ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣَﺪٌ (1) ﺍﻟﻠَّﻪُ
ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ 2) )
ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ (3) ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦ
ﻟَّﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺃَﺣَﺪٌ 4) )
Allah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang
Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang
bergantung kepadaNya segala
urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada
pula diperanakkan” [Al-Ikhlash :
3]
“Dan tidak ada seorang pun
yang setara dengan Dia” [Al-
Ikhlash : 4]
Sebab turunnya surat ini adalah,
ketika orang musyrik atau orang
Yahudi berkata kepada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam : “Beritakan kepada kami
sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah
Ta’ala menurunkan surat ini [1]
Qul = “Katakanlah”. Pernyataan
ini ditujukan kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
umatnya. “Huwa Allahu ahad” =
“Dialah Allah Yang Maha Esa”.
Menurut ahli I’rab, huwa adalah
dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah
Allah khabar mubtada dan
“Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu
Ash-Shomad’ kalimat tersendiri.
“Allahu Ahadun” Yakni, Dia
adalah Allah yang selalu kamu
bicarakan dan yang selalu kamu
memohon kepada-Nya.
“Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan-Nya, yang tiada
bandingan-Nya, tiada sekutu
bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa
dalam kemuliaan dan
keagungan. “Allahu Ash-
Shomad” adalah kalimat
tersendiri Allah Ta’ala
menjelaskan bahwa dia Ash-
Shomad. Makna yang paling
mencakup iallah Dia mempunyai
sifat yang sempurna yang
berbeda dengan semua
mahkhluk-Nya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas
bahwa Ash-Shomad ialah yang
sempurna Keilmuan-Nya, Yang
sempurna Kesantunan-Nya,
Yang sempurna Keagungan-Nya,
Yang sempurna Kekuasaan-Nya.
Sampai akhir perkatan-Nya [2].
Ini artinya bahwa Allah Ta’ala
tidak membutuhkan makhluk
karena Dia Maha Sempurna. Dan
juga tertera dalam tafsir
bahwasanya As-Shamad ialah
yang menangani semua urusan
makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa
seluruh makhluk sangat
bergantung kepada Allah Ta’ala.
Jadi, arti yang paling lengkap
ialah : Dia Maha Sempurna dalam
sifat-sifat-Nya dan seluruh
makhluk sangat bergantung
kepada-Nya.
“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza
wa Jalla tidak mempunyai anak
karena Dia adalah Dzat Yang
Maha Muali dan Maha Agung,
tidak ada yang serupa dengan-
Nya. Seorang anak adalah
sempalan dan bagian dari orang
tuanya. Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Fathimah Radhiyallahu
‘anha.
“Artinya : Ia adalah bahagian
dari diriku” [3]
Allah Azza wa Jalla tidak ada
yang serupa dengan-Nya. Anak
merupakan salah satu keperluan
manusia, baik untuk memenuhi
kebutuhan dunia maupun untuk
menjaga kesinambungan
keturunan. Allah Azza wa Jalla
tidak memerlukan itu semua. Dia
juga tidak dilahirkan karena
tidak ada yang serupa dengan-
Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak
memerlukan seorang dari
makhluk-Nya. Allah telah
mengisyaratkan bahwa mustahil
bagi-Nya mempunyai anak,
seperti dalam firman-Nya.
“Artinya : Bagaimana Dia
mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai isteri ? Dia
menciptakan segala sesuatu ‘
dan Dia mengetahui segala
sesuatu” [Al-An’am : 101]
Seorang anak memerlukan orang
yang melahirkannya.
Demikianlah, Allah adalah Dzat
Yang Menciptakan segala
sesuatu. Jika Allah menciptakan
segala sesuatu bererti Dia
terpisah dari makhluk-Nya.
Dalam firman-Nya : Lam yaalid”
= “tidak beranak” merupakan
bantahan terhadap tiga
kelompok anak Adam yang
menyimpang. Mereka adalah
orang Musyrik, orang Yahudi
dan orang Nasrani. Orang
musyrik meyakini bahwa
malaikat yang mereka itu
‘Ibadur Rahman’ berjenis
perempuan. Mereka mengatakan
bahwa malaikat tersebut adalah
anak perempuan Allah. Orang
Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah
anak Allah, dan orang Nasrani
mengatakan Al-masih adalah
anak Allah. Kemudian Allah
mengingkari mereka semua
dengan firman-Nya “Lam yaalid
wa lam yuu lad” = “Dia tiada
beranak dan tiada pula
diperanakan”, karena Allah Azza
wa Jalla adalah Dzat Yang
Pertama, tidak ada sesuatu yang
mendahului-Nya, bagaimana
mungkin dikatakan bahwa Dia
dilahirkan.
Firman Allah.
“Artinya : Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan
Dia” [Al-Ikhlash : 4]
Yaitu tidak ada sesuatu pun
yang menyamai seluruh sifat-
sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu
wa Ta’ala menafikan Dirinya
mempunyai ayah atau Dia
dilahirkan atau ada yang semisal
dengan-Nya.
Sureat ini mempunyai
keistimewaan yang sangat
agung. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Bahwa ia (surat Al-
Ikhlash) menyamai sepertiga Al-
Qur’an” [4]
Surat ini menyamai sepertiga Al-
Qur’an tetapi tidak dapat
menggantikan sepertiga Al-
Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau
seorang membaca surat ini
sebanyak tiga kali di dalam
shalat, masih belum mencukupi
sebelum ia membaca surat Al-
Fatihah. Padahal jika ia
membacanya tiga kali, seolah-
olah ia membaca semua Al-
Qur’an, tetapi tidak dapat
mencukupinya. Jadi, kamu
jangan heran ada sesuatu yang
sebanding tetapi tidak
mencukupi. Misalnya sabda
Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam : Barangsiapa membaca :
“Artinya : Tiada ilah yang berhak
disembah kecuali hanya Allah
yang tiada sekutu bagi-Nya,
kepunyaan-Nyalah segala
kekuasaan dan pujian, dan Dia
Maha Berkuasa atas segala
sesuatu”
Seakan-akan ia telah
membebaskan empat orang
budak dari keuturunan Isma’il
atau dari anak Ismail” [5]
Padahal jika ia berkewajiban
untuk membebaskan empat
orang hamba, dengan
mengatakan dzikir ini saja tidak
cukup untuk membebaskan
dirinya dari kewajiban
membebaskan hamba tersebut.
Oleh karena itu, sama
bandingnya sesuatu belum
tentu dapat menggantikan
posisi yang dibandingkan.
Surat ini dibaca Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
raka’at kedua shalat sunnah Fajr,
shalat sunnah Maghrib dan
shalat sunnah Thawaf [6].
Begitu juga beliau membacanya
dalam shalat witir [7], karena
surat ini merupakan landasan
keikhlasan yang sempurna
kepada Allah, inilah sebabnya
dinamai dengan surat Al-Ikhlash.
[Disalin dari kitab Tafsir Juz
‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz
‘Amma, penulis Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-
Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan
Al-Atsari, penerbit At-Tibyan –
Solo]
________
Foot Note
[1]. Hadits riwayat Ahmad dalam
Musnad (5/133), At-Tirmidzi
dalam Kitab Tafsir, bab : Surat Al-
Ikhlash, no. (3364)
[2]. Hadits riwayat Ath-Thabrany
dalam Tafsirnya (30/346). Dan
Al-Baihaqy dalam Asma Wash
Shiafat hal. 58-59
[3]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam kitab Fadhilah Para
Sahabat, bab : Budi pekerti
kerabat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan Fatimah
Radhiyallahu ‘anha no. (3714).
Dan Muslim dalam kitab Fadhilah
Para Sahabat, bab : Fadhilah Putri
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
no (2449) (93).
[4]. Hadits riwayat Al-Bukhary
dalam Kitab Fadhilah Al-Qur’an,
bab : Fadhilah “Qul Huwa Allahu
Ahad” no. (5015) Dan Muslim
dalam kitab Shalat Para Musafir,
bab : Fadhilah membaca “Qul
Huwa Allahu Ahad”, no. (811)
(30)
[5]. Hadits riwayat Muslim dalam
kitab Dzikir, bab : Fadhilah Tahlil,
no. (2693) (30)
[6] Telah disebutkan takhrijnya.
[7]. Hadits riwayat At-Tirmidzi,
dalam Bab-bab Witir, bab :
Bacaan yang dibaca dalam shalat
witir, no. (463). Ia berkata :
“hadits ini hasan gharib”.
