Selasa, 06 Desember 2011

kata2 renungan

Senyum mampu
menyelesaikan banyak
masalah, dan diam mampu
membuat kita terhindar
dari banyak masalah.
Diam Bukanlah kelemahan, jika
di iringi dengan perbuatan dan
hasil nyata.
Satu-satunya cara untuk
melakukan pekerjaan besar
adalah dengan mencintai
apa yang Anda lakukan,
walaupun sebenarnya
anda membencinya.
Harapan tinggallah harapan jika
tidak disertai tindakan, impian
tinggallah impian jka tidak
selaras dengan kemampuan.
Hanya karena kamu
mendengar apa yg
dilakukan seseorang, tak
berarti kamu bisa
menghakiminya. Kamu tak
tahu apa yg telah
dilaluinya.
Tidak seorang pun punya
kemampuan untuk melakukan
sesuatu hal sempurna, tapi
setiap orang diberi banyak
kesempatan untuk melakukan
hal yang benar.
Tinggalkanlah kesenangan
yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan
hidup yang diidamkan. Dan
berhati-hatilah, karena
beberapa kesenangan
adalah cara gembira
menuju kegagalan.
Kelakukan kita terhadap
kehidupan, menentukan sikap
kehidupan terhadap kita.
Matahari yang sebesar itu
pun perlu bulan untuk bisa
menerangi setiap sudut
bumi.
Seseorang tak akan pernah bisa
mencintai Anda dengan tulus
dan apa adanya, jika Anda
selalu menyembunyikan
kekurangan Anda darinya.
Hidup ini seperti
piano.Berwarna putih dan
hitam. Namun,ketika Tuhan
yang
memainkannya,Semuanya
menjadi indah.
Saat anda mendapatkan yang
biasa ketika mendambakan
yang terbaik, bersyukurlah,
karena anda tidak
mendapatkan yang terburuk.
"Kegagalan adalah peluang
untuk hal yang lebih baik.
Kegagalan adalah batu
loncatan untuk
pengalaman yang
berharga. Suatu hari nanti
Anda akan bersyukur
untuk beberapa kegagalan
yang anda alami.
Percayalah, ketika satu
pintu tertutup untuk anda,
sebenarnya pintu yang lain
selalu terbuka"
Melihat kebelakang akan
membawa kejelasan di depan.
Belajar dari kesulitan dulu akan
membawa berkah sekarang
dan nanti.
Hidup adalah memilih,
namun untuk memilih
dengan baik, Anda harus
tahu siapa Anda dan apa
yang Anda perjuangkan, ke
mana Anda ingin pergi dan
mengapa Anda ingin
sampai di sana.
"Keyakinan adalah percaya
dengan apa yang tidak kita
lihat, dan upah dari keyakinan
adalah melihat apa yang kita
yakini."
Kesedihan adalah ibarat
terdampar di gurun pasir.
Hal terbaik adalah berusaha
keluar dari gurun pasir
tersebut.
Inti dari kebahagiaan adalah
kumpulan kebahagiaan dari hal-
hal kecil.
Sebenarnya sangatlah
mudah menjadi Bahagia.
Kebahagiaan akan datang
saat kita memaafkan diri
kita sendiri, memaafkan
orang lain, dan hidup
dengan penuh rasa syukur.
Tidak pernah ada orang
egois dan tidak tahu
berterima kasih mampu
merasakan bahagia, apalagi
membuat orang lain
bahagia. Hidup ini
memberi, bukan meminta."
Kebahagiaan adalah
pengalaman spiritual dimana
setiap menit hidup dilalui
dengan cinta, dan rasa syukur.
Jangan takut akan
bayangan, karena
bayangan berarti ada
suatu cahaya yang
bersinar di dekatnya.
Masa-masa terbaik dalam hidup
adalah saat kita mampu
menyelesaikan masalah sendiri,
Masa-masa suram kehidupan
adalah saat kita menyalahkan
orang lain atas masalah yang
kita hadapi.
"Manusia seperti puluhan
kolam, masing-masing
memantulkan cahaya dari
