Jumat, 09 Desember 2011

TURUNYA AL QUR'AN

II. Turunnya Al-Qur’an
Allah berfirman dalam Al-
Qur’an :
“Bulan Ramadhan, bulan yang
didalamnya diturunkan Al-
Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda antara yang
haq dengan yang batil” (QS Al-
Baqarah [2] : 185).
“Sesungguhnya Kami telah
menurunkan (Al-Qur’an) pada
malam lailatul qodar” (QS Al-
Qadr [97] : 1).
“Sesungguhnya Kami
menurunkan (Al-Qur’an) pada
suatu malam yang
diberkahi” (QS Ad-Dukhan [44] :
3)
Ketiga ayat diatas tidak
bertentangan, karena malam
yang diberkahi adalah malam
lailatul qadr dalam bulan
Ramadhan. Tetapi zahir ayat-
ayat ini bertentangan dengan
kenyataan bahwa ayat-ayat Al-
Qur’an turun kepada Rasulullah
tidak selalu dalam waktu malam
dan pada malam lailatul qadr
dan tidak selalu pada bulan
Ramadhan.
Ada 3 (tiga) pendapat tentang
cara turunnya Al-Qur’an :
Pertama : Pendapat Ibnu Abbas
yang menyatakan Al-Qur’an
diturunkan secara langsung dari
Lauhful Mahfudz ke Baitul Izzah
(langit dunia) secara sekaligus
pada malam lailatul qadr di bulan
Ramadhan, kemudian sesudah
itu Al-Qur’an diturunkan dari
Baitul Izzah kepada Rasulullah
secara bertahap selama kurang
lebih 23 tahun.
Kedua : Pendapat Asy-Sya’bi,
seorang tabi’in besar, guru
Imam Abu Hanifah. Yang
dimaksud Al-Qur’an diturunkan
pada malam lailatul qadr yang
diberkahi pada bulan Ramadhan
adalah permulaannya saja,
kemudian turunnya itu berlanjut
sesudah itu secara bertahap
sesuai dengan kejadian dan
peristiwa-peristiwa selama
kurang lebih 23 tahun
Ketiga : Pendapat sebagian
mufasirin, Al-Qur’an diturunkan
ke langit dunia selama 23 malam
lailatul qadr pada masing-
masing tahun. Jadi pada satu
malam lailatul qadr diturunkan
Al-Qur’an untuk masa genap
satu tahun, demikian seterusnya
tiap tahun sampai kurang lebih
23 tahun.
Pendapat pertama dan kedua
dapat dikompromikan dan
pendapat inilah yang dianut
oleh jumhur ulama.
Hikmah turunnya Al-Qur’an
secara bertahap :
1. Menguatkan dan meneguhkan
hati Rasulullah.
2. Mukjizat dan tantangan
3. Mempermudah hafalan dan
pemahaman.
4. Kesesuaian dengan peristiwa-
peristiwa dan pentahapan
penerapan hukum.
5. Membuktikan Al-Qur’an
datang dari sisi Allah. Selama
rentang waktu turunnya Al-
Qur’an yang begitu panjang
tetap ditemui keserasian dan
keterkaitan antar ayat-ayatnya
dan tidak ditemukan
pertentangan sedikitpun
didalamnya.
Ayat yang pertama kali
diturunkan :
1. Ayat yang pertama kali
diturunkan di Makkah adalah
surat Al-Alaq [96] dan yang
pertama kali diturunkan di
Madinah adalah surat Al-Baqarah
[2].
2. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai
peperangan adalah surat Al-Haj
[22] ayat 39.
3. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai khamr
adalah surat Al-Baqarah [2] ayat
219.
4. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai sajdah
(sujud tilawah) adalah surat An-
Najm [53].
5. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Makkah adalah surat
Al-An’am [6] ayat 145.
6. Ayat yang pertama kali
diturunkan mengenai mengatur
makanan di Madinah adalah
surat Al-Baqarah [2] ayat 173.
Ayat yang terakhir kali
diturunkan :
Ada beberapa pendapat yang
berbeda mengenai ayat mana
yang terkahir diturunkan,
diantaranya :
1. An-Nisa’ [4] ayat 176 tentang
kalalah, berdasarkan atsar dari
Barra’ Bin ‘Azib yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
Muslim.
2. Al-Baqarah [2] ayat 278
tentang riba, berdasarkan atsar
dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary.
3. Al-Baqarah [2] ayat 281,
berdasarkan atsar dari Ibnu
Abbas dan Sa’id Bin Jubair yang
diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan
lain-lain.
4. Al-Baqarah [2] ayat 282
tentang menuliskan hutang,
berdasarkan atsar dari Sa’id Bin
Al Musayyab.
5. At-Taubah [9] ayat 128,
berdasarkan atsar dari Ubay Bin
Ka’ab dalam kitab Al-Mustadrak
6. Ali ‘Imran [3] ayat 195,
berdasarkan atsar dari Ummu
Salamah yang diriwayatkan oleh
Ibn Mardawaih.
7. An-Nisa’ [4] ayat 93 tentang
membunuh seorang mukmin
dengan sengaja, berdasarkan
atsar dari Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhary dan
yang lain.
Pendapat yang paling kuat dan
banyak diikuti jumhur ulama
adalah empat pendapat yang
pertama.