Selasa, 29 November 2011
Senin, 28 November 2011
TAFSIR SURAH AL KAFIRUN
. [TAFSIR] : AL-KAAFIRUN Ayat [6] Hal:1/1
1 Katakanlah: `Hai orang-orang
kafir, (QS. 109:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
2 Aku tidak menyembah apa
yang kamu sembah. (QS. 109:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
3 Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah. (QS.
109:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 3
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 3) )
Dalam ayat ini Allah
menambahkan lagi pernyataan
yang disuruh sampaikan kepada
orang-orang kafir dengan
menyatakan, "Kamu tidak
menyembah Tuhanku yang aku
panggil kamu untuk
menyembah-Nya, karena
berlainan sifat-sifat-Nya dari
sifat-sifat "tuhan" yang kamu
sembah dan tidak mungkin
dipertemukan antara kedua
macam sifat tersebut:
4 Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa
yang kamu sembah, (QS. 109:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
5 dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan
yang aku sembah. (QS. 109:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
6 Untukmulah agamamu, dan
untukkulah, agamaku`. (QS.
109:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 6
ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨُﻜُﻢْ ﻭَﻟِﻲَ ﺩِﻳﻦِ 6) )
Kemudian dalam ayat ini Allah
mengancam orang-orang kafir
dengan firman-Nya yaitu, "Bagi
kamu balasan atas amal
perbuatanmu dan bagiku
balasan atas amal perbuatanku".
Dalam ayat lain yang sama
maksudnya Allah berfirman:
ﻭﻟﻨﺎ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ ﻭﻟﻜﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
Artinya:
"Bagi kami amalan kami, bagi
kamu amalan kamu".
Q.S.(Al Baqarah): 139.
1 Katakanlah: `Hai orang-orang
kafir, (QS. 109:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
2 Aku tidak menyembah apa
yang kamu sembah. (QS. 109:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 1 - 2
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ (1) ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ
ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ 2) )
Telah diriwayatkan bahwa Walid
bin Mugirah, 'As bin Wail As
Sahmi, Aswad bin Abdul Muttalib
dan Umaiyah bin Khalaf bersama
rombongan pembesar-pembesar
Quraisy datang menemui Nabi
SAW. menyatakan, "Hai
Muhammad! Marilah engkau
mengikuti agama kami dan kami
mengikuti agamamu dan engkau
bersama kami dalam semua
masalah yang kami hadapi,
engkau menyembah Tuhan kami
setahun dan kami menyembah
Tuhanmu setahun. Jika agama
yang engkau bawa itu benar,
maka kami berada bersamamu
dan mendapat bagian darinya,
dan jika ajaran yang ada pada
kami itu benar, maka engkau
telah bersekutu pula bersama-
sama kami dan engkau akan
mendapat bagian pula
daripadanya". Beliau menjawab,
"Aku berlindung kepada Allah
dari mempersekutukan-Nya".
Lalu turunlah surah Al Kafirun
sebagai jawaban terhadap
ajakan mereka.
Kemudian Nabi SAW pergi ke
Masjidilharam menemui orang-
orang Quraisy yang sedang
berkumpul di sana dan membaca
surah Al Kafirun ini, maka
mereka berputus asa untuk
dapat bekerja sama dengan Nabi
SAW. Sejak itu mulailah orang-
orang Quraisy meningkatkan
permusuhan mereka ke pada
Nabi dengan menyakiti beliau
dan para sahabatnya, sehingga
tiba masanya hijrah ke Madinah.
Dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menyatakan kepada orang-
orang kafir, bahwa "Tuhan"
yang kamu sembah bukanlah
"Tuhan" yang saya sembah,
karena kamu menyembah
"tuhan" yang memerlukan
pembantu dan mempunyai anak
atau ia menjelma dalam sesuatu
bentuk atau dalam sesuatu rupa
atau bentuk-bentuk lain yang
kau dakwakan.
Sedang saya menyembah Tuhan
yang tidak ada tandingan-Nya
dan tidak ada sekutu bagi-Nya;
tidak mempunyai anak, tidak
mempunyai teman wanita dan
tidak menjelma dalam sesuatu
tubuh. Akal tidak sanggup
menerka bagaimana Dia, tidak
ditentukan oleh tempat dan
tidak terikat oleh masa, tidak
memerlukan perantaraan dan
tidak pula memerlukan
penghubung.
Maksudnya; perbedaan sangat
besar antara "tuhan" yang kamu
sembah dengan "Tuhan" yang
saya sembah. Kamu menyakiti
tuhanmu dengan sifat-sifat
yang tidak layak sama sekali
bagi Tuhan yang saya sembah.
3 Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah. (QS.
109:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 3
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 3) )
Dalam ayat ini Allah
menambahkan lagi pernyataan
yang disuruh sampaikan kepada
orang-orang kafir dengan
menyatakan, "Kamu tidak
menyembah Tuhanku yang aku
panggil kamu untuk
menyembah-Nya, karena
berlainan sifat-sifat-Nya dari
sifat-sifat "tuhan" yang kamu
sembah dan tidak mungkin
dipertemukan antara kedua
macam sifat tersebut:
4 Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa
yang kamu sembah, (QS. 109:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
5 dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan
yang aku sembah. (QS. 109:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 4 - 5
ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَﺎ ﻋَﺒَﺪْﺗُﻢْ (4) ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ
ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ 5) )
Kemudian sesudah Allah
menyatakan tentang tidak
mungkin ada persamaan sifat
antara Tuhan yang disembah
oleh Nabi SAW. dengan yang
disembah oleh mereka, maka
dengan sendirinya tidak ada
pula persamaan tentang ibadat.
Mereka menganggap bahwa
ibadat yang mereka lakukan di
hadapan berhala-berhala atau di
tempat-tempat beribadat
lainnya, atau di tempat-tempat
sepi, bahwa ibadat itu dilakukan
secara ikhlas untuk Allah,
sedangkan Nabi tidak melebihi
mereka sedikitpun dalam hal itu,
maka dalam ayat-ayat ini Allah
memerintahkan Nabi-Nya agar
menjelaskan bahwa, "Saya tidak
beribadat sebagai ibadatmu dan
kamu tidak beribadat sebagai
ibadatku". Ini adalah pendapat
Abu Muslim Al Asfahani.
Maksud keterangan di atas
menjelaskan bahwa hal tersebut
menjadi jelas dengan adanya
perbedaan apa yang disembah
dan cara ibadat masing-masing.
Oleh sebab itu tidak mungkin
sama menyembah Tuhan Yang
Maha Esa dan cara beribadat
kepada-Nya, karena Tuhan yang
saya sembah maha suci dari
sekutu dan tandingan, tidak
menjelma pada seseorang atau
memihak kepada suatu bangsa
atau orang tertentu. Sedang
"tuhan" yang kamu sembah itu
berbeda dari Tuhan yang
tersebut di atas. Lagi pula ibadat
saya hanya untuk Allah saja,
sedang ibadatmu bercampur
dengan syirik dan dicampuri
dengan kelalaian dari Allah, maka
yang demikian itu tidak
dinamakan ibadat.
6 Untukmulah agamamu, dan
untukkulah, agamaku`. (QS.
109:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun
Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG /
Surah Al Kaafiruun 6
ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨُﻜُﻢْ ﻭَﻟِﻲَ ﺩِﻳﻦِ 6) )
Kemudian dalam ayat ini Allah
mengancam orang-orang kafir
dengan firman-Nya yaitu, "Bagi
kamu balasan atas amal
perbuatanmu dan bagiku
balasan atas amal perbuatanku".
Dalam ayat lain yang sama
maksudnya Allah berfirman:
ﻭﻟﻨﺎ ﺃﻋﻤﺎﻟﻨﺎ ﻭﻟﻜﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ
Artinya:
"Bagi kami amalan kami, bagi
kamu amalan kamu".
Q.S.(Al Baqarah): 139.
Sabtu, 26 November 2011
TAFSIR SURAH AN-NAAS.
satu surat Makkiyyah atau surat
yang turun di kota Mekkah. An-
Naas juga salah satu dari dua
ayat yang disebut dengan
mu'awwizatain (dua
perlindungan). Di dalamnya
terkandung permohonan
perlindungan dan pengamanan
kepada Allah swt dari keburukan
gembong segala musuh
bebuyutan manusia, yaitu Iblis
dan konco-konconya dari
golongan jin dan manusia yang
tugasnya menyesatkan manusia
dengan beragam was-was dan
penyesatan.