bulan yang sama."
"Kebijaksanaan adalah
pemahaman nilai-nilai abadi
dan nilai-nilai hidup."
"Kebaikan adalah lebih
penting daripada
kebijaksanaan, dan
menyadari hal ini adalah
awal dari kebijaksanaan."
Bijaksana adalah kumpulan dari
perjalanan hidup kita.
Kebijaksanaan tidak bisa dicari,
tidak bisa diberikan, dan tidak
bisa dibagikan. Kebijaksaan
adalah diri kita sendiri.
Jika anda merasa pendapat
anda tidak didengar,
ketahuilah, sebenarnya
anda tengah belajar untuk
menghargai.
Setiap kejadian-kejadian kecil
hidup kita adalah bagian dari
harmoni total alam semesta,
semuanya sudah ada yang
mengatur dengan sempurna.
Jalanilah hidup apa adanya.
Orang Bijak adalah orang
yang menyimpan
kebijakannya untuk dirinya
sendiri.
Bicaralah dari hati dan dengan
hati, karena hati bisa
mendengar lebih tajam
daripada telinga.
Jangan terlemahkan oleh
angin permasalahan.
Layang-layang mampu
terbang tinggi karena
berani melawan angin.
Hanya layang-layang yang
putus benang yang hanyut
oleh angin.
Jika anda merasa tidak memiliki
hal yang berharga, ketahuilah,
anda memiliki hal yang tak
ternilaikan, yaitu senyuman.
Jika anda melalui hidup
anda tanpa masalah,
ketahuilah, anda
melewatkan masa terindah
hidup anda.
Berjalan lah seperti kau tak
membutuhkan uang,
mencintailah seperti kau tak
pernah terluka, berdansalah
seperti tak ada orang yang
memperhatikan.
Saat kau berpikir tentang
orang yang cantik dan
tampan, pikirkanlah bahwa
kau adalah bagian dari
mereka.
Berbuat baik pada orang lain
lebih sulit daripada berperang
melawan penjajah.
Mengucapkan Maaf hanya
mampu dilakukan oleh
orang-orang pemberani.
Anda harus jadi ulat terlebih
dahulu jika ingin menjadi kupu-
kupu
Kekuatan bukanlah
tentang memukul sekuat
tenaga, tetapi tentang
ketepatan sasaran.
Kemenangan adalah bagian
terkecil dari sebuah
pertandingan.
Pemenang bukannya tak
pernah gagal, tetapi tidak
pernah menyerah.
Tuhan telah memberikan kita
Ikan, tinggal kita yang harus
memgail untuk
mendapatkannya.
Keindahan sejati tak bisa
dilihat oleh mata, hanya
hati yang mampu
merasakan keindahan
sebenarnya.
Waktu akan terasa lambat bagi
mereka yang menunggu, terlalu
panjang bagi yang gelisah, dan
terlalu pendek bagi yang
bahagia. Namun Waktu adalah
keabadian bagi yang mereka
mampu bersyukur.
Setiap orang mempunyai
kelebihan dan kekurangan.
Fokuslah pada kelebihan
kalian, jangan fokus pada
kekurangan kalian.
Jika anda telah berusaha untuk
mengubah sesuatu namun
tetap tak berhasil, cobalah
untuk mengubah pandangan
anda.
Melepaskan orang yang di
cintai jauh lebih sulit
dibanding menerima cinta
yang baru bagi hatimu.
Ketika anda tulus mencinta, tak
akan pernah ada kata
menyerah. Meski pikiran ingin
berputus asa, namun hati tetap
ingin mencoba.
Jangan terlalu lama
menangisi apa yg telah
terjadi. Hal yg kamu tangisi
saat ini mungkin hal yang
akan kamu syukuri suatu
saat nanti.
Jika kamu meninggalkan
seseorang, berikanlah alasan.
Tak ada yg lebih menyakitkan
daripada ditinggalkan tapi tak
ada penjelasan.
Dalam hidup, anda tak akan
selalu mendapatkan apa
yang paling anda inginkan,
terkadang anda hanya
mendapat pelajaran yang
sebenarnya lebih anda
butuhkan.