ULUMUL QUR'AN

I. Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah firman / kalam
Allah yang merupakan mukjizat,
diturunkan berupa wahyu
kepada Rasulullah Muhammad
saw. dikumpulkan pada satu
mushaf mulai dari surat Al-
Fatihah sampai surat An-Naas
dan dinukil kepada kita secara
mutawatir, membaca dan
mempelajarinya nya merupakan
ibadah yang mendapat pahala.
Nama atau sebutan lain bagi Al-
Qur’an :
1. Al-Kitab –buku yang tertulis-
disebutkan dalam QS Ad-Dukhan,
ayat 2 : “Demi Kitab (Al- Qur’an)
yang menjelaskan”
2. Adz-Dzikra –peringatan-
disebutkan dalam QS Al-Hijr, ayat
9 : “Sesungguhnya kamilah yang
menurunkan adz-Dzikra (Al-
Qur’an) dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya”.
3. Al-Qaul –ucapan- disebutkan
dalam QS Al-Qashash ayat 51 :
“Dan sesungguhnya telah kami
turunkan berturut-turut
perkataan ini (Al-Qur’an) kepada
mereka agar mereka mendapat
pelajaran”.
4. Al-Kalam -firman- disebutkan
dalam QS At-Taubah ayat 6 :
“Dan jika diantara orang-orang
musyrikin itu meminta
perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar Kalam Allah (Al-
Qur’an), kemudian antarkanlah
ia ke tempat yang aman
baginya. Demikian itu
disebabkan mereka kaum yang
tidak mengerti”.
5. At-Tanzil –yang diturunkan-
disebutkan dalam QS Asy-
Syu’ara ayat 192 : “Dan
sesungguhnya (Al-Qur’an) ini
benar-benar diturunkan oleh
tuhan semesta alam”.
6. Al-Furqan –pembeda-
disebutkan dalam QS Al-Furqan
ayat 1 : “Maha suci Allah yang
telah menurunkan Al-Furqan (Al-
Qur’an) kepada hamba-Nya, agar
dia memberi peringatan kepada
seluruh alam”.
7. Ar-Ruh –jiwa- disebutkan
dalam QS Asy-Syura ayat 42 :
“Dan demikianlah Kami
wahyukan kepadamu Ruh (Al-
Qur’an) dengan perintah Kami”.
8. Al-Balagh –penyampaian-
disebutkan dalam QS Ibrahim
ayat 52 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penyampaian yang cukup
kepada manusia supaya mereka
diberi peringatan dengan dia”.
9. Al-Basaha’ir –pedoman-
disebutkan dalam QS Al-Jatsiyah
ayat 20 : “(Al-Qur’an) ini adalah
pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum
yang meyakini”.
10. Al-Bayan –penerangan-
disebutkan dalam QS Ali – Imron
ayat 138 : “(Al-Qur’an) ini adalah
penerangan bagi seluruh
manusia dan petunjuk serta
pelajaran bagi orang-orang
yang bertaqwa”.
11. An-Nur –cahaya- disebutkan
dalam QS An-Nisa’ ayat 174 :
“Hai manusia sesungguhnya
telah datang kepadamu bukti
kebenaran dari tuhanmu dan
telah Kami turunkan kepadamu
cahaya (Al-Qur’an) yang terang
benderang”.
12. Al-Huda –petunjuk-
disebutkan dalam QS At-Taubah
ayat 33 : “Dia lah yang telah
mengutus Rasul-Nya (dengan
membawa) petunjuk (Al-Qur’an)
dan agama yang benar”.
Sebutan lain untuk Al-Qur’an
yang berupa sifat :
1. Nur (cahaya) QS An Nisa’ :
174.
2. Huda (petunjuk), syifa’ (obat),
Rahmat dan Mau’izah (nasehat)
QS Yunus : 57.
3. Mubin (yang menerangkan)
QS Al-Maidah : 15.
4. Mubarak (yang diberkati) QS
Al-An’am : 92.
5. Busyra (khabar gembira) QS
Al-Baqoroh : 97.
6. Azis (mulia) QS Fussilat : 41.
7. Majid (yang dihormati) QS Al-
Buruj : 21.
8. Basyir (pembawa khabar
gembira) dan nadzir (pembawa
peringatan) QS Fussilat : 3-4.
Perbedaan Al-Qur’an dengan
Hadis Qudsi :
1. Al-Qur’an adalah mukjizat dan
mengandung tantangan kepada
seluruh manusia dan Jin yang
mereka semua tidak akan dapat
membuat yang serupa dengan
Al-Qur’an walau satu ayat pun.
Sedangkan hadis qudsi bukan
merupakan mukjizat dan tidak
mengandung tantangan.
2. Seluruh isi Al-Qur’an dinukil
secara mutawatir dan qoth’i,
sedangkan hadis qudsi
kebanyakan adalah khabar ahad
yang sebatas dzan (dugaan).
3. Al-Qur’an semuanya berasal
dari Allah baik makna maupun
redaksi lafalnya, sedangkan
hadis qudsi maknanya saja dari
Allah, sedangkan redaksi
lafalnya dari Rasulullah atau dari
periwayat hadis.
4. Perlakuan terhadap Al-Qur’an
yaitu : dilarang menyentuhnya
bagi yang berhadas kecil,
dilarang membacanya bagi yang
ber hadas besar, tidak berlaku
bagi hadis qudsi.
5. Membaca Al-Qur’an setiap
hurufnya mendatangkan pahala,
sedang membaca hadis qudsi
tidak.
Kandungan Al-Qur’an
1. Doktrin I’tikad dan akidah.
2. Hukum-hukum ibadah,
muamalah, munakahat, Uqubat
(sanksi)
3. Hukum halal-haram.
4. Janji (khabar gembira) dan
ancaman (peringatan).
5. Science Ilmiah.
6. Kisah – kisah.
Pem-Wahyu-an Al-Qur’an
Wahyu adalah Kalam Allah yang
diturunkan kepada salah
seorang Nabi/Rasul-Nya,
mengenai hukum syariat dan
sejenisnya, yang bila tersusun
dalam lembaran (luh/mushaf)
disebut sebagai kitab suci.
Cara turunnya wahyu kepada
Rasulullah :
1. Melalui mimpi yang benar
(ru’yah shadiqah)
2. Dihembuskan oleh Malaikat
Jibril kedalam hati Rasulullah.
3. Malaikat Jibril menjelma
sebagai seorang laki-laki yang
menyampaikan wahyu kepada
Rasulullah dengan kata-kata.
4. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuknya yang
asli (mempunyai 600 sayap).
5. Malaikat Jibril menyampaikan
wahyu dalam bentuk seperti
gemerincingnya lonceng. Ini
cara penerimaan wahyu yang
paling berat, sampai-sampai
Rasulullah berpeluh-keringat
ketika menerima wahyu berupa
gemerincingnya lonceng ini.
6. Allah berbicara secara
langsung dari balik tabir (saat
Isra’ Mi’raj). Sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah :
“Dan tiada seorang manusiaa
pun Allah akan berbicara
kepadanya, kecuali dengan
perantaraan wahyu atau dari
balik tabir atau dengan
mengutus utusan (malaikat) lalu
diwahyukan kepadanya dengan
seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki. Dia sungguh Maha
Tinggi dan Maha Bijaksana” (QS
Asy-Syura [42] : 51)
Semua ucapan Rasulullah adalah
kebenaran, jaminan ini
didasarkan pada firman Allah :
“Apa yang diucapkannya itu
tidak lain adalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya” (QS
An-Najm [53] : 4).
“Katakanlah : ‘Tidaklah patut
bagiku untuk menggantikannya
dari pihak diriku sendiri. Aku
tidak mengikuti kecuali yang
diwahyukan kepadaku” (QS
Yunus [10] : 15).