Al-Qur'an ini ditutup dengan dua
surat mu'awwizatain dan
diawali dengan surat al-Fatihah
untuk menghimpun antara
permulaan yang baik dan
penutup yang baik pula. Itulah
puncak keelokan kebaikan dan
keindahan. Karena seorang
hamba memohon kepada Allah
dan berserah diri kepada-Nya
sejak di awal urusan hingga
akhirnya.
Berlindung dari Keburukan
Setan:
Allah berfirman:
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻪ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺷﺮ ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻮﺳﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
Artinya: "Katakanlah (hai
Muhammad): Aku berlindung
kepada Tuhan manusia. Raja
manusia, Tuhan manusia, dari
keburukan was-was setan
perempuan yang meniupkan
was-was di dalam dada manusia,
dari golongan jin dan
manusia." (Qs an-Naas: 5).
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ Katakanlah hai
Muhammad, aku berpegang
teguh, bersandar dan berlindung
( ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ) yakni; Tuhan
manusia, pendidik dan pengatur
urusan mereka. Dialah yang
menghidupkan dan membuat
mereka ada dari tidak ada.
Memberikan nikmat yang
beraneka ragam banyaknya.
Para Ahli Tafsir mengatakan:
"Dikhususkan penyebutan
kepada manusia sebagai
penghormatan dan pemuliaan
terhadap mereka, karena Allah
telah menundukkan kepada
mereka apa-apa yang ada di
jagat raya ini. Allah juga
memberikan karunia akal dan
ilmu kepada mereka. Menyuruh
para malaikat untuk sujud
kepadanya, sementara malaikat
adalah makhluk yang paling
utama secara mutlak."
ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni raja semua
makhluk, baik penguasa ataupun
rakyat secara sempurna, utuh
dan menyeluruh. Allah telah
menentukan amal perbuatan
mereka dan mengatur urusan
mereka. Dialah yang memuliakan
dan Dia pula yang merendahkan.
Membuat kaya dan memiskinkan
manusia.
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni; sesembahan
mereka yang tidak ada Tuhan
bagi mereka selain-Nya.
Imam Qurthubi berkata:
"Disebukan dengan ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ karena manusia
memiliki raja Makanya ayat ini
menyebutkan bahwa Allah
adalah raja mereka. Ketika pada
manusia ada yang disembah
selain ALlah, lalu Allah
menyebutkan bahwa Dialah
tuhan dan sesembahan mereka.
Allahlah yang wajib untuk minta
perlindungan-Nya dan tempat
berserah diri manusia. Itu karena
manusia, pertama mengenal
bahwa dirinya memiliki Tuhan
yang telah mentarbiyyahnya ﺭﺏ
ﺍﻟﻨﺎﺱ kemudian ketika ia
berpikir maka ia kemudian
mengenal bahwa Tuhan ini pasti
mengendalikan makhluk-
makhluk-Nya dan tidak butuh
kepada mereka. Dialah Tuhan
manusia ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ . Selanjutnya
apabila penghayatannya kepada
alam semesta ini bertambah,
maka ia akan mengerti bahwa
Allah pantas untuk disembah.
Karena tidak ada yang patut
disembah selain Zat yang Maha
Kaya dan patut diminta-minta
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ.
Kenapa lafaz ﺍﻟﻨﺎﺱ (manusia)
diulang-ulang sampai 3 kali dan
tidak cukup menggunakan kata
ganti?! Karena untuk
memperlihatkan kemuliaan,
keagungan dan perhatian lebih
akan peran mereka di atas muka
bumi ini.
Ibnu Katsir mengatakan: "3
sifat Allah swt ini adalah
rububiyyah, malik dan ilahiyyah.
Allah-lah Tuhan segala sesuatu,
raja dan penciptanya. Segala
sesuatu adalah makhluk dan
milik-Nya. Allah menyuruh
manusia untuk berlindung
dengan sifat-sifat ini. ﻣﻦ ﺷﺮ
ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ yakni dari
bisikan was-was setan yang
meniupkan pembicaaan jahat di
dalam dada. Setan membisikkan
manusia agar ia terpedaya
dengan perbuatan maksiat.
(ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ): yang bersembunyi dan
mundur ketika seorang hamba
mengingat Tuhannya. Apabila
seorang manusia lupa Allah,
maka setanpun kembali dan
membisikkannya."
Dalam sebuah hadits
disebutkan:
ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺍﺿﻊ ﺧﻄﻤﻪ -ﺃﻧﻔﻪ-
ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐ ﺍﻥ ﺁﺩﻡ, ﻓﺈﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻨﺲ.
ﻭﺇﺫﺍ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻔﻢ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻮﺳﻮﺱ
"Sesungguhnya setan
meletakkan hidungnya di hati
anak Adam. Maka apabila
mengingat Allah ia bersembunyi.
Sebaliknya, jika ia lupa kepada
Allah setan balik kepada hatinya
dan mulai membisikkannya."
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺴﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni
setan yang melemparkan
bisikan-bisikan jahat di hati
manusia dengan berbagai
macam was-was bisikan dan
angan-angan.
Imam Qurthubi berkata: "Was-
was setan itu berupa seruan
untuk mentaatinya dengan
perkataan yang lembut tapi
maksudnya sampai ke hati
manusia tanpa terdengar melalui
suara."
ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻣﻦ di sini bermakna
'bayaniyyah' artinya bahwa jin
yang membuat manusia was-
was itu adalah golongan setan
yang berasal dari jenis jin dan
manusia. Hal ini sepert yang
Allah sebutkan pula dalam ayat:
ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺍﻹِﻧﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ
ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭًﺍ
Artinya: "Setan-setan dari
kalangan manusia dan jin yang
membisikkan sebagian satu
sama lain di antara mereka
dengan ucapan yang indah dan
mengandung tipu daya."(Qs Al-
An'am: 112).
Ayat ini menerangkan tentang
perlindungan dari kejahatan jin
dan manusia secara bersama-
sama. Tidak diragukan lagi bagi
kita bahwa setan-setan dari
jenis manusia lebih bahaya dan
licik daripada jenis setan dari
golongan jin. Itu karena
golongan setan dari jenis jin
akan bersembunyi ketika
menghadapi isti'azah.
Sedangkan golongan setan dari
jenis manusia menghiasi
manusia lainnya dengan
perbuatan keji dan memperdaya
dengan kemungkaran.
Hanya orang yang Allah pelihara
saja yang akan dijaga oleh-Nya.
Wallahu a'lam bish-showab.
yang turun di kota Mekkah. An-
Naas juga salah satu dari dua
ayat yang disebut dengan
mu'awwizatain (dua
perlindungan). Di dalamnya
terkandung permohonan
perlindungan dan pengamanan
kepada Allah swt dari keburukan
gembong segala musuh
bebuyutan manusia, yaitu Iblis
dan konco-konconya dari
golongan jin dan manusia yang
tugasnya menyesatkan manusia
dengan beragam was-was dan
penyesatan.
Al-Qur'an ini ditutup dengan dua
surat mu'awwizatain dan
diawali dengan surat al-Fatihah
untuk menghimpun antara
permulaan yang baik dan
penutup yang baik pula. Itulah
puncak keelokan kebaikan dan
keindahan. Karena seorang
hamba memohon kepada Allah
dan berserah diri kepada-Nya
sejak di awal urusan hingga
akhirnya.
Berlindung dari Keburukan
Setan:
Allah berfirman:
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻪ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺷﺮ ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻮﺳﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ
ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
Artinya: "Katakanlah (hai
Muhammad): Aku berlindung
kepada Tuhan manusia. Raja
manusia, Tuhan manusia, dari
keburukan was-was setan
perempuan yang meniupkan
was-was di dalam dada manusia,
dari golongan jin dan
manusia." (Qs an-Naas: 5).
ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ Katakanlah hai
Muhammad, aku berpegang
teguh, bersandar dan berlindung
( ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ ) yakni; Tuhan
manusia, pendidik dan pengatur
urusan mereka. Dialah yang
menghidupkan dan membuat
mereka ada dari tidak ada.
Memberikan nikmat yang
beraneka ragam banyaknya.
