻬِﻢْ
ﻭَﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
5. “Mereka Itulah yang
tetap mendapat
petunjuk dari Tuhan
mereka, dan merekalah
orang-orang yang
beruntung.”
Arti Ayat
Mereka inilah yang
akan mendapat
kebahagiaan karena
mereka mau
menjalankan semua
perintah Allah Swt dan
mau menjauhi semua
larangan-Nya. Mereka
akan akan menjadi
manusia sukses,
manusia paling
berbahagia baik di
dunia maupun di
akhirat.
Daftar Pustaka
1. Abu Zakariyya,
Ayusarul Tafasir, hal.
16/I
2. Abdurahman As-
Sa’di, Taysirul Karim ar-
Rahman, hal. 26
3. Mustapha al-Adawi,
At-Tashil li Ta’wil At-
Tanzil, hal 146- 149
4. Az-Zamakhsyari, Al-
Kasyaf
5. Ibnu Jarir ath-
Thabari, Tafsir Thabari
Jami’ Al-Bayan ‘an
Ta’wil Ayi Al-Qur’an
6. Syeikh Muatawali
Asy-Sya’rawi, Tafsir
asy-Sya’rawi
7. Prof. Dr. Wahbah
Zuhayli, Tafsir al-Wasith
8. Prof. Dr. Quraish
Shihab, Tafsir Misbah
Vol. I
9. Dr. Hikmat Ibn Yasin,
Tafsir as-Sahih
10. Dr. Muhammad
Thayib Ibrahim, I’rabul
Qur’an
Baqarah (Ayat 1-
5)
Surat ini diturunkan di
Madinah (Madaniyyah)
terdiri dari 286 ayat
ﺍﻟﻢ
1. Alif laam miin
Penjelasan Kalimat
Alif laam miin ini adalah
rangkaian huruf
hujaiyah dan surat-
surat Al-Qur’an yang
diawali dengan huruf
seperti ini berjumlah 29
surat.
Umumnya para mufasir
(pakar tafsir) tidak
menjelaskan maksud
huruf-huruf ini dan
cukup mengatakan,
“Hanya Allah yang
mengetahui
maksudnya (Allahu
A’lamu bimurodihi).
Hal itu disebabkan
tidak ada sama sekali
berita valid dari Nabi
Saw mengenai
maksudnya. Bahkan
Abu Bakar dan Ali bin
Thalib menyebutkan
bahwa tidak perlu
mencari tafsiran huruf-
huruf itu karena
bagian dari ayat
mutasyabihat (ayat
yang sulit dijelaskan
dan hanya Allah saja
yang mengetahuinya),
dan cukup menyakini
saja bahwa itu bagian
dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain
sebagian pakar tafsir
menyerahkan
pengertiannya kepada
Allah karena dipandang
Termasuk ayat-ayat
mutasyabihat dan
tidak perlu dikaji lebih
lanjut, karena seperti
komentar as-Sa’di,
pakar tafsir
kontemporer;
“ Tidak perlu dibahas
lebih lanjut karena
tidak adanya berita
valid dengan
menyakinkan bahwa
Allah tidak mungkin
bergurau dan pasti ada
hikmah di balik itu.”
Namun banyak pula
pakar tafsir
menafsirkan huruf-
huruf itu karena
memang nalar akan
selalu mencari rahasia
atau bahkan hikmah di
balik huruf-huruf itu,
Meskipun terkadang
pandangan mereka
berlainan, terkadang
disepakati oleh pakar
lainnya dan
sebagainya. Dan
tampaknya tidak salah
jika ada beberapa
pakar tafsir tradisional
yang mencoba
mengukapkan makna
huruf-huruf itu.