TAFSIR SURAH AL JUMUAH AYAT 6-8

TAFSIR SURAH AL-
JU'MUAH, AYAT 6-8.
JENAYAH AGAMA &
MORAL YAHUDI.
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫَﺎﺩُﻭﺍ ﺇِﻥْ ﺯَﻋَﻤْﺘُﻢْ
ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ
ﻓَﺘَﻤَﻨَّﻮُﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ 6) )
Katakanlah:` Hai orang-
orang yang menganut
agama Yahudi, jika kamu
mendakwakan bahwa
sesungguhnya kamu sajalah
kekasih Allah bukan
manusia-manusia yang lain,
maka harapkanlah
kematianmu, jika kamu
adalah orang-orang yang
benar `.(QS. 62:6)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
memberi peringatan kepada
orang-orang Yahudi, bahwa
kalau memang mereka
mendakwakan dan menyangka
bahwa mereka sajalah kekasih
dan kesayangan Allah, maka
silahkan memohon kepada
Allah supaya mereka itu cepat-
cepat mati, agar segera
bertemu dengan Tuhan mereka
karena biasanya orang yang
ingin cepat-cepat bertemu
dengan kekasih dan
kesayangannya, ingin cepat-
cepat bebas dari kesudahan
dan kesulitan dunia dan
menempati surga yang penuh
dengan segala macam
kenikmatan.
ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻮْﻧَﻪُ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺑِﻤَﺎ ﻗَﺪَّﻣَﺖْ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ
ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ 7) )
Mereka tiada akan
mengharapkan kematian itu
selama-lamanya disebabkan
kejahatan yang telah
mereka perbuat dengan
tangan mereka sendiri. Dan
Allah Maha Mengetahui akan
orang-orang yang zalim.(QS.
62:7)
TAFSIR : Pada ayat ini, Allah
SWT menegaskan bahwa
penganut-penganut agama
Yahudi tidak akan meminta
cepat-cepat mati, karena
mereka menyadari dan
mengetahui kesalahan mereka,
keadaan mereka yang
bergelimang dosa. Dan kalau
mereka itu betul-betul
menginginkan supaya cepat
mati, pasti akan terlaksana atas
iradah dan kodrat Allah SWT,
dan tertimpalah kepada mereka
itu siksa Allah SWT yang amat
pedih.
Allah SWT sangat mengetahui
orang-orang yang zalim, maka
diberilah balasan yang setimpal.
Sejalan dengan ayat 7 ini,
firman Allah SWT:
ﻗﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻜﻢ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻋﻨﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﺧﺎﻟﺼﺔ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺘﻤﻨﻮﺍ
ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺻﺎﺩﻗﻴﻦ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu
(menganggap bahwa)
kampung akhirat (surga) itu
khusus untukmu di sisi
Allah, bukan untuk orang
lain, maka inginilah
kematian (mu), jika kamu
memang benar". (Q.S Al
Baqarah: 94)
ﻗُﻞْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﻔِﺮُّﻭﻥَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻣُﻠَﺎﻗِﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺗُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺎﻟِﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻨَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
8))
Katakanlah:` Sesungguhnya
kematian yang kamu lari
daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu
akan menemui kamu,
kemudian kamu akan
dikembalikan kepada
(Allah), yang mengetahui
yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu
apa yang telah kamu
kerjakan `.(QS. 62:8)
TAFSIR: Pada ayat ini, Allah SWT
menerangkan bahwa orang-
orang Yahudi sangat takut
menghadapi kematian dan
mereka berusaha
menghindarinya. Karena itu
Allah SWT memerintahkan
kepada Rasulullah agar
menyampaikan kepada mereka
bahwa kematian pasti datang
menemui mereka. Kemudian
mereka dikembalikan kepada
Allah Yang Maha Mengetahui
yang gaib dan yang kelihatan,
baik di langit maupun di bumi.
Maka Allah memberitahukan
kepada mereka segala apa yang
telah mereka kerjakan, lalu
dibalas dengan amal
perbuatannya. Jahat dibalas
dengan jahat, yaitu neraka,
baik dibalas dengan baik yaitu
surga, sebagaimana firman
Allah:
ﻫﻞ ﻳﺠﺰﻭﻥ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ
Artinya:
Mereka tidak dibalas
melainkan dengan apa yang
telah mereka kerjakan. (Q.S
Saba': 33)
dan firman-Nya:
ﻭﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﻣﺎ ﻓﻲ
ﺍﻷﺭﺽ ﻟﻴﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺳﺎﺀﻭﺍ ﺑﻤﺎ
ﻋﻤﻠﻮﺍ ﻭﻳﺠﺰﻱ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺃﺣﺴﻨﻮﺍ
ﺑﺎﻟﺤﺴﻨﻰ
Artinya:
Dan hanya kepunyaan Allah-
lah apa yang ada di langit
dan yang ada di bumi
supaya Dia memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat jahat terhadap apa
yang telah mereka kerjakan
dan memberi balasan
kepada orang-orang yang
berbuat baik dengan pahala
yang lebih baik (surga). (Q.S
An Najm: 31)