Para Ahli Tafsir mengatakan:
"Dikhususkan penyebutan
kepada manusia sebagai
penghormatan dan pemuliaan
terhadap mereka, karena Allah
telah menundukkan kepada
mereka apa-apa yang ada di
jagat raya ini. Allah juga
memberikan karunia akal dan
ilmu kepada mereka. Menyuruh
para malaikat untuk sujud
kepadanya, sementara malaikat
adalah makhluk yang paling
utama secara mutlak."
ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni raja semua
makhluk, baik penguasa ataupun
rakyat secara sempurna, utuh
dan menyeluruh. Allah telah
menentukan amal perbuatan
mereka dan mengatur urusan
mereka. Dialah yang memuliakan
dan Dia pula yang merendahkan.
Membuat kaya dan memiskinkan
manusia.
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni; sesembahan
mereka yang tidak ada Tuhan
bagi mereka selain-Nya.
Imam Qurthubi berkata:
"Disebukan dengan ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ karena manusia
memiliki raja Makanya ayat ini
menyebutkan bahwa Allah
adalah raja mereka. Ketika pada
manusia ada yang disembah
selain ALlah, lalu Allah
menyebutkan bahwa Dialah
tuhan dan sesembahan mereka.
Allahlah yang wajib untuk minta
perlindungan-Nya dan tempat
berserah diri manusia. Itu karena
manusia, pertama mengenal
bahwa dirinya memiliki Tuhan
yang telah mentarbiyyahnya ﺭﺏ
ﺍﻟﻨﺎﺱ kemudian ketika ia
berpikir maka ia kemudian
mengenal bahwa Tuhan ini pasti
mengendalikan makhluk-
makhluk-Nya dan tidak butuh
kepada mereka. Dialah Tuhan
manusia ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻟﻨﺎﺱ . Selanjutnya
apabila penghayatannya kepada
alam semesta ini bertambah,
maka ia akan mengerti bahwa
Allah pantas untuk disembah.
Karena tidak ada yang patut
disembah selain Zat yang Maha
Kaya dan patut diminta-minta
ﺇﻟﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ.
Kenapa lafaz ﺍﻟﻨﺎﺱ (manusia)
diulang-ulang sampai 3 kali dan
tidak cukup menggunakan kata
ganti?! Karena untuk
memperlihatkan kemuliaan,
keagungan dan perhatian lebih
akan peran mereka di atas muka
bumi ini.
Ibnu Katsir mengatakan: "3
sifat Allah swt ini adalah
rububiyyah, malik dan ilahiyyah.
Allah-lah Tuhan segala sesuatu,
raja dan penciptanya. Segala
sesuatu adalah makhluk dan
milik-Nya. Allah menyuruh
manusia untuk berlindung
dengan sifat-sifat ini. ﻣﻦ ﺷﺮ
ﺍﻟﻮﺳﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ yakni dari
bisikan was-was setan yang
meniupkan pembicaaan jahat di
dalam dada. Setan membisikkan
manusia agar ia terpedaya
dengan perbuatan maksiat.
(ﺍﻟﺨﻨﺎﺱ): yang bersembunyi dan
mundur ketika seorang hamba
mengingat Tuhannya. Apabila
seorang manusia lupa Allah,
maka setanpun kembali dan
membisikkannya."
Dalam sebuah hadits
disebutkan:
ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺍﺿﻊ ﺧﻄﻤﻪ -ﺃﻧﻔﻪ-
ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐ ﺍﻥ ﺁﺩﻡ, ﻓﺈﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻨﺲ.
ﻭﺇﺫﺍ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻔﻢ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻮﺳﻮﺱ
"Sesungguhnya setan
meletakkan hidungnya di hati
anak Adam. Maka apabila
mengingat Allah ia bersembunyi.
Sebaliknya, jika ia lupa kepada
Allah setan balik kepada hatinya
dan mulai membisikkannya."
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺴﻮﺱ ﻓﻰ ﺻﺪﻭﺭ ﺍﻟﻨﺎﺱ yakni
setan yang melemparkan
bisikan-bisikan jahat di hati
manusia dengan berbagai
macam was-was bisikan dan
angan-angan.
Imam Qurthubi berkata: "Was-
was setan itu berupa seruan
untuk mentaatinya dengan
perkataan yang lembut tapi
maksudnya sampai ke hati
manusia tanpa terdengar melalui
suara."
ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ
ﻣﻦ di sini bermakna
'bayaniyyah' artinya bahwa jin
yang membuat manusia was-
was itu adalah golongan setan
yang berasal dari jenis jin dan
manusia. Hal ini sepert yang
Allah sebutkan pula dalam ayat:
ﺷَﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﺍﻹِﻧﺲِ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ
ﺇِﻟَﻰ ﺑَﻌْﺾٍ ﺯُﺧْﺮُﻑَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﻏُﺮُﻭﺭًﺍ
Artinya: "Setan-setan dari
kalangan manusia dan jin yang
membisikkan sebagian satu
sama lain di antara mereka
dengan ucapan yang indah dan
mengandung tipu daya."(Qs Al-
An'am: 112).
Ayat ini menerangkan tentang
perlindungan dari kejahatan jin
dan manusia secara bersama-
sama. Tidak diragukan lagi bagi
kita bahwa setan-setan dari
jenis manusia lebih bahaya dan
licik daripada jenis setan dari
golongan jin. Itu karena
golongan setan dari jenis jin
akan bersembunyi ketika
menghadapi isti'azah.
Sedangkan golongan setan dari
jenis manusia menghiasi
manusia lainnya dengan
perbuatan keji dan memperdaya
dengan kemungkaran.
Hanya orang yang Allah pelihara
saja yang akan dijaga oleh-Nya.
Wallahu a'lam bish-showab.
Jumat, 25 November 2011
TAFSIR SURAH ALFATEHAH.
(Ummul Qur-an/Induk al-Quran, Ummul Kitab/Induk al-Kitab,
dan as-Sab’ul Matsani/Tujuh yang berulang-ulang)
Surah ini dinamai Al-Fatihah (artinya “Pembuka”), di antaranya karena
bacaan Al-Quran dalam salat dimulai dengan surah ini. Surah ini juga
mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-
Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan nama Allah, Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang).
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini.
Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap
pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap
perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-
rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu ,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang
tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan
membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab
yang lain hukumnya wajib. Disunahkan pula membaca basmalah ketika
hendak makan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Ucapkanlah
basmalah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah sesuatu yang
dekat denganmu.”
Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara
kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah,
jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang
Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’,
seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat
itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.”
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah
untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin.
Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh
digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman
atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman
tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat
rahman”).
Di antara nama-nama Allah, Ada yang digunakan untuk mahluk,
ada pula yang tidak digunakan untuk mahluk, seperti lafaz Allah, Al-
Khaliq, Ar-Raziq, dll, termasuk Ar-Rahman, sebagaimana yang telah
disebutkan di atas. Sedangkan lafaz Ar-Rahim, Allah gunakan juga
untuk menggambarkan Nabi SAW, yaitu pada firman Allah Bil-
mu’miniina ra’ufunrahim (Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin). Sebagaimana allah menggambarkan manusia
dengan menggunakan sebagian namanya, yaitu pada firman-Nya
Faja’ainaahu sami’an bashira (Maka kami jadikan dia mendengar dan
melihat).”
Alhamdu lillaahi Rabbil-aalamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam).
Ibn Jarir mengatakan, pengertian alhamdulillah adalah bersyukur
kepada Allah secara tulus karena Dia telah memberikan nikmat-nikmat
yang tak terhingga kepada hamba-hamba-Nya. Juga karena Dia telah
menyehatkan anggota tubuh mukallaf (orang yang berakal dan balig)
untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya, di samping memberikan
rezeki dalam urusan dunia mereka sehingga mereka dapat merasakan
kehidupan yang menyenangkan. Karena itu, Tuhan berhak untuk dipuji
atas semua nikmat itu. Alhamdulillah merupakan suatu pujian di mana
Allah memuji dirinya yang juga mengandung perintah kepada para
hamba-Nya untuk memuji-Nya.
Di dalam hadist disebutkan, “Sebaik-baiknya zikir adalah ucapan
La ilaha illallah, dan sebaik-baiknya doa adalah ucapan Alhamdulillah.”
Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan, “Tidaklah Allah memberikan
nikmat kepada seorang hamba lalu hamba itu mengucap Alhamdulillah,
melainkan apa yang Dia berikan lebih utama daripada yang Dia ambil.”