Sabtu, 03 Desember 2011

liric lagu '' THE POWER OF LOVE''

Lirik Lagu The Power Of
Love – Celine Dion
The whispers in the morning
Of lovers sleeping tight
Are rolling like thunder now
As I look in your eyes
I hold on to your body
And feel each move you make
Your voice is warm and tender
A love that I could not forsake
(first chorus)
’Cause I am your lady
And you are my man
Whenever you reach for me
I’ll do all that I can
Lost is how I’m feeling lying in
your arms
When the world outside’s too
Much to take
That all ends when I’m with you
Even though there may be times
It seems I’m far away
Never wonder where I am
’Cause I am always by your side
(repeat first chorus)
(second chorus)
We’re heading for something
Somewhere I’ve never been
Sometimes I am frightened
But I’m ready to learn
Of the power of love
The sound of your heart beating
Made it clear
Suddenly the feeling that I can’t
go on
Is light years away

Selasa, 29 November 2011

tafsir surah al ikhlas

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ (1) ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ 2) )
ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ (3) ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦ
ﻟَّﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺃَﺣَﺪٌ 4) )
Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang
Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang
bergantung kepadaNya segala
urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada
pula diperanakkan” [Al-Ikhlash :
3]
“Dan tidak ada seorang pun
yang setara dengan Dia” [Al-
Ikhlash : 4]
Sebab turunnya surat ini adalah,
ketika orang musyrik atau orang
Yahudi berkata kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam : “Beritakan kepada kami
sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah
Ta’ala menurunkan surat ini [1]
Qul = “Katakanlah”. Pernyataan
ini ditujukan kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
umatnya. “Huwa Allahu ahad” =
“Dialah Allah Yang Maha Esa”.
Menurut ahli I’rab, huwa adalah
dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah
Allah khabar mubtada dan
“Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu
Ash-Shomad’ kalimat tersendiri.
“Allahu Ahadun” Yakni, Dia
adalah Allah yang selalu kamu
bicarakan dan yang selalu kamu
memohon kepada-Nya.
“Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan-Nya, yang tiada
bandingan-Nya, tiada sekutu
bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan. “Allahu Ash-
Shomad” adalah kalimat
tersendiri Allah Ta’ala
menjelaskan bahwa dia Ash-
Shomad. Makna yang paling
mencakup iallah Dia mempunyai
sifat yang sempurna yang
berbeda dengan semua
mahkhluk-Nya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas
bahwa Ash-Shomad ialah yang
sempurna Keilmuan-Nya, Yang
sempurna Kesantunan-Nya,
Yang sempurna Keagungan-Nya,
Yang sempurna Kekuasaan-Nya.
Sampai akhir perkatan-Nya [2].
Ini artinya bahwa Allah Ta’ala
tidak membutuhkan makhluk
karena Dia Maha Sempurna. Dan
juga tertera dalam tafsir
bahwasanya As-Shamad ialah
yang menangani semua urusan
makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa
seluruh makhluk sangat
bergantung kepada Allah Ta’ala.
Jadi, arti yang paling lengkap
ialah : Dia Maha Sempurna dalam
sifat-sifat-Nya dan seluruh
makhluk sangat bergantung
kepada-Nya.
“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza
wa Jalla tidak mempunyai anak
karena Dia adalah Dzat Yang
Maha Muali dan Maha Agung,
tidak ada yang serupa dengan-
Nya. Seorang anak adalah
sempalan dan bagian dari orang
tuanya. Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Fathimah Radhiyallahu
‘anha.
“Artinya : Ia adalah bahagian
dari diriku” [3]
Allah Azza wa Jalla tidak ada
yang serupa dengan-Nya. Anak
merupakan salah satu keperluan
manusia, baik untuk memenuhi
kebutuhan dunia maupun untuk
menjaga kesinambungan
keturunan. Allah Azza wa Jalla
tidak memerlukan itu semua. Dia
juga tidak dilahirkan karena
tidak ada yang serupa dengan-
Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak
memerlukan seorang dari
makhluk-Nya. Allah telah
mengisyaratkan bahwa mustahil
bagi-Nya mempunyai anak,
seperti dalam firman-Nya.
“Artinya : Bagaimana Dia
mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai isteri ? Dia
menciptakan segala sesuatu ‘
dan Dia mengetahui segala