Kamis, 08 Desember 2011

TAFSIR SURAH AL-BAQOROH AYAT 1 sd 5

Tafsir Surat Al-
Baqarah (Ayat 1-
5)
Surat ini diturunkan di
Madinah (Madaniyyah)
terdiri dari 286 ayat
ﺍﻟﻢ
1. Alif laam miin
Penjelasan Kalimat
Alif laam miin ini adalah
rangkaian huruf
hujaiyah dan surat-
surat Al-Qur’an yang
diawali dengan huruf
seperti ini berjumlah 29
surat.
Umumnya para mufasir
(pakar tafsir) tidak
menjelaskan maksud
huruf-huruf ini dan
cukup mengatakan,
“Hanya Allah yang
mengetahui
maksudnya (Allahu
A’lamu bimurodihi).
Hal itu disebabkan
tidak ada sama sekali
berita valid dari Nabi
Saw mengenai
maksudnya. Bahkan
Abu Bakar dan Ali bin
Thalib menyebutkan
bahwa tidak perlu
mencari tafsiran huruf-
huruf itu karena
bagian dari ayat
mutasyabihat (ayat
yang sulit dijelaskan
dan hanya Allah saja
yang mengetahuinya),
dan cukup menyakini
saja bahwa itu bagian
dari Al-Qur’an.
Dengan kata lain
sebagian pakar tafsir
menyerahkan
pengertiannya kepada
Allah karena dipandang
Termasuk ayat-ayat
mutasyabihat dan
tidak perlu dikaji lebih
lanjut, karena seperti
komentar as-Sa’di,
pakar tafsir
kontemporer;
“ Tidak perlu dibahas
lebih lanjut karena
tidak adanya berita
valid dengan
menyakinkan bahwa
Allah tidak mungkin
bergurau dan pasti ada
hikmah di balik itu.”
Namun banyak pula
pakar tafsir
menafsirkan huruf-
huruf itu karena
memang nalar akan
selalu mencari rahasia
atau bahkan hikmah di
balik huruf-huruf itu,
Meskipun terkadang
pandangan mereka
berlainan, terkadang
disepakati oleh pakar
lainnya dan
sebagainya. Dan
tampaknya tidak salah
jika ada beberapa
pakar tafsir tradisional
yang mencoba
mengukapkan makna
huruf-huruf itu.
Beberapa Pandangan
Tafsiran Alif Lam Mim
A. Bahwa Allah
memerintahkan untuk
tadabbur sekaligus
memahami Al-Qur’an
dan tidak mungkin ada
kata dalam Al-Qur’an
yang tidak bisa
ditafsirkan karena AL-
Qur’an sendiri selalu
memerintahkannya
seperti anjuran
beberapa ayat:
“Sesungguhnya Kami
menjadikan Al-Qur’an
dalam bahasa Arab
supaya kalian
berfikir.”(QS. Az-
Zukhruf:3)
“ (Al-Qur’an)
diturunkan dengan
(menggunakan) bahasa
arab yang jelas.” (QS.
Asy-Syu’ara: 195)
Bagi sebagian pakar
tafsir yang menyetujui
pandangan ini
munculah beberapa
penafsiran tentang
huruf-huruf ini antara
lain:
1. Huruf-huruf ini biasa
digunakan masyarakat
arab di dalam sajak/
syair/prosa sebagai
penganti kalimat-
kalimat. Namun
pandangan ini
dibantah karena
ketidak tahuan mana
kalimat yang dibuang
dan juga tidak ada
satupun sumber yang
valid baik dari Nabi,
maupun atsar sahabat,
mana kalimat yang
dibuang tersebut dan
apa bentuknya.
2. Huruf- huruf
dimaksudkan sebagai
kalimat yang
menyuarakan
tantangan bagi yang
meragukan Al-Qur’an.
Seakan-akan ada
tantangan untuk
membuat bandingan
Al-Qur’an. Dan
maknanya seperti ini:
“ Huruf Alif Lam Mim ini
bukanlah huruf –huruf
yang asing bagi kalian
yang kalian gunakan
sehari-hari, kalian
sendiri menganggap
diri kalian ahli balaghah
dan fushah
(ahlibahasa; ahli dalam
syair/prosa). Kami lah
yang menciptakan Al-
Qur’an ini, dan cobalah
kalian menciptakan
bandingan Al-Qur’an
itu, dan pastinya kalian
tidak akan mampu
meskipun hanya satu
ayat.”
3. Bahwa huruf-huruf
ini merupakan rumus
yang biasa digunakan
oleh masyarakat arab
waktu itu. Alif itu
tanda atau rumus dari
kalimat Allah, huruf
Lam tanda dari Jibril,
dan Mim tanda dari
kalimat Muhammad.
B. Sebagian
menafsirkanAlif
menunjukan kata ana
(saya/Allah). Lam
menunjukan kata Allah,
dan Mim menunjukan
lebih tahu (A’lamu). Jadi
artinya,” Saya (Allah)
lebih mengetahui
maknanya. “
C. Ada yang
menyebutkan bahwa
huruf-huruf itu
hanyalah nama dari
surat yang
bersangkutan. Seperti
yang dikemukan oleh
pakar tafsir legendaris
Az-Zamaksyari dan
disetujui oleh banyak
pakar tafsir lainnya.
Argumen yang mereka
kemukakan adalah
sebuah hadist:
“ Sesungguhnya
Rasulullah Saw pernah
membaca di shalat
subuh di hari jum’at
Alif Lam Mim (surat)
Sajdah dan (surat) Hal
Ata ‘alal Insan.” (HR.
Bukhari Muslim)
D. Sebagian
menfasirkan sebagai
huruf sumpah (Qasam),
yaitu kalimat sumpah
yang digunakan untuk
menunjukan Ke maha
kemualiaan dan
keagungan Allah Swt.
Jadi huruf-huruf ini jika
diartikan:
“Demi Allah. Kitab ini
tidak ada keraguan
sedikitpun di
dalamnya,”
Huruf laa sendiri (dari
kalimat Laa Raiba Fih)
adalah jawaban kalimat
sumpah (Qasam).
Penafsiran ini
berpedoman pada
riwayat Ikrimah
(seorang tabi’in, murid
Ibnu Abbas) dari
riwayat Ibnu Abi Hatim
dan diriwayatkan pula
oleh ath-Thabari
dengan sanad yang
sahih yang
menyebutkan bahwa
Alif Lam Mim adalah
huruf sumpah.
E. Jika memukingkan
mengabungkan semua
pandangan yang ada,
artinya bisa diartikan
bahwa Alif Lam Mim ini
adalah nama lain dari
surat itu, karena
terkadang satu kata
dalam Al-Qur’an bisa
diartikan dengan
banyak arti. Dan bisa
juga diartikan bahwa
huruf-huruf itu bisa
berarti salah satu dari
sifat-sifat Allah.
Kesimpulan
1. Sebagian pakar yang
tidak menfasirkan
huruf-huruf ini karena
tidak ada satupun
keterangan yang sahih
yang valid mengenai
arti dari huruf-huruf
dan meyerahkan
sepenuhnya
pengertiannya pada
Allah Swt.
2. Sebagian lain
mencoba menafsirkan
huruf-huruf tersebut
karena Al-Qur’an
sendiri selalu
memerintahkan bagi
para peneliti dan
pengkaji Al-Qur’an
untuk tadabbur dan
merenungi maknanya.
Jika ada sebagian ayat
yang tidak bisa
ditafsirkan bagaimana
mungkin bisa tadabbur
dan merenungkan
hikmah dibaliknya.
3. Sekalipun banyak
tafsiran tentang huruf-