Pengertian rabb adalah pemilik yang bertindak terhadap
miliknya, kemudian digunakan untuk pengertian tuan dan yang
melakukan perbaikan. Semua pengertian itu sah terdapat pada diri
Allah . Pada selain Allah, kata rabb hanya digunakan dengan dikaitkan
pada kata lainnya seperti rabbud-dar (pemilik rumah), sedangkan kata
rabb saja yang tidak diikuti kata lainnya hanya digunakan untuk Allah.
Ar-rahmanir-rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-
rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk
mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman,
meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung
kabar gembira). Di dalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya
di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak
melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-
rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.
Di dalam hadis dikatakan, “Seandainya seorang mukmin
mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tak seorang pun yang
menginginkan surga-Nya (artinya, asal terhindar dari siksa-Nya saja
sudah merasa sangat beruntung); dan seandainya seorang kafir
mengetahui rahmat yang ada di sisi-Nya, niscaya tak seorang pun
yang berputus asa dari rahmat-Nya.”
Maaliki Yaumiddin (Yang menguasai hari kemudian)
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya
tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang
maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir
(diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak).
Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena
pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan
tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata,
kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia
mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah,
sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja”
adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti
pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk
diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami
beribadah atau menyembah, dan hanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan)
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta,
ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak
menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali
kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara
keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama
membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua
membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta
menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in
karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan,
sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke
sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan,
kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim (Berilah kami hidayah menuju
jalan yang lurus)
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian
diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta
yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu
baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih
membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik.
Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf
(ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-
mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama,
yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan,
ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang
menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah
yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah
menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama
lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid
memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-
Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang
lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang
disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta
hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki,
jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar
Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya.
Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta
kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan,
ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghduubi ‘alahim
waladh-dhaallin. (Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula
jalan mereka yang sesat)
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-
shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang
disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang
menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi,
shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan,
mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid
berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn
Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang
yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan
orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan
sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan
petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan
orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan
bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan
yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang
Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk
membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari,
karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus:
mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi
mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang
Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya.
Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam
kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya
yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya
kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi
‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan
waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan
sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah
permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca
ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga
dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang
beliau.”
dan as-Sab’ul Matsani/Tujuh yang berulang-ulang)
Surah ini dinamai Al-Fatihah (artinya “Pembuka”), di antaranya karena
bacaan Al-Quran dalam salat dimulai dengan surah ini. Surah ini juga
mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-
Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.
Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan nama Allah, Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang).
Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini.
Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap
pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap
perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-
rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.
Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu ,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang
tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan
membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab
yang lain hukumnya wajib. Disunahkan pula membaca basmalah ketika
hendak makan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Ucapkanlah
basmalah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah sesuatu yang
dekat denganmu.”
Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh,
berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara
kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah,
jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang
Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’,
seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat
itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.”
Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah
untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin.
Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh
digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman
atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman
tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat
rahman”).
Di antara nama-nama Allah, Ada yang digunakan untuk mahluk,
ada pula yang tidak digunakan untuk mahluk, seperti lafaz Allah, Al-
Khaliq, Ar-Raziq, dll, termasuk Ar-Rahman, sebagaimana yang telah
disebutkan di atas. Sedangkan lafaz Ar-Rahim, Allah gunakan juga
untuk menggambarkan Nabi SAW, yaitu pada firman Allah Bil-
mu’miniina ra’ufunrahim (Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin). Sebagaimana allah menggambarkan manusia
dengan menggunakan sebagian namanya, yaitu pada firman-Nya
Faja’ainaahu sami’an bashira (Maka kami jadikan dia mendengar dan
melihat).”
Alhamdu lillaahi Rabbil-aalamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam).
Ibn Jarir mengatakan, pengertian alhamdulillah adalah bersyukur
kepada Allah secara tulus karena Dia telah memberikan nikmat-nikmat
yang tak terhingga kepada hamba-hamba-Nya. Juga karena Dia telah
menyehatkan anggota tubuh mukallaf (orang yang berakal dan balig)
untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya, di samping memberikan
rezeki dalam urusan dunia mereka sehingga mereka dapat merasakan
kehidupan yang menyenangkan. Karena itu, Tuhan berhak untuk dipuji
atas semua nikmat itu. Alhamdulillah merupakan suatu pujian di mana
Allah memuji dirinya yang juga mengandung perintah kepada para
hamba-Nya untuk memuji-Nya.
Di dalam hadist disebutkan, “Sebaik-baiknya zikir adalah ucapan
La ilaha illallah, dan sebaik-baiknya doa adalah ucapan Alhamdulillah.”
Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan, “Tidaklah Allah memberikan
nikmat kepada seorang hamba lalu hamba itu mengucap Alhamdulillah,
melainkan apa yang Dia berikan lebih utama daripada yang Dia ambil.”
Pengertian rabb adalah pemilik yang bertindak terhadap
miliknya, kemudian digunakan untuk pengertian tuan dan yang
melakukan perbaikan. Semua pengertian itu sah terdapat pada diri
Allah . Pada selain Allah, kata rabb hanya digunakan dengan dikaitkan
pada kata lainnya seperti rabbud-dar (pemilik rumah), sedangkan kata
rabb saja yang tidak diikuti kata lainnya hanya digunakan untuk Allah.
Ar-rahmanir-rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-
rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk
mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman,
meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung
kabar gembira). Di dalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya
di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak
melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-
rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.
Di dalam hadis dikatakan, “Seandainya seorang mukmin
mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tak seorang pun yang
menginginkan surga-Nya (artinya, asal terhindar dari siksa-Nya saja
sudah merasa sangat beruntung); dan seandainya seorang kafir
mengetahui rahmat yang ada di sisi-Nya, niscaya tak seorang pun
yang berputus asa dari rahmat-Nya.”
Maaliki Yaumiddin (Yang menguasai hari kemudian)
Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya
tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang
maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir
(diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak).
Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena
pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan
tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.
Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata,
kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia
mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah,
sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja”
adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti
pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk
diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami
beribadah atau menyembah, dan hanya kepada-Mu kami
memohon pertolongan)
Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta,
ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak
menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali
kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara
keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama
membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua
membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta
menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in
karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan,
sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke
sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan,
kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.
Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim (Berilah kami hidayah menuju
jalan yang lurus)
Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian
diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta
yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu
baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih
membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.
Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik.
Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf
(ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-
mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama,
yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan,
ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang
menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.
Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah
yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah
menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama
lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid
memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-
Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang
lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang
disebutkan tadi.
Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta
hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki,
jawabannya sebagai berikut:
Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar
Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya.
Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta
kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan,
ketetapan (kemantapan), dan taufik.
Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghduubi ‘alahim
waladh-dhaallin. (Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula
jalan mereka yang sesat)
Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-
shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang
disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang
menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan
mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi,
shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan,
mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid
berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn
Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..
Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang
yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan
orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan
sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan
petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan
orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan
bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan
yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang
Nasrani.
Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk
membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari,
karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus:
mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi
mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang
Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya.
Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam
kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya
yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya
kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi
‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan
waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”
Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan
sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah
permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca
ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga
dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang
beliau.”
Kamis, 24 November 2011
HIJRAH UMAT TERDAHULU.
Konsep Hijrah Dalam
Perspektif Al-Qur’an ( Vol 3 )
Catatan sejarah menunjukkan
bahawa, perjalanan hijrah tidak
hanya dilakukan oleh Rasulullah
SAW dan para sahabat sahaja.
Bahkan lebih awal dari itu, ia
telah dilakukan oleh rasul-rasul
dan ummat sebelumnya.
Antaranya adalah seperti
berikut:
Hijrah Ummat Terdahulu
Ashabul Kahfi adalah contoh
penting dari pelaksanaan ibadah
hijrah yang dilakukan oleh umat
terdahulu. Kisah mereka
diabadikan oleh Allah SWT di
dalam al-Qur’an pada Surah Al-
Kahfi dari ayat ke-9 hingga ayat
26. Mereka adalah satu golongan
anak muda yang beriman
kepada Allah SWT. Sebagian ahli
tafsir menyebutkan bahwa
mereka hidup setelah Isa,
sebagai orang Nasrani. Sebagian
pula berpendapat bahwa
mereka adalah kaum Muslim
pengikut agama Isa, sedangkan
pada masa itu raja mereka
adalah penyembah berhala, yang
menyeru mereka menyembah
berhala. Diriwayatkan juga
bahwa mereka adalah satu kaum
dari anak cucu para bangsawan
kota Daqyus, kerajaan kafir. Juga
dinamakan Daqinus.