Beberapa Pandangan
Tafsiran Alif Lam Mim
A. Bahwa Allah
memerintahkan untuk
tadabbur sekaligus
memahami Al-Qur’an
dan tidak mungkin ada
kata dalam Al-Qur’an
yang tidak bisa
ditafsirkan karena AL-
Qur’an sendiri selalu
memerintahkannya
seperti anjuran
beberapa ayat:
“Sesungguhnya Kami
menjadikan Al-Qur’an
dalam bahasa Arab
supaya kalian
berfikir.”(QS. Az-
Zukhruf:3)
“ (Al-Qur’an)
diturunkan dengan
(menggunakan) bahasa
arab yang jelas.” (QS.
Asy-Syu’ara: 195)
Bagi sebagian pakar
tafsir yang menyetujui
pandangan ini
munculah beberapa
penafsiran tentang
huruf-huruf ini antara
lain:
1. Huruf-huruf ini biasa
digunakan masyarakat
arab di dalam sajak/
syair/prosa sebagai
penganti kalimat-
kalimat. Namun
pandangan ini
dibantah karena
ketidak tahuan mana
kalimat yang dibuang
dan juga tidak ada
satupun sumber yang
valid baik dari Nabi,
maupun atsar sahabat,
mana kalimat yang
dibuang tersebut dan
apa bentuknya.
2. Huruf- huruf
dimaksudkan sebagai
kalimat yang
menyuarakan
tantangan bagi yang
meragukan Al-Qur’an.
Seakan-akan ada
tantangan untuk
membuat bandingan
Al-Qur’an. Dan
maknanya seperti ini:
“ Huruf Alif Lam Mim ini
bukanlah huruf –huruf
yang asing bagi kalian
yang kalian gunakan
sehari-hari, kalian
sendiri menganggap
diri kalian ahli balaghah
dan fushah
(ahlibahasa; ahli dalam
syair/prosa). Kami lah
yang menciptakan Al-
Qur’an ini, dan cobalah
kalian menciptakan
bandingan Al-Qur’an
itu, dan pastinya kalian
tidak akan mampu
meskipun hanya satu
ayat.”
3. Bahwa huruf-huruf
ini merupakan rumus
yang biasa digunakan
oleh masyarakat arab
waktu itu. Alif itu
tanda atau rumus dari
kalimat Allah, huruf
Lam tanda dari Jibril,
dan Mim tanda dari
kalimat Muhammad.
B. Sebagian
menafsirkanAlif
menunjukan kata ana
(saya/Allah). Lam
menunjukan kata Allah,
dan Mim menunjukan
lebih tahu (A’lamu). Jadi
artinya,” Saya (Allah)
lebih mengetahui
maknanya. “
C. Ada yang
menyebutkan bahwa
huruf-huruf itu
hanyalah nama dari
surat yang
bersangkutan. Seperti
yang dikemukan oleh
pakar tafsir legendaris
Az-Zamaksyari dan
disetujui oleh banyak
pakar tafsir lainnya.
Argumen yang mereka
kemukakan adalah
sebuah hadist:
“ Sesungguhnya
Rasulullah Saw pernah
membaca di shalat
subuh di hari jum’at
Alif Lam Mim (surat)
Sajdah dan (surat) Hal
Ata ‘alal Insan.” (HR.
Bukhari Muslim)
D. Sebagian
menfasirkan sebagai
huruf sumpah (Qasam),
yaitu kalimat sumpah
yang digunakan untuk
menunjukan Ke maha
kemualiaan dan
keagungan Allah Swt.
Jadi huruf-huruf ini jika
diartikan:
“Demi Allah. Kitab ini
tidak ada keraguan
sedikitpun di
dalamnya,”
Huruf laa sendiri (dari
kalimat Laa Raiba Fih)
adalah jawaban kalimat
sumpah (Qasam).
Penafsiran ini
berpedoman pada
riwayat Ikrimah
(seorang tabi’in, murid
Ibnu Abbas) dari
riwayat Ibnu Abi Hatim
dan diriwayatkan pula
oleh ath-Thabari
dengan sanad yang
sahih yang
menyebutkan bahwa
Alif Lam Mim adalah
huruf sumpah.