huruf itu, namun
jangan dipastikan
bahwa itu adalah
tafsiran yang tepat
atau sebuah
kebenaran. Karena
tafsiran ini masih
dalam kategori zhani
(hanya prasangka
belaka) artinya bisa
mengandung
kebenaran atau salah.
Namun salah disini
bukan berarti dosa,
tapi bisa jadi terbantah
oleh pandangan-
pandangan berikutnya.
4. Ada pandangan
menarik dari pakar
tafsir kontemporer,
Mutawali asy-Sya’rawi,
bahwa kita tidak wajib
mencari jawaban
huruf-huruf seperti ini,
karena hal ini diluar
perintah dasar, yaitu
membaca, taddabur
dan akhirnya
merngamalkannya.
ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ
ﻫُﺪًﻯ ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
2. “ Kitab (Al Quran) ini
tidak ada keraguan
padanya; petunjuk
bagi mereka yang
bertaqwa.”
Arti Kata
( ﺫَﻟِﻚَ ) Kata benda ini
(isim Isyaroh)
meskipun berarti
sesuatu yang jauh,
namun diartikan ini
( ﻫﺬﺍ ) yaitu sesuatu
yang dekat. Ini
menunjukan mulia dan
agungnya Al-Qur’an ini.
ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ Al-Qur’an
(ﻻَ ﺭَﻳْﺐَ) Tidak ada
keraguaan bahwa Al-
Qur’an berasal dari
Allah Swt yang
diwahyukan kepada
Nabi Saw. Huruf ( ﻻَ )
adalah Laa naïf li jinsi
dan khabarnya wajib
dibuang.
( ﻓِﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ) Petunjuk
menuju kebahagiaan ,
kesuksesan dunia
akhirat
( ﻟِّﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ) Bagi yang
bertakwa, takwa
adalah takut dari azab
Allah kemudian
manifestasi ketakutan
itu diaplikasikan dalam
bentuk banyak
melakukan taat dan
menjauhkan semua
larangannya.
Arti Ayat
Allah Saw memberi
pernyataan bahwa Al-
Qur’an itu adalah kitab
milik-Nya yang
diurunkan kepada Nabi
Saw. Isi Qur’an ini tidak
ada sedikitpun
kepalsuan apalagi
kebohongan bahwa
Qur’an ini bukan dari
Allah. Sebaliknya Al-
Qur’an ini merupakan
kunci sukses, sumber
hidayah, petunjuk bagi
orang yang beriman
dan dan bertakwa
untuk memperoleh
kebahagiaan dunia
akhirat.
Kesimpulan Ayat
1. Menguatkan Iman
kepada Allah Swt itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
dan mempelajari
sunnah Nabi Saw
2. Hidayat atau
meminta petunjuk itu
dengan cara
mempelajari Al-Qur’an
itu sendiri.
3. Ayat ini menjelaskan
kemuliaan orang yang
bertakwa, jadi orang
yang takwa itu pasti
banyak membaca,
mempelajari, dan
mengkaji Al-Qur’an.
Adapun aplikasi
wejangan Al-Qur’an itu
pastilah akan dimiliko
oleh seseorang yang
disebut dengan
manusia Takwa.
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ
ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﻣِﻤَّﺎ
ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨﻔِﻘُﻮﻥَ
2. “(Yaitu) mereka yang
berimankepada yang
ghaibyang mendirikan
shalatdan
menafkahkan
sebahagian rezeki yang
Kami anugerahkan
kepada mereka.”
Arti Ayat
1. Orang yang takwa
itu adalah orang-orang
yang mempercayai
semua ajaran yang
dibawa oelh Nabi Saw.
Baik itu tentang
masalah ghaib seperti
adanya surga, neraka,
hari kiamat dll. Atau
tentang sejarah
generasi sebelumnya,
generasi akan datang
apapun kebaikan atau
keburukan mereka.
2. Orang takwa itu juga
suka mengerjakan
shalat, dan tidak cukup
hanya mengerjakan
saja, namun harus
diperhatikan pula
syarat wajib, atau etika
shalat itu sendiri,
ternasuk anjuran untuk
khusuk. Dengan
demikina shalat itu
nantinya akan menolak
semua keburukan dan
kekejina bagi yang
melaksanakannya.
3. Orang takwa itu juga
menunaikan kewajiban
zakat, sering memberi
sedekah, ringan tangan
membantu kesulitan
orang lain, atau sering
melakukan kebajikan
lainnya. Perintah
mengeluarkan zakat
dan sedekah inipun
hanya sebagian kecil
saja dan bukan seluruh
harta karena rizeki itu
dasarnya milik Allah,
jadi jangan pelit karena
ia bukan milik kita.
ﻭﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ
ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ
ﻭَﺑِﺎﻵﺧِﺮَﺓِ ﻫُﻢْ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ
3. “Dan mereka yang
beriman kepada kitab
(Al Quran) yang telah
diturunkan kepadamu
dan Kitab-Kitab yang
telah diturunkan
sebelummu[, serta
mereka yakin akan
adanya (kehidupan)
akhirat”
Arti Ayat
Orang Mukmin itu
mempercayai
seluruhnya apa yang
dibawa oleh Nabi Saw,
begitu pula beriman
ada kitab-kitab lainnya
yang diturunkan
sebelum Al-Qur’an.
Orang takwa itu
beriman kepada semua
Nabi tanpa terkecuali,
dan tidak disebut
mukmin jika hanya
mempercayai sebagian
dari para Nabi itu.
ﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻬِﻢْ
ﻭَﺃُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
5. “Mereka Itulah yang
tetap mendapat
petunjuk dari Tuhan
mereka, dan merekalah
orang-orang yang
beruntung.”
Arti Ayat
Mereka inilah yang
akan mendapat
kebahagiaan karena
mereka mau
menjalankan semua
perintah Allah Swt dan
mau menjauhi semua
larangan-Nya. Mereka
akan akan menjadi
manusia sukses,
manusia paling
berbahagia baik di
dunia maupun di
akhirat.
Daftar Pustaka
1. Abu Zakariyya,
Ayusarul Tafasir, hal.
16/I
2. Abdurahman As-
Sa’di, Taysirul Karim ar-
Rahman, hal. 26
3. Mustapha al-Adawi,
At-Tashil li Ta’wil At-
Tanzil, hal 146- 149
4. Az-Zamakhsyari, Al-
Kasyaf
5. Ibnu Jarir ath-
Thabari, Tafsir Thabari
Jami’ Al-Bayan ‘an
Ta’wil Ayi Al-Qur’an
6. Syeikh Muatawali
Asy-Sya’rawi, Tafsir
asy-Sya’rawi
7. Prof. Dr. Wahbah
Zuhayli, Tafsir al-Wasith
8. Prof. Dr. Quraish
Shihab, Tafsir Misbah
Vol. I
9. Dr. Hikmat Ibn Yasin,
Tafsir as-Sahih
10. Dr. Muhammad
Thayib Ibrahim, I’rabul
Qur’an