Diriwayatkan bahwa mereka
mengenakan tutup kepala dan
gelang dari emas yang memiliki
liontin. Mereka datang dari
Romawi yang kemudian
mengikuti agama Isa.
Lebih dari satu ahli tafsir, baik
generasi terdahulu maupun
generasi akhir yang
menyebutkan bahwa mereka
adalah anak keturunan raja-raja
Romawi dan para pemimpin
mereka. Ath-Thabari mengutip
pendapat Ibnu Abbas bahwa,
mereka berjumlah delapan
orang. Maksimilina adalah yang
terbesar di antara mereka dan
dialah yang berbicara dengan
raja. Kemudian Mahsimilina,
Yamliha, Marthus, Kasythusy,
Pirunus, Dinamus, Bathunus dan
Qalush. Ibnu Kathir mengatakan
bahwa, jumlah mereka adalah
tujuh orang berdasarkan firman
Allah SWT:
Artinya: Nanti (ada orang yang
akan) mengatakan “(jumlah
mereka) tiga (orang), yang
keempat adalah anjingnya” dan
(yang lain) mengatakan “(jumlah
mereka) lima (orang), yang
keenam adalah anjingnya”
sebagai terkaan yang ghaib dan
yang (yang lain lagi)
mengatakan “(jumlah mereka)
tujuh (orang), yang kedelapan
adalah anjingnya”. (QS. Al-Kahfi:
22)
Hijrah para pemuda Ashabul
Kahfi ini berawal dari
penyaksian mereka terhadap
amalan kaumnya yang
menyembah berhala-berhala dan
taghut serta menyembelih
binatang ternak untuk
dipersembahkan pada tuhan
mereka pada hari besar agama
mereka di pusat kota setiap satu
tahun sekali di bawah
pengarahan seorang raja yang
kejam dan keji yaitu Dikyanus.
Mereka menyadari bahwa apa
yang dilakukan oleh kaumnya
dengan bersujud kepada berhala
sesungguhnya merupakan hak
Allah SWT yang telah
menciptakan langit dan bumi.
Mulailah satu demi satu dari
mereka meninggalkan kaumnya
dan menolak perbuatan mereka
dan menentang mereka dalam
hal itu. Orang yang pertama di
antara mereka adalah duduk
dibawah pohon rindang.
Kemudian menyusul orang
kedua yang turut duduk disana.
Kemudian berdatangan yang
selanjutnya. Mereka bukanlah
orang yang saling mengenal,
namun hati mereka yang
menyebabkan mereka
berkumpul dalam kumpulan
iman.
Mereka berdiri dihadapan kaum
mereka sambil mengumumkan
ketauhidan dan berlepas diri dari
kesyirikan yang dilakukan kaum
mereka. Mereka berkata “Tuhan
kami bukan Tuhan Fulan dan
Fulan, tapi Dia Tuhan langit dan
bumi. Dialah Raja, Pencipta dan
pengatur langit dan bumi”. Para
pemuda itu tidak peduli dengan
sesiapa pun juga. Mereka seperti
tukang-tukang sihir Fir’aun yang
tidak peduli ancaman Fir’aun,
mereka tetap teguh dengan
kebenaran. Mereka
meninggalkan kampung halaman
mereka menuju ke sebuah gua.
Dikatakan bahwa, lokasi gua itu
berada di Gunung Ar-Raqim
(dekat Amman, Yordan).Para
ulama berbeda pendapat
tentang letak gua itu.
Kebanyakan mereka berkata
“gua itu di bumi Ailah”.
Dikatakan pula “gua itu lebih
tepat di negeri Romawi”.
Wallahua’lam.
Sedangkan tentang anjing (yang
bersama mereka) diriwayatkan
bahwa anjing itu adalah anjing
berburu mereka milik mereka.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa,
dalam perjalanan mereka
berjumpa dengan seorang
penggembala yang memiliki
seekor anjing. Penggembala itu
mengikuti mereka karena
adanya kesesuaian dengan
pendapat mereka. Para pemuda
ini lalu ditidurkan oleh Allah SWT
di dalam gua tersebut selama
tiga ratus tahun ditambah
sembilan tahun Hilaliyah
(Qamariyah). Sedangkan dalam
hitungan Syamsiyah lamanya
adalah tiga ratus tahun. Sebab,
perbedaan antara setiap seratus
tahun penanggalan Qamariyah
dengan penanggalan Syamsiyah
adalah tiga tahun. Karena itulah,
Allah menyatakan “selama tiga
ratus tahun dan ditambah
sembilan tahun”.
Mereka masing-masing bangkit
dalam keadaan tertanya-tanya
mengenai lama masa mereka
tidur sehinggalah Allah SWT
menjelaskan kepada mereka
melalui manusia yang hidup
pada zaman tersebut tentang
keadaan diri mereka.
Setelah bangkit dari tidur,
mereka mengutus salah seorang
dari mereka dengan uang
logamnya ke kota, yang
dengannya agar membawakan
makanan, namun
keberadaannya dan juga
dirhamnya tertolak karena telah
kuno. Sehingga ia dibawa
kepada raja yang yang ketika itu
seorang yang shalih dan rakyat
pun telah beriman. Ketika raja
melihatnya, ia berkata “kiranya
ini adalah para pemuda yang
pergi di zaman raja Dikyanus.
Aku telah berdoa kepada Allah,
sudi kiranya menunjukkan
mereka kepadaku”. Akhirnya
mereka bersama-sama
berangkat ke gua. Kebanyakan
riwayat mengatakan bahwa
mereka meninggal dunia ketika
diajak berbicara oleh Tamlikha,
teman mereka yang kembali dari
kota bersama raja yang beriman
ini.
Hijrah Para Nabi
Antaranya adalah seperti
berikut:
1) Nabi Ibrahim
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Ibrahim
Alaihissalam:
a) Hijrah dari Babilonia menuju ke
Syam (Syria) dan Palestina.
b) Hijrah ke Mesir
c) Hijrah dari Mesir kembali ke Syam
d) Hijrah ke bumi Mekah dan
membangun Baitullah
2) Nabi Luth
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Luth
‘Alaihissalam:
a) Hijrah ke Syam bersama bapa
saudaranya Nabi Ibrahim
b) Hijrah ke Sadum (sekitar Jordan)
3) Nabi Musa
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Musa
Alaihissalam:
a) Dari Mesir ke Madyan
b) Dari Madyan kembali ke Mesir
c) Dari Mesir ke Syam (Palestin)
4) Nabi Muhammad
Berikut adalah tempat-tempat
penghijaran Nabi Muhammad
dan para sahabat:
a) Hijrah ke Habsyah kali pertam
a – Bulan Rejab Tahun ke-5
Nubuwwah (Kenabian) dengan
jumlah 15 orang iaitu 10 lelaki
dan 5 perempuan. Nabi tidak
sertai.
b) Hijrah ke Habsyah kali kedua –
Bulan Syawal Tahun ke-5 Nubuw
wah (Kenabian). Jumlah mereka
83 lelaki dan 19 perempuan.
Ketua rombongan adalah Ja’afar
bin Abi Talib. Nabi tidak sertai.
c) Hijrah ke Ta’if – Rasulullah
keluar berdakwah di Ta’if selama
10 hari bersama Zaid bin
Harithah. Tiada yang menerima
Islam kecuali seorang hamba
iaitu Addas (seorang Nasrani),
hamba kepada Utbah bin Rabi’ah
dan Syaibah bin Rabi’ah. Hijrah
ke Ta’if berlaku selepas tahun
ke-10 Nubuwwah.
d) Hijrah ke Madinah – Para
sahabat keluar secara kelompok-
kelompok kecil bermula dari
bulan Muharram dan Rasulullah
SAW keluar bersama Abu Bakar
pada hari Khamis, 1 Rabi’ul
Awwal ketika berumur 53
tahun.