sesuatu” [Al-An’am : 101]
Seorang anak memerlukan orang
yang melahirkannya.
Demikianlah, Allah adalah Dzat
Yang Menciptakan segala
sesuatu. Jika Allah menciptakan
segala sesuatu bererti Dia
terpisah dari makhluk-Nya.
Dalam firman-Nya : Lam yaalid”
= “tidak beranak” merupakan
bantahan terhadap tiga
kelompok anak Adam yang
menyimpang. Mereka adalah
orang Musyrik, orang Yahudi
dan orang Nasrani. Orang
musyrik meyakini bahwa
malaikat yang mereka itu
‘Ibadur Rahman’ berjenis
perempuan. Mereka mengatakan
bahwa malaikat tersebut adalah
anak perempuan Allah. Orang
Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah
anak Allah, dan orang Nasrani
mengatakan Al-masih adalah
anak Allah. Kemudian Allah
mengingkari mereka semua
dengan firman-Nya “Lam yaalid
wa lam yuu lad” = “Dia tiada
beranak dan tiada pula
diperanakan”, karena Allah Azza
wa Jalla adalah Dzat Yang
Pertama, tidak ada sesuatu yang
mendahului-Nya, bagaimana
mungkin dikatakan bahwa Dia
dilahirkan.
Firman Allah.
“Artinya : Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan
Dia” [Al-Ikhlash : 4]
Yaitu tidak ada sesuatu pun
yang menyamai seluruh sifat-
sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala menafikan Dirinya
mempunyai ayah atau Dia
dilahirkan atau ada yang semisal
dengan-Nya.
Sureat ini mempunyai
keistimewaan yang sangat
agung. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Bahwa ia (surat Al-
Ikhlash) menyamai sepertiga Al-
Qur’an” [4]
Surat ini menyamai sepertiga Al-
Qur’an tetapi tidak dapat
menggantikan sepertiga Al-
Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau
seorang membaca surat ini
sebanyak tiga kali di dalam
shalat, masih belum mencukupi
sebelum ia membaca surat Al-
Fatihah. Padahal jika ia
membacanya tiga kali, seolah-
olah ia membaca semua Al-
Qur’an, tetapi tidak dapat
mencukupinya. Jadi, kamu
jangan heran ada sesuatu yang
sebanding tetapi tidak
mencukupi. Misalnya sabda
Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : Barangsiapa membaca :
“Artinya : Tiada ilah yang berhak
disembah kecuali hanya Allah
yang tiada sekutu bagi-Nya,
kepunyaan-Nyalah segala
kekuasaan dan pujian, dan Dia
Maha Berkuasa atas segala
sesuatu”
Seakan-akan ia telah
membebaskan empat orang
budak dari keuturunan Isma’il
atau dari anak Ismail” [5]
Padahal jika ia berkewajiban
untuk membebaskan empat
orang hamba, dengan
mengatakan dzikir ini saja tidak
cukup untuk membebaskan
dirinya dari kewajiban
membebaskan hamba tersebut.
Oleh karena itu, sama
bandingnya sesuatu belum
tentu dapat menggantikan
posisi yang dibandingkan.
Surat ini dibaca Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
raka’at kedua shalat sunnah Fajr,
shalat sunnah Maghrib dan
shalat sunnah Thawaf [6].
Begitu juga beliau membacanya
dalam shalat witir [7], karena
surat ini merupakan landasan
keikhlasan yang sempurna
kepada Allah, inilah sebabnya
dinamai dengan surat Al-Ikhlash.
[Disalin dari kitab Tafsir Juz
‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz
‘Amma, penulis Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-
Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan
Al-Atsari, penerbit At-Tibyan –
Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam
Musnad (5/133), At-Tirmidzi
dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-
Ikhlash, no. (3364)
[2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany
dalam Tafsirnya (30/346). Dan
Al-Baihaqy dalam Asma Wash
Shiafat hal. 58-59
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam kitab Fadhilah Para
Sahabat, bab : Budi pekerti
kerabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan Fatimah
Radhiyallahu ‘anha no. (3714).
Dan Muslim dalam kitab Fadhilah
Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
no (2449) (93).
[4]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an,
bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu
Ahad” no. (5015) Dan Muslim
dalam kitab Shalat Para Musafir,
bab : Fadhilah membaca “Qul
Huwa Allahu Ahad”, no. (811)
(30)
[5]. Hadits riwayat Muslim dalam
kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil,
no. (2693) (30)
[6] Telah disebutkan takhrijnya.
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi,
dalam Bab-bab Witir, bab :
Bacaan yang dibaca dalam shalat
witir, no. (463). Ia berkata :
“hadits ini hasan gharib”.