Selasa, 06 Desember 2011

kata2 renungan

Senyum mampu
menyelesaikan banyak
masalah, dan diam mampu
membuat kita terhindar
dari banyak masalah.
Diam Bukanlah kelemahan, jika
di iringi dengan perbuatan dan
hasil nyata.
Satu-satunya cara untuk
melakukan pekerjaan besar
adalah dengan mencintai
apa yang Anda lakukan,
walaupun sebenarnya
anda membencinya.
Harapan tinggallah harapan jika
tidak disertai tindakan, impian
tinggallah impian jka tidak
selaras dengan kemampuan.
Hanya karena kamu
mendengar apa yg
dilakukan seseorang, tak
berarti kamu bisa
menghakiminya. Kamu tak
tahu apa yg telah
dilaluinya.
Tidak seorang pun punya
kemampuan untuk melakukan
sesuatu hal sempurna, tapi
setiap orang diberi banyak
kesempatan untuk melakukan
hal yang benar.
Tinggalkanlah kesenangan
yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan
hidup yang diidamkan. Dan
berhati-hatilah, karena
beberapa kesenangan
adalah cara gembira
menuju kegagalan.
Kelakukan kita terhadap
kehidupan, menentukan sikap
kehidupan terhadap kita.
Matahari yang sebesar itu
pun perlu bulan untuk bisa
menerangi setiap sudut
bumi.
Seseorang tak akan pernah bisa
mencintai Anda dengan tulus
dan apa adanya, jika Anda
selalu menyembunyikan
kekurangan Anda darinya.
Hidup ini seperti
piano.Berwarna putih dan
hitam. Namun,ketika Tuhan
yang
memainkannya,Semuanya
menjadi indah.
Saat anda mendapatkan yang
biasa ketika mendambakan
yang terbaik, bersyukurlah,
karena anda tidak
mendapatkan yang terburuk.
"Kegagalan adalah peluang
untuk hal yang lebih baik.
Kegagalan adalah batu
loncatan untuk
pengalaman yang
berharga. Suatu hari nanti
Anda akan bersyukur
untuk beberapa kegagalan
yang anda alami.
Percayalah, ketika satu
pintu tertutup untuk anda,
sebenarnya pintu yang lain
selalu terbuka"
Melihat kebelakang akan
membawa kejelasan di depan.
Belajar dari kesulitan dulu akan
membawa berkah sekarang
dan nanti.
Hidup adalah memilih,
namun untuk memilih
dengan baik, Anda harus
tahu siapa Anda dan apa
yang Anda perjuangkan, ke
mana Anda ingin pergi dan
mengapa Anda ingin
sampai di sana.
"Keyakinan adalah percaya
dengan apa yang tidak kita
lihat, dan upah dari keyakinan
adalah melihat apa yang kita
yakini."
Kesedihan adalah ibarat
terdampar di gurun pasir.
Hal terbaik adalah berusaha
keluar dari gurun pasir
tersebut.
Inti dari kebahagiaan adalah
kumpulan kebahagiaan dari hal-
hal kecil.
Sebenarnya sangatlah
mudah menjadi Bahagia.
Kebahagiaan akan datang
saat kita memaafkan diri
kita sendiri, memaafkan
orang lain, dan hidup
dengan penuh rasa syukur.
Tidak pernah ada orang
egois dan tidak tahu
berterima kasih mampu
merasakan bahagia, apalagi
membuat orang lain
bahagia. Hidup ini
memberi, bukan meminta."
Kebahagiaan adalah
pengalaman spiritual dimana
setiap menit hidup dilalui
dengan cinta, dan rasa syukur.
Jangan takut akan
bayangan, karena
bayangan berarti ada
suatu cahaya yang
bersinar di dekatnya.
Masa-masa terbaik dalam hidup
adalah saat kita mampu
menyelesaikan masalah sendiri,
Masa-masa suram kehidupan
adalah saat kita menyalahkan
orang lain atas masalah yang
kita hadapi.
"Manusia seperti puluhan
kolam, masing-masing
memantulkan cahaya dari
bulan yang sama."
"Kebijaksanaan adalah
pemahaman nilai-nilai abadi
dan nilai-nilai hidup."
"Kebaikan adalah lebih
penting daripada
kebijaksanaan, dan
menyadari hal ini adalah
awal dari kebijaksanaan."
Bijaksana adalah kumpulan dari
perjalanan hidup kita.
Kebijaksanaan tidak bisa dicari,
tidak bisa diberikan, dan tidak
bisa dibagikan. Kebijaksaan
adalah diri kita sendiri.
Jika anda merasa pendapat
anda tidak didengar,
ketahuilah, sebenarnya
anda tengah belajar untuk
menghargai.
Setiap kejadian-kejadian kecil
hidup kita adalah bagian dari
harmoni total alam semesta,
semuanya sudah ada yang
mengatur dengan sempurna.
Jalanilah hidup apa adanya.
Orang Bijak adalah orang
yang menyimpan
kebijakannya untuk dirinya
sendiri.
Bicaralah dari hati dan dengan
hati, karena hati bisa
mendengar lebih tajam
daripada telinga.
Jangan terlemahkan oleh
angin permasalahan.
Layang-layang mampu
terbang tinggi karena
berani melawan angin.
Hanya layang-layang yang
putus benang yang hanyut
oleh angin.
Jika anda merasa tidak memiliki
hal yang berharga, ketahuilah,
anda memiliki hal yang tak
ternilaikan, yaitu senyuman.
Jika anda melalui hidup
anda tanpa masalah,
ketahuilah, anda
melewatkan masa terindah
hidup anda.
Berjalan lah seperti kau tak
membutuhkan uang,
mencintailah seperti kau tak
pernah terluka, berdansalah
seperti tak ada orang yang
memperhatikan.
Saat kau berpikir tentang
orang yang cantik dan
tampan, pikirkanlah bahwa
kau adalah bagian dari
mereka.
Berbuat baik pada orang lain
lebih sulit daripada berperang
melawan penjajah.
Mengucapkan Maaf hanya
mampu dilakukan oleh
orang-orang pemberani.
Anda harus jadi ulat terlebih
dahulu jika ingin menjadi kupu-
kupu
Kekuatan bukanlah
tentang memukul sekuat
tenaga, tetapi tentang
ketepatan sasaran.
Kemenangan adalah bagian
terkecil dari sebuah
pertandingan.
Pemenang bukannya tak
pernah gagal, tetapi tidak
pernah menyerah.
Tuhan telah memberikan kita
Ikan, tinggal kita yang harus
memgail untuk
mendapatkannya.
Keindahan sejati tak bisa
dilihat oleh mata, hanya
hati yang mampu
merasakan keindahan
sebenarnya.
Waktu akan terasa lambat bagi
mereka yang menunggu, terlalu
panjang bagi yang gelisah, dan
terlalu pendek bagi yang
bahagia. Namun Waktu adalah
keabadian bagi yang mereka
mampu bersyukur.
Setiap orang mempunyai
kelebihan dan kekurangan.
Fokuslah pada kelebihan
kalian, jangan fokus pada
kekurangan kalian.
Jika anda telah berusaha untuk
mengubah sesuatu namun
tetap tak berhasil, cobalah
untuk mengubah pandangan
anda.
Melepaskan orang yang di
cintai jauh lebih sulit
dibanding menerima cinta
yang baru bagi hatimu.
Ketika anda tulus mencinta, tak
akan pernah ada kata
menyerah. Meski pikiran ingin
berputus asa, namun hati tetap
ingin mencoba.
Jangan terlalu lama
menangisi apa yg telah
terjadi. Hal yg kamu tangisi
saat ini mungkin hal yang
akan kamu syukuri suatu
saat nanti.
Jika kamu meninggalkan
seseorang, berikanlah alasan.
Tak ada yg lebih menyakitkan
daripada ditinggalkan tapi tak
ada penjelasan.
Dalam hidup, anda tak akan
selalu mendapatkan apa
yang paling anda inginkan,
terkadang anda hanya
mendapat pelajaran yang
sebenarnya lebih anda
butuhkan.