E. Jika memukingkan
mengabungkan semua
pandangan yang ada,
artinya bisa diartikan
bahwa Alif Lam Mim ini
adalah nama lain dari
surat itu, karena
terkadang satu kata
dalam Al-Qur’an bisa
diartikan dengan
banyak arti. Dan bisa
juga diartikan bahwa
huruf-huruf itu bisa
berarti salah satu dari
sifat-sifat Allah.
Kesimpulan
1. Sebagian pakar yang
tidak menfasirkan
huruf-huruf ini karena
tidak ada satupun
keterangan yang sahih
yang valid mengenai
arti dari huruf-huruf
dan meyerahkan
sepenuhnya
pengertiannya pada
Allah Swt.
2. Sebagian lain
mencoba menafsirkan
huruf-huruf tersebut
karena Al-Qur’an
sendiri selalu
memerintahkan bagi
para peneliti dan
pengkaji Al-Qur’an
untuk tadabbur dan
merenungi maknanya.
Jika ada sebagian ayat
yang tidak bisa
ditafsirkan bagaimana
mungkin bisa tadabbur
dan merenungkan
hikmah dibaliknya.
3. Sekalipun banyak
tafsiran tentang huruf-
huruf itu, namun
jangan dipastikan
bahwa itu adalah
tafsiran yang tepat
atau sebuah
kebenaran. Karena
tafsiran ini masih
dalam kategori zhani
(hanya prasangka
belaka) artinya bisa
mengandung
kebenaran atau salah.
Namun salah disini
bukan berarti dosa,
tapi bisa jadi terbantah
oleh pandangan-
pandangan berikutnya.
4. Ada pandangan
menarik dari pakar
tafsir kontemporer,
Mutawali asy-Sya’rawi,
bahwa kita tidak wajib
mencari jawaban
huruf-huruf seperti ini,
karena hal ini diluar
perintah dasar, yaitu
membaca, taddabur
dan akhirnya
merngamalkannya.
ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ
ﻫُﺪًﻯ ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
2. “ Kitab (Al Quran) ini
tidak ada keraguan
padanya; petunjuk
bagi mereka yang
bertaqwa.”
Arti Kata
( ﺫَﻟِﻚَ ) Kata benda ini
(isim Isyaroh)
meskipun berarti
sesuatu yang jauh,
namun diartikan ini
( ﻫﺬﺍ ) yaitu sesuatu
yang dekat. Ini
menunjukan mulia dan
agungnya Al-Qur’an ini.
ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ Al-Qur’an
(ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ) Tidak ada
keraguaan bahwa Al-
Qur’an berasal dari
Allah Swt yang
diwahyukan kepada
Nabi Saw. Huruf ( ﻻَ )
adalah Laa naïf li jinsi
dan khabarnya wajib
dibuang.
( ﻓِﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ) Petunjuk
menuju kebahagiaan ,
kesuksesan dunia
akhirat
( ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ) Bagi yang
bertakwa, takwa
adalah takut dari azab
Allah kemudian
manifestasi ketakutan
itu diaplikasikan dalam
bentuk banyak
melakukan taat dan
menjauhkan semua
larangannya.
Arti Ayat
Allah Saw memberi
pernyataan bahwa Al-
Qur’an itu adalah kitab
milik-Nya yang
diurunkan kepada Nabi
Saw. Isi Qur’an ini tidak
ada sedikitpun
kepalsuan apalagi
kebohongan bahwa
Qur’an ini bukan dari
Allah. Sebaliknya Al-
Qur’an ini merupakan
kunci sukses, sumber
hidayah, petunjuk bagi
orang yang beriman
dan dan bertakwa
untuk memperoleh
kebahagiaan dunia
akhirat.
Kesimpulan Ayat
1. Menguatkan Iman
kepada Allah Swt itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
dan mempelajari
sunnah Nabi Saw
2. Hidayat atau
meminta petunjuk itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
itu sendiri.
3. Ayat ini menjelaskan
kemuliaan orang yang
bertakwa, jadi orang
yang takwa itu pasti
banyak membaca,
mempelajari, dan
mengkaji Al-Qur’an.