Hijrah berterusan selepas itu,
dilakukan oleh para sahabat,
para ulama’, imam-imam mazhab
dan berkelanjutan sampai saat
ini dengan pelbagai tujuan baik
melaksanakan urusan dakwah,
menuntut ilmu, berjihad dan
sebagainya.
Perspektif Al-Qur’an ( Vol 3 )
Catatan sejarah menunjukkan
bahawa, perjalanan hijrah tidak
hanya dilakukan oleh Rasulullah
SAW dan para sahabat sahaja.
Bahkan lebih awal dari itu, ia
telah dilakukan oleh rasul-rasul
dan ummat sebelumnya.
Antaranya adalah seperti
berikut:
Hijrah Ummat Terdahulu
Ashabul Kahfi adalah contoh
penting dari pelaksanaan ibadah
hijrah yang dilakukan oleh umat
terdahulu. Kisah mereka
diabadikan oleh Allah SWT di
dalam al-Qur’an pada Surah Al-
Kahfi dari ayat ke-9 hingga ayat
26. Mereka adalah satu golongan
anak muda yang beriman
kepada Allah SWT. Sebagian ahli
tafsir menyebutkan bahwa
mereka hidup setelah Isa,
sebagai orang Nasrani. Sebagian
pula berpendapat bahwa
mereka adalah kaum Muslim
pengikut agama Isa, sedangkan
pada masa itu raja mereka
adalah penyembah berhala, yang
menyeru mereka menyembah
berhala. Diriwayatkan juga
bahwa mereka adalah satu kaum
dari anak cucu para bangsawan
kota Daqyus, kerajaan kafir. Juga
dinamakan Daqinus.
Diriwayatkan bahwa mereka
mengenakan tutup kepala dan
gelang dari emas yang memiliki
liontin. Mereka datang dari
Romawi yang kemudian
mengikuti agama Isa.
Lebih dari satu ahli tafsir, baik
generasi terdahulu maupun
generasi akhir yang
menyebutkan bahwa mereka
adalah anak keturunan raja-raja
Romawi dan para pemimpin
mereka. Ath-Thabari mengutip
pendapat Ibnu Abbas bahwa,
mereka berjumlah delapan
orang. Maksimilina adalah yang
terbesar di antara mereka dan
dialah yang berbicara dengan
raja. Kemudian Mahsimilina,
Yamliha, Marthus, Kasythusy,
Pirunus, Dinamus, Bathunus dan
Qalush. Ibnu Kathir mengatakan
bahwa, jumlah mereka adalah
tujuh orang berdasarkan firman
Allah SWT:
Artinya: Nanti (ada orang yang
akan) mengatakan “(jumlah
mereka) tiga (orang), yang
keempat adalah anjingnya” dan
(yang lain) mengatakan “(jumlah
mereka) lima (orang), yang
keenam adalah anjingnya”
sebagai terkaan yang ghaib dan
yang (yang lain lagi)
mengatakan “(jumlah mereka)
tujuh (orang), yang kedelapan
adalah anjingnya”. (QS. Al-Kahfi:
22)
Hijrah para pemuda Ashabul
Kahfi ini berawal dari
penyaksian mereka terhadap
amalan kaumnya yang
menyembah berhala-berhala dan
taghut serta menyembelih
binatang ternak untuk
dipersembahkan pada tuhan
mereka pada hari besar agama
mereka di pusat kota setiap satu
tahun sekali di bawah
pengarahan seorang raja yang
kejam dan keji yaitu Dikyanus.
Mereka menyadari bahwa apa
yang dilakukan oleh kaumnya
dengan bersujud kepada berhala
sesungguhnya merupakan hak
Allah SWT yang telah
menciptakan langit dan bumi.
Mulailah satu demi satu dari
mereka meninggalkan kaumnya
dan menolak perbuatan mereka
dan menentang mereka dalam
hal itu. Orang yang pertama di
antara mereka adalah duduk
dibawah pohon rindang.
Kemudian menyusul orang
kedua yang turut duduk disana.
Kemudian berdatangan yang
selanjutnya. Mereka bukanlah
orang yang saling mengenal,
namun hati mereka yang
menyebabkan mereka
berkumpul dalam kumpulan
iman.
Mereka berdiri dihadapan kaum
mereka sambil mengumumkan
ketauhidan dan berlepas diri dari
kesyirikan yang dilakukan kaum
mereka. Mereka berkata “Tuhan
kami bukan Tuhan Fulan dan
Fulan, tapi Dia Tuhan langit dan
bumi. Dialah Raja, Pencipta dan
pengatur langit dan bumi”. Para
pemuda itu tidak peduli dengan
sesiapa pun juga. Mereka seperti
tukang-tukang sihir Fir’aun yang
tidak peduli ancaman Fir’aun,
mereka tetap teguh dengan
kebenaran. Mereka
meninggalkan kampung halaman
mereka menuju ke sebuah gua.
Dikatakan bahwa, lokasi gua itu
berada di Gunung Ar-Raqim
(dekat Amman, Yordan).Para
ulama berbeda pendapat
tentang letak gua itu.
Kebanyakan mereka berkata
“gua itu di bumi Ailah”.
Dikatakan pula “gua itu lebih
tepat di negeri Romawi”.
Wallahua’lam.
Sedangkan tentang anjing (yang
bersama mereka) diriwayatkan
bahwa anjing itu adalah anjing
berburu mereka milik mereka.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa,
dalam perjalanan mereka
berjumpa dengan seorang
penggembala yang memiliki
seekor anjing. Penggembala itu
mengikuti mereka karena
adanya kesesuaian dengan
pendapat mereka. Para pemuda
ini lalu ditidurkan oleh Allah SWT
di dalam gua tersebut selama
tiga ratus tahun ditambah
sembilan tahun Hilaliyah
(Qamariyah). Sedangkan dalam
hitungan Syamsiyah lamanya
adalah tiga ratus tahun. Sebab,
perbedaan antara setiap seratus
tahun penanggalan Qamariyah
dengan penanggalan Syamsiyah
adalah tiga tahun. Karena itulah,
Allah menyatakan “selama tiga
ratus tahun dan ditambah
sembilan tahun”.
Mereka masing-masing bangkit
dalam keadaan tertanya-tanya
mengenai lama masa mereka
tidur sehinggalah Allah SWT
menjelaskan kepada mereka
melalui manusia yang hidup
pada zaman tersebut tentang
keadaan diri mereka.
Setelah bangkit dari tidur,
mereka mengutus salah seorang
dari mereka dengan uang
logamnya ke kota, yang
dengannya agar membawakan
makanan, namun
keberadaannya dan juga
dirhamnya tertolak karena telah
kuno. Sehingga ia dibawa
kepada raja yang yang ketika itu
seorang yang shalih dan rakyat
pun telah beriman. Ketika raja
melihatnya, ia berkata “kiranya
ini adalah para pemuda yang
pergi di zaman raja Dikyanus.
Aku telah berdoa kepada Allah,
sudi kiranya menunjukkan
mereka kepadaku”. Akhirnya
mereka bersama-sama
berangkat ke gua. Kebanyakan
riwayat mengatakan bahwa
mereka meninggal dunia ketika
diajak berbicara oleh Tamlikha,
teman mereka yang kembali dari
kota bersama raja yang beriman
ini.
Hijrah Para Nabi
Antaranya adalah seperti
berikut:
1) Nabi Ibrahim
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Ibrahim
Alaihissalam:
a) Hijrah dari Babilonia menuju ke
Syam (Syria) dan Palestina.
b) Hijrah ke Mesir
c) Hijrah dari Mesir kembali ke Syam
d) Hijrah ke bumi Mekah dan
membangun Baitullah
2) Nabi Luth
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Luth
‘Alaihissalam:
a) Hijrah ke Syam bersama bapa
saudaranya Nabi Ibrahim
b) Hijrah ke Sadum (sekitar Jordan)
3) Nabi Musa
Berikut adalah tempat-tempat
penghijrahan Nabi Musa
Alaihissalam:
a) Dari Mesir ke Madyan
b) Dari Madyan kembali ke Mesir
c) Dari Mesir ke Syam (Palestin)
4) Nabi Muhammad
Berikut adalah tempat-tempat
penghijaran Nabi Muhammad
dan para sahabat:
a) Hijrah ke Habsyah kali pertam
a – Bulan Rejab Tahun ke-5
Nubuwwah (Kenabian) dengan
jumlah 15 orang iaitu 10 lelaki
dan 5 perempuan. Nabi tidak
sertai.
b) Hijrah ke Habsyah kali kedua –
Bulan Syawal Tahun ke-5 Nubuw
wah (Kenabian). Jumlah mereka
83 lelaki dan 19 perempuan.