Sabtu, 03 Desember 2011

liric lagu '' THE POWER OF LOVE''

Lirik Lagu The Power Of
Love – Celine Dion
The whispers in the morning
Of lovers sleeping tight
Are rolling like thunder now
As I look in your eyes
I hold on to your body
And feel each move you make
Your voice is warm and tender
A love that I could not forsake
(first chorus)
’Cause I am your lady
And you are my man
Whenever you reach for me
I’ll do all that I can
Lost is how I’m feeling lying in
your arms
When the world outside’s too
Much to take
That all ends when I’m with you
Even though there may be times
It seems I’m far away
Never wonder where I am
’Cause I am always by your side
(repeat first chorus)
(second chorus)
We’re heading for something
Somewhere I’ve never been
Sometimes I am frightened
But I’m ready to learn
Of the power of love
The sound of your heart beating
Made it clear
Suddenly the feeling that I can’t
go on
Is light years away

Selasa, 29 November 2011

tafsir surah al ikhlas

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ (1) ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ 2) )
ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ (3) ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦ
ﻟَّﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺃَﺣَﺪٌ 4) )
Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang
Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang
bergantung kepadaNya segala
urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada
pula diperanakkan” [Al-Ikhlash :
3]
“Dan tidak ada seorang pun
yang setara dengan Dia” [Al-
Ikhlash : 4]
Sebab turunnya surat ini adalah,
ketika orang musyrik atau orang
Yahudi berkata kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam : “Beritakan kepada kami
sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah
Ta’ala menurunkan surat ini [1]
Qul = “Katakanlah”. Pernyataan
ini ditujukan kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
umatnya. “Huwa Allahu ahad” =
“Dialah Allah Yang Maha Esa”.
Menurut ahli I’rab, huwa adalah
dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah
Allah khabar mubtada dan
“Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu
Ash-Shomad’ kalimat tersendiri.
“Allahu Ahadun” Yakni, Dia
adalah Allah yang selalu kamu
bicarakan dan yang selalu kamu
memohon kepada-Nya.
“Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan-Nya, yang tiada
bandingan-Nya, tiada sekutu
bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan. “Allahu Ash-
Shomad” adalah kalimat
tersendiri Allah Ta’ala
menjelaskan bahwa dia Ash-
Shomad. Makna yang paling
mencakup iallah Dia mempunyai
sifat yang sempurna yang
berbeda dengan semua
mahkhluk-Nya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas
bahwa Ash-Shomad ialah yang
sempurna Keilmuan-Nya, Yang
sempurna Kesantunan-Nya,
Yang sempurna Keagungan-Nya,
Yang sempurna Kekuasaan-Nya.
Sampai akhir perkatan-Nya [2].
Ini artinya bahwa Allah Ta’ala
tidak membutuhkan makhluk
karena Dia Maha Sempurna. Dan
juga tertera dalam tafsir
bahwasanya As-Shamad ialah
yang menangani semua urusan
makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa
seluruh makhluk sangat
bergantung kepada Allah Ta’ala.
Jadi, arti yang paling lengkap
ialah : Dia Maha Sempurna dalam
sifat-sifat-Nya dan seluruh
makhluk sangat bergantung
kepada-Nya.
“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza
wa Jalla tidak mempunyai anak
karena Dia adalah Dzat Yang
Maha Muali dan Maha Agung,
tidak ada yang serupa dengan-
Nya. Seorang anak adalah
sempalan dan bagian dari orang
tuanya. Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Fathimah Radhiyallahu
‘anha.
“Artinya : Ia adalah bahagian
dari diriku” [3]
Allah Azza wa Jalla tidak ada
yang serupa dengan-Nya. Anak
merupakan salah satu keperluan
manusia, baik untuk memenuhi
kebutuhan dunia maupun untuk
menjaga kesinambungan
keturunan. Allah Azza wa Jalla
tidak memerlukan itu semua. Dia
juga tidak dilahirkan karena
tidak ada yang serupa dengan-
Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak
memerlukan seorang dari
makhluk-Nya. Allah telah
mengisyaratkan bahwa mustahil
bagi-Nya mempunyai anak,
seperti dalam firman-Nya.
“Artinya : Bagaimana Dia
mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai isteri ? Dia
menciptakan segala sesuatu ‘
dan Dia mengetahui segala