Adapun aplikasi
wejangan Al-Qur’an itu
pastilah akan dimiliko
oleh seseorang yang
disebut dengan
manusia Takwa.
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﻣِﻤَّﺎ
ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨﻔِﻘُﻮﻥَ
2. “(Yaitu) mereka yang
berimankepada yang
ghaibyang mendirikan
shalatdan
menafkahkan
sebahagian rezeki yang
Kami anugerahkan
kepada mereka.”
Arti Ayat
1. Orang yang takwa
itu adalah orang-orang
yang mempercayai
semua ajaran yang
dibawa oelh Nabi Saw.
Baik itu tentang
masalah ghaib seperti
adanya surga, neraka,
hari kiamat dll. Atau
tentang sejarah
generasi sebelumnya,
generasi akan datang
apapun kebaikan atau
keburukan mereka.
2. Orang takwa itu juga
suka mengerjakan
shalat, dan tidak cukup
hanya mengerjakan
saja, namun harus
diperhatikan pula
syarat wajib, atau etika
shalat itu sendiri,
ternasuk anjuran untuk
khusuk. Dengan
demikina shalat itu
nantinya akan menolak
semua keburukan dan
kekejina bagi yang
melaksanakannya.
3. Orang takwa itu juga
menunaikan kewajiban
zakat, sering memberi
sedekah, ringan tangan
membantu kesulitan
orang lain, atau sering
melakukan kebajikan
lainnya. Perintah
mengeluarkan zakat
dan sedekah inipun
hanya sebagian kecil
saja dan bukan seluruh
harta karena rizeki itu
dasarnya milik Allah,
jadi jangan pelit karena
ia bukan milik kita.
ﻭﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ
ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ
ﻭَﺑِﺎﻵﺧِﺮَﺓِ ﻫُﻢْ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ
3. “Dan mereka yang
beriman kepada kitab
(Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu
dan Kitab-Kitab yang
telah diturunkan
sebelummu[, serta
mereka yakin akan
adanya (kehidupan)
akhirat”
Arti Ayat
Orang Mukmin itu
mempercayai
seluruhnya apa yang
dibawa oleh Nabi Saw,
begitu pula beriman
ada kitab-kitab lainnya
yang diturunkan
sebelum Al-Qur’an.
Orang takwa itu
beriman kepada semua
Nabi tanpa terkecuali,
dan tidak disebut
mukmin jika hanya
mempercayai sebagian
dari para Nabi itu.
ﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻬِﻢْ
ﻭَﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
5. “Mereka Itulah yang
tetap mendapat
petunjuk dari Tuhan
mereka, dan merekalah
orang-orang yang
beruntung.”
Arti Ayat
Mereka inilah yang
akan mendapat
kebahagiaan karena
mereka mau
menjalankan semua
perintah Allah Swt dan
mau menjauhi semua
larangan-Nya. Mereka
akan akan menjadi
manusia sukses,
manusia paling
berbahagia baik di
dunia maupun di
akhirat.
Daftar Pustaka
1. Abu Zakariyya,
Ayusarul Tafasir, hal.
16/I
2. Abdurahman As-
Sa’di, Taysirul Karim ar-
Rahman, hal. 26
3. Mustapha al-Adawi,
At-Tashil li Ta’wil At-
Tanzil, hal 146- 149
4. Az-Zamakhsyari, Al-
Kasyaf
5. Ibnu Jarir ath-
Thabari, Tafsir Thabari
Jami’ Al-Bayan ‘an
Ta’wil Ayi Al-Qur’an
6. Syeikh Muatawali
Asy-Sya’rawi, Tafsir
asy-Sya’rawi
7. Prof. Dr. Wahbah
Zuhayli, Tafsir al-Wasith
8. Prof. Dr. Quraish
Shihab, Tafsir Misbah
Vol. I
9. Dr. Hikmat Ibn Yasin,
Tafsir as-Sahih
10. Dr. Muhammad
Thayib Ibrahim, I’rabul
Qur’an
Langganan:
Postingan (Atom)