Senin, 28 November 2011

TAFSIR SURAH AL KAFIRUN

. [TAFSIR] : AL-KAAFIRUN Ayat [6] Hal:1/1
1 Katakanlah: `Hai orang-orang
kafir, (QS. 109:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
2 Aku tidak menyembah apa
yang kamu sembah. (QS. 109:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
3 Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah. (QS.
109:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 3
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 3) )
Dalam ayat ini Allah
menambahkan lagi pernyataan
yang disuruh sampaikan kepada
orang-orang kafir dengan
menyatakan, "Kamu tidak
menyembah Tuhanku yang aku
panggil kamu untuk
menyembah-Nya, karena
berlainan sifat-sifat-Nya dari
sifat-sifat "tuhan" yang kamu
sembah dan tidak mungkin
dipertemukan antara kedua
macam sifat tersebut:
4 Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa
yang kamu sembah, (QS. 109:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
5 dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan
yang aku sembah. (QS. 109:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
6 Untukmulah agamamu, dan
untukkulah, agamaku`. (QS.
109:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 6
ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨُﻜُﻢْ ﻭَﻟِﻲَ ﺩِﻳﻦِ 6) )
Kemudian dalam ayat ini Allah
mengancam orang-orang kafir
dengan firman-Nya yaitu, "Bagi
kamu balasan atas amal
perbuatanmu dan bagiku
balasan atas amal perbuatanku".
Dalam ayat lain yang sama
maksudnya Allah berfirman:
ﻭﻟﻨﺎ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ ﻭﻟﻜﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
Artinya:
"Bagi kami amalan kami, bagi
kamu amalan kamu".
Q.S.(Al Baqarah): 139.

Sabtu, 26 November 2011

agungaelah76: TAFSIR SURAH AN-NAAS.

agungaelah76: TAFSIR SURAH AN-NAAS.