sesuatu” [Al-An’am : 101]
Seorang anak memerlukan orang
yang melahirkannya.
Demikianlah, Allah adalah Dzat
Yang Menciptakan segala
sesuatu. Jika Allah menciptakan
segala sesuatu bererti Dia
terpisah dari makhluk-Nya.
Dalam firman-Nya : Lam yaalid”
= “tidak beranak” merupakan
bantahan terhadap tiga
kelompok anak Adam yang
menyimpang. Mereka adalah
orang Musyrik, orang Yahudi
dan orang Nasrani. Orang
musyrik meyakini bahwa
malaikat yang mereka itu
‘Ibadur Rahman’ berjenis
perempuan. Mereka mengatakan
bahwa malaikat tersebut adalah
anak perempuan Allah. Orang
Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah
anak Allah, dan orang Nasrani
mengatakan Al-masih adalah
anak Allah. Kemudian Allah
mengingkari mereka semua
dengan firman-Nya “Lam yaalid
wa lam yuu lad” = “Dia tiada
beranak dan tiada pula
diperanakan”, karena Allah Azza
wa Jalla adalah Dzat Yang
Pertama, tidak ada sesuatu yang
mendahului-Nya, bagaimana
mungkin dikatakan bahwa Dia
dilahirkan.
Firman Allah.
“Artinya : Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan
Dia” [Al-Ikhlash : 4]
Yaitu tidak ada sesuatu pun
yang menyamai seluruh sifat-
sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala menafikan Dirinya
mempunyai ayah atau Dia
dilahirkan atau ada yang semisal
dengan-Nya.
Sureat ini mempunyai
keistimewaan yang sangat
agung. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Bahwa ia (surat Al-
Ikhlash) menyamai sepertiga Al-
Qur’an” [4]
Surat ini menyamai sepertiga Al-
Qur’an tetapi tidak dapat
menggantikan sepertiga Al-
Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau
seorang membaca surat ini
sebanyak tiga kali di dalam
shalat, masih belum mencukupi
sebelum ia membaca surat Al-
Fatihah. Padahal jika ia
membacanya tiga kali, seolah-
olah ia membaca semua Al-
Qur’an, tetapi tidak dapat
mencukupinya. Jadi, kamu
jangan heran ada sesuatu yang
sebanding tetapi tidak
mencukupi. Misalnya sabda
Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : Barangsiapa membaca :
“Artinya : Tiada ilah yang berhak
disembah kecuali hanya Allah
yang tiada sekutu bagi-Nya,
kepunyaan-Nyalah segala
kekuasaan dan pujian, dan Dia
Maha Berkuasa atas segala
sesuatu”
Seakan-akan ia telah
membebaskan empat orang
budak dari keuturunan Isma’il
atau dari anak Ismail” [5]
Padahal jika ia berkewajiban
untuk membebaskan empat
orang hamba, dengan
mengatakan dzikir ini saja tidak
cukup untuk membebaskan
dirinya dari kewajiban
membebaskan hamba tersebut.
Oleh karena itu, sama
bandingnya sesuatu belum
tentu dapat menggantikan
posisi yang dibandingkan.
Surat ini dibaca Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
raka’at kedua shalat sunnah Fajr,
shalat sunnah Maghrib dan
shalat sunnah Thawaf [6].
Begitu juga beliau membacanya
dalam shalat witir [7], karena
surat ini merupakan landasan
keikhlasan yang sempurna
kepada Allah, inilah sebabnya
dinamai dengan surat Al-Ikhlash.
[Disalin dari kitab Tafsir Juz
‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz
‘Amma, penulis Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-
Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan
Al-Atsari, penerbit At-Tibyan –
Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam
Musnad (5/133), At-Tirmidzi
dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-
Ikhlash, no. (3364)
[2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany
dalam Tafsirnya (30/346). Dan
Al-Baihaqy dalam Asma Wash
Shiafat hal. 58-59
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam kitab Fadhilah Para
Sahabat, bab : Budi pekerti
kerabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan Fatimah
Radhiyallahu ‘anha no. (3714).
Dan Muslim dalam kitab Fadhilah
Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
no (2449) (93).
[4]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an,
bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu
Ahad” no. (5015) Dan Muslim
dalam kitab Shalat Para Musafir,
bab : Fadhilah membaca “Qul
Huwa Allahu Ahad”, no. (811)
(30)
[5]. Hadits riwayat Muslim dalam
kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil,
no. (2693) (30)
[6] Telah disebutkan takhrijnya.
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi,
dalam Bab-bab Witir, bab :
Bacaan yang dibaca dalam shalat
witir, no. (463). Ia berkata :
“hadits ini hasan gharib”.