TAFSIR SURAH AN-NAAS.

satu surat Makkiyyah atau surat
yang turun di kota Mekkah. An-
Naas juga salah satu dari dua
ayat yang disebut dengan
mu'awwizatain (dua
perlindungan). Di dalamnya
terkandung permohonan
perlindungan dan pengamanan
kepada Allah swt dari keburukan
gembong segala musuh
bebuyutan manusia, yaitu Iblis
dan konco-konconya dari
golongan jin dan manusia yang
tugasnya menyesatkan manusia
dengan beragam was-was dan
penyesatan.
Al-Qur'an ini ditutup dengan dua
surat mu'awwizatain dan
diawali dengan surat al-Fatihah
untuk menghimpun antara
permulaan yang baik dan
penutup yang baik pula. Itulah
puncak keelokan kebaikan dan
keindahan. Karena seorang
hamba memohon kepada Allah
dan berserah diri kepada-Nya
sejak di awal urusan hingga
akhirnya.
Berlindung dari Keburukan
Setan:
Allah berfirman:
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻪ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺷﺮ ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻮﺳﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
Artinya: "Katakanlah (hai
Muhammad): Aku berlindung
kepada Tuhan manusia. Raja
manusia, Tuhan manusia, dari
keburukan was-was setan
perempuan yang meniupkan
was-was di dalam dada manusia,
dari golongan jin dan
manusia." (Qs an-Naas: 5).
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ Katakanlah hai
Muhammad, aku berpegang
teguh, bersandar dan berlindung
( ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ) yakni; Tuhan
manusia, pendidik dan pengatur
urusan mereka. Dialah yang
menghidupkan dan membuat
mereka ada dari tidak ada.
Memberikan nikmat yang
beraneka ragam banyaknya.
Para Ahli Tafsir mengatakan:
"Dikhususkan penyebutan
kepada manusia sebagai
penghormatan dan pemuliaan
terhadap mereka, karena Allah
telah menundukkan kepada
mereka apa-apa yang ada di
jagat raya ini. Allah juga
memberikan karunia akal dan
ilmu kepada mereka. Menyuruh
para malaikat untuk sujud
kepadanya, sementara malaikat
adalah makhluk yang paling
utama secara mutlak."
ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni raja semua
makhluk, baik penguasa ataupun
rakyat secara sempurna, utuh
dan menyeluruh. Allah telah
menentukan amal perbuatan
mereka dan mengatur urusan
mereka. Dialah yang memuliakan
dan Dia pula yang merendahkan.
Membuat kaya dan memiskinkan
manusia.
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni; sesembahan
mereka yang tidak ada Tuhan
bagi mereka selain-Nya.
Imam Qurthubi berkata:
"Disebukan dengan ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ karena manusia
memiliki raja Makanya ayat ini
menyebutkan bahwa Allah
adalah raja mereka. Ketika pada
manusia ada yang disembah
selain ALlah, lalu Allah
menyebutkan bahwa Dialah
tuhan dan sesembahan mereka.
Allahlah yang wajib untuk minta
perlindungan-Nya dan tempat
berserah diri manusia. Itu karena
manusia, pertama mengenal
bahwa dirinya memiliki Tuhan
yang telah mentarbiyyahnya ﺭﺏ
ﺍﻟﻨﺎﺱ kemudian ketika ia
berpikir maka ia kemudian
mengenal bahwa Tuhan ini pasti
mengendalikan makhluk-
makhluk-Nya dan tidak butuh
kepada mereka. Dialah Tuhan
manusia ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ . Selanjutnya
apabila penghayatannya kepada
alam semesta ini bertambah,
maka ia akan mengerti bahwa
Allah pantas untuk disembah.
Karena tidak ada yang patut
disembah selain Zat yang Maha
Kaya dan patut diminta-minta
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ.
Kenapa lafaz ﺍﻟﻨﺎﺱ (manusia)
diulang-ulang sampai 3 kali dan
tidak cukup menggunakan kata
ganti?! Karena untuk
memperlihatkan kemuliaan,
keagungan dan perhatian lebih
akan peran mereka di atas muka
bumi ini.
Ibnu Katsir mengatakan: "3
sifat Allah swt ini adalah
rububiyyah, malik dan ilahiyyah.
Allah-lah Tuhan segala sesuatu,
raja dan penciptanya. Segala
sesuatu adalah makhluk dan
milik-Nya. Allah menyuruh
manusia untuk berlindung
dengan sifat-sifat ini. ﻣﻦ ﺷﺮ
ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ yakni dari
bisikan was-was setan yang
meniupkan pembicaaan jahat di
dalam dada. Setan membisikkan
manusia agar ia terpedaya
dengan perbuatan maksiat.
(ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ): yang bersembunyi dan
mundur ketika seorang hamba
mengingat Tuhannya. Apabila
seorang manusia lupa Allah,
maka setanpun kembali dan
membisikkannya."
Dalam sebuah hadits
disebutkan:
ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺍﺿﻊ ﺧﻄﻤﻪ -ﺃﻧﻔﻪ-
ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐ ﺍﻥ ﺁﺩﻡ, ﻓﺈﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻨﺲ.
ﻭﺇﺫﺍ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻔﻢ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻮﺳﻮﺱ
"Sesungguhnya setan
meletakkan hidungnya di hati
anak Adam. Maka apabila
mengingat Allah ia bersembunyi.
Sebaliknya, jika ia lupa kepada
Allah setan balik kepada hatinya
dan mulai membisikkannya."
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺴﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni
setan yang melemparkan
bisikan-bisikan jahat di hati
manusia dengan berbagai
macam was-was bisikan dan
angan-angan.
Imam Qurthubi berkata: "Was-
was setan itu berupa seruan
untuk mentaatinya dengan
perkataan yang lembut tapi
maksudnya sampai ke hati
manusia tanpa terdengar melalui
suara."
ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻣﻦ di sini bermakna
'bayaniyyah' artinya bahwa jin
yang membuat manusia was-
was itu adalah golongan setan
yang berasal dari jenis jin dan
manusia. Hal ini sepert yang
Allah sebutkan pula dalam ayat:
ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺍﻹِﻧﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ
ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭًﺍ
Artinya: "Setan-setan dari
kalangan manusia dan jin yang
membisikkan sebagian satu
sama lain di antara mereka
dengan ucapan yang indah dan
mengandung tipu daya."(Qs Al-
An'am: 112).
Ayat ini menerangkan tentang
perlindungan dari kejahatan jin
dan manusia secara bersama-
sama. Tidak diragukan lagi bagi
kita bahwa setan-setan dari
jenis manusia lebih bahaya dan
licik daripada jenis setan dari
golongan jin. Itu karena
golongan setan dari jenis jin
akan bersembunyi ketika
menghadapi isti'azah.
Sedangkan golongan setan dari
jenis manusia menghiasi
manusia lainnya dengan
perbuatan keji dan memperdaya
dengan kemungkaran.
Hanya orang yang Allah pelihara
saja yang akan dijaga oleh-Nya.
Wallahu a'lam bish-showab.

Jumat, 25 November 2011

TAFSIR SURAH ALFATEHAH.

(Ummul Qur-an/Induk al-Quran, Ummul Kitab/Induk al-Kitab,
dan as-Sab’ul Matsani/Tujuh yang berulang-ulang)
Surah ini dinamai Al-Fatihah (artinya “Pembuka”), di antaranya karena
bacaan Al-Quran dalam salat dimulai dengan surah ini. Surah ini juga
mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-
Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan nama Allah, Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang).
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini.
Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap
pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap
perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-
rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu ,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang
tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan
membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab
yang lain hukumnya wajib. Disunahkan pula membaca basmalah ketika
hendak makan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Ucapkanlah
basmalah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah sesuatu yang
dekat denganmu.”
Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara
kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah,
jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang
Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’,
seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat
itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.”
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah
untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin.
Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh
digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman
atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman
tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat
rahman”).
Di antara nama-nama Allah, Ada yang digunakan untuk mahluk,
ada pula yang tidak digunakan untuk mahluk, seperti lafaz Allah, Al-
Khaliq, Ar-Raziq, dll, termasuk Ar-Rahman, sebagaimana yang telah
disebutkan di atas. Sedangkan lafaz Ar-Rahim, Allah gunakan juga
untuk menggambarkan Nabi SAW, yaitu pada firman Allah Bil-
mu’miniina ra’ufunrahim (Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin). Sebagaimana allah menggambarkan manusia
dengan menggunakan sebagian namanya, yaitu pada firman-Nya
Faja’ainaahu sami’an bashira (Maka kami jadikan dia mendengar dan
melihat).”
Alhamdu lillaahi Rabbil-aalamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam).
Ibn Jarir mengatakan, pengertian alhamdulillah adalah bersyukur
kepada Allah secara tulus karena Dia telah memberikan nikmat-nikmat
yang tak terhingga kepada hamba-hamba-Nya. Juga karena Dia telah
menyehatkan anggota tubuh mukallaf (orang yang berakal dan balig)
untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya, di samping memberikan
rezeki dalam urusan dunia mereka sehingga mereka dapat merasakan
kehidupan yang menyenangkan. Karena itu, Tuhan berhak untuk dipuji
atas semua nikmat itu. Alhamdulillah merupakan suatu pujian di mana
Allah memuji dirinya yang juga mengandung perintah kepada para
hamba-Nya untuk memuji-Nya.
Di dalam hadist disebutkan, “Sebaik-baiknya zikir adalah ucapan
La ilaha illallah, dan sebaik-baiknya doa adalah ucapan Alhamdulillah.”
Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan, “Tidaklah Allah memberikan
nikmat kepada seorang hamba lalu hamba itu mengucap Alhamdulillah,
melainkan apa yang Dia berikan lebih utama daripada yang Dia ambil.”
Pengertian rabb adalah pemilik yang bertindak terhadap
miliknya, kemudian digunakan untuk pengertian tuan dan yang
melakukan perbaikan. Semua pengertian itu sah terdapat pada diri
Allah . Pada selain Allah, kata rabb hanya digunakan dengan dikaitkan
pada kata lainnya seperti rabbud-dar (pemilik rumah), sedangkan kata
rabb saja yang tidak diikuti kata lainnya hanya digunakan untuk Allah.
Ar-rahmanir-rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-
rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk
mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman,
meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung
kabar gembira). Di dalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya
di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak
melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-
rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.
Di dalam hadis dikatakan, “Seandainya seorang mukmin
mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tak seorang pun yang
menginginkan surga-Nya (artinya, asal terhindar dari siksa-Nya saja
sudah merasa sangat beruntung); dan seandainya seorang kafir
mengetahui rahmat yang ada di sisi-Nya, niscaya tak seorang pun
yang berputus asa dari rahmat-Nya.”
Maaliki Yaumiddin (Yang menguasai hari kemudian)
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya
tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang
maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir
(diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak).
Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena
pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan
tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata,
kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia
mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah,
sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja”
adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti
pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk
diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami
beribadah atau menyembah, dan hanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan)
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta,
ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak
menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali
kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara
keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama
membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua
membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta
menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in
karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan,
sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke
sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan,
kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim (Berilah kami hidayah menuju
jalan yang lurus)
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian
diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta
yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu
baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih
membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik.
Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf
(ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-
mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama,
yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan,
ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang
menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah
yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah
menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama
lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid
memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-
Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang
lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang
disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta
hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki,
jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar
Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya.
Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta
kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan,
ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghduubi ‘alahim
waladh-dhaallin. (Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula
jalan mereka yang sesat)
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-
shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang
disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang
menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi,
shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan,
mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid
berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn
Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang
yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan
orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan
sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan
petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan
orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan
bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan
yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang
Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk
membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari,
karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus:
mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi
mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang
Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya.
Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam
kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya
yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya
kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi
‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan
waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan
sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah
permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca
ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga
dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang
beliau.”