Ketua rombongan adalah Ja’afar
bin Abi Talib. Nabi tidak sertai.
c) Hijrah ke Ta’if – Rasulullah
keluar berdakwah di Ta’if selama
10 hari bersama Zaid bin
Harithah. Tiada yang menerima
Islam kecuali seorang hamba
iaitu Addas (seorang Nasrani),
hamba kepada Utbah bin Rabi’ah
dan Syaibah bin Rabi’ah. Hijrah
ke Ta’if berlaku selepas tahun
ke-10 Nubuwwah.
d) Hijrah ke Madinah – Para
sahabat keluar secara kelompok-
kelompok kecil bermula dari
bulan Muharram dan Rasulullah
SAW keluar bersama Abu Bakar
pada hari Khamis, 1 Rabi’ul
Awwal ketika berumur 53
tahun.
Hijrah berterusan selepas itu,
dilakukan oleh para sahabat,
para ulama’, imam-imam mazhab
dan berkelanjutan sampai saat
ini dengan pelbagai tujuan baik
melaksanakan urusan dakwah,
menuntut ilmu, berjihad dan
sebagainya.
Rabu, 23 November 2011
PEMBAGIAN TAUHID
Pembagian Tauhid – Rububiyah,
Uluhiyah, Asma wa Sifat
Pada awalnya tauhid dibagi menjadi 2
bagian, yaitu :
Tauhid Al Ma’rifat wal Itsbat
(Pengenalan dan Penetapan) yang
mengandung 2 tauhid yaitu
Tauhid Rububiyah yaitu mengenal
Allah melalui perbuatan-Nya.
Tauhid Asma wa Sifat yaitu
mengenal Allah melalui nama dan
sifat-Nya.
Tauhid Al Irodi Ath Tholabi yaitu
tauhid yang diinginkan dan dituntut,
disebut juga tauhid uluhiyah.
Akan tetapi seiring semakin jauhnya
umat Islam dari ajaran agama, sehingga
banyak terjadi penyimpangan
keyakinan di dalam nama dan sifat
Allah, maka Tauhid Asma wa Sifat
disebutkan secara khusus. Sehingga
Tauhid dibagi menjadi 3 :
Tauhid Rububiyah
Yaitu mentauhidkan Allah dalam
perbuatan-Nya, seperti mencipta,
menguasai, memberikan rizki,
mengurusi makhluk, dll yang semuanya
hanya Allah semata yang mampu. Dan
semua orang meyakini adanya Rabb
yang menciptakan, menguasai, dll.
Kecuali orang atheis yang berkeyakinan
tidak adanya Rabb. Diantara
penyimpangan yang lain yaitu kaum
Zoroaster yang meyakini adanya
Pencipta Kebaikan dan Pencipta
Kejelekan, hal ini juga bertentanga
dengan aqidah yang lurus.
Tauhid Uluhiyah
Mentauhidkan Allah dalam perbuatan-
perbuatan yang dilakukan hamba. Yaitu
mengikhlaskan ibadah kepada Allah,
yang mencakup berbagai macam
ibadah seperti : tawakal, nadzar, takut,
khosyah, pengharapan, dll. Tauhid inilah
yang membedakan umat Islam dengan
kaum musyrikin. Jadi seseorang belum
cukup untuk mentauhidkan Allah dalam
perbuatan-Nya (Tauhid Rububiyah)
tanpa menyertainya dengan
mengikhlaskan semua ibadah hanya
kepada-Nya (Tauhid Uluhiyah). Karena
orang musyrikin dulu juga meyakini
bahwa Allah yang mencipta dan
mengatur, tetapi hal tersebut belum
cukup memasukkan mereka ke dalam
Islam.
Tauhid inilah yang menjadi inti
pembahasan dari Kitab Tauhid, oleh
karena itu penulis memberikan judul
“Kitab Tauhid yang merupakan hak
Allah terhadap hamba-Nya”. Judul ini
diambil dari perkataan Rasulullah
terhadap Muadz bin Jabbal di atas
keledai, “Tahukah engkau apa hak Allah
terhadap hamba-Nya, dan apa hak
hamba terhadap Allah ?”, Muadz bin
Jabbal, “Allah dan Rasulnya yang lebih
mengetahui”, Hak Allah kepada
hambanya yaitu agar hamba beribadah
mentauhidkan Allah dan tidak
menyekutukan Allah.
Tauhid Asma Wa Sifat
Mengimani dan menetapkan apa yang
sudah ditetapkan Allah di dalam Al
Quran dan oleh Nabi-Nya di dalam
hadits mengenai nama dan sifat Allah
tanpa merubah makna, mengingkari,
mendeskripsikan bentuk/cara, dan
memisalkan. Untuk pembahasan yang
lebih lengkap bisa merujuk ke beberapa
kitab diantaranya Aqidah Washithiyah,
Qowaidul Mutsla, dll.
Apabila ketiga tauhid di atas ada yang
tidak lengkap, maka seorang hamba
bisa berkurang imannya atau bahkan
telah keluar dari Islam.
Syirk
Lawan tauhid adalah syirk, yaitu
menjadikan sesuatu mempunyai sekutu
dalam suatu urusan. Maka barang siapa
yang telah syirk, maka dia telah
menjadikan sekutu bagi Allah di dalam
melaksanakan ibadah.
Pembagian Syirk
Pembagian syirk menjadi 2 bagian
Syirk besar : Mengeluarkan
seseorang dari Islam.
Mengakibatkan sifat syirk melekat
pada seseorang.
Syirk kecil : Jalan menuju syirk
akbar tapi tidak mengeluarkan
seseorang dari Islam. Sifat syirk
tidak melekat seluruhnya pada
seseorang.
Pembagian syirk menjadi 3 bagian
Syirk besar yang nyata :
Melakukan amalan syirk besar
yang nyata, seperti menyembah
patung.
Syirk kecil yang nyata :
Melakukan amalan syirk kecil yang
nyata, misalkan bersumpah
dengan nama selain Allah.
Syirk yang tersembunyi :
Melakukan amalan syirk yang
tersembunyi
Syirk yang tersembunyi dibagi menjadi
Syirk tersembunyi yang besar
(riya’nya orang munafiq) : Hal ini
mengeluarkan seseorang dari
Islam.
Syirk tersembunyi yang kecil
(riya’nya kaum muslimin) : Hal ini
tidak mengeluarkan seseorang
dari Islam.
Pembagian tauhid dan syirk menjadi 3
bagian memiliki dasar di dalam Al Quran
dan As Sunnah tidak secara tersurat
tapi tersirat. Misalkan dalam ayat Al
Fathihah, “Alhamdu lillaahi Rabbil
‘Alamin”
Al-Hamdu = Tauhid Asma wa
Sifat, sifat Al Hamid,
lillaahi = Tauhid Asma wa Sifat
dan Tauhid Uluhiyah, menetapkan
nama Allah dan menetapkan
peribadahan kepada Allah
Rabbi = Tauhid Rububiyah
Firman Allah, “Dan tidaklah Aku
menciptakan Jin dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepada-
Ku”
Jin merupakan makhluk yang diciptakan
Allah dari api. Kata yang terdiri dari jim
( ﺝ) dan nun (ﻥ) dalam bahasa arab
memiliki makna umum tertutup.
Misalkan Majnun (orang gila) tertutupi
akal sadarnya, Jannatun (Surga) karena
tertutupi kenikmatannya dari
pandangan, pendengaran, dan
pemikiran manusia, begitu juga Jin
bermakna tertutup dari manusia. Jin
juga dibebani ibadah sebagaimana
manusia.
Manusia merupakan makhluk yang Allah
ciptakan dari tanah. Kata Al-Ins
(manusia) memiliki makna Al-Uns (jinak,
saling bantu membantu), yaitu manusia
harus saling tolong-menolong dalam
menjalani hidupnya.
Uluhiyah, Asma wa Sifat
Pada awalnya tauhid dibagi menjadi 2
bagian, yaitu :
Tauhid Al Ma’rifat wal Itsbat
(Pengenalan dan Penetapan) yang
mengandung 2 tauhid yaitu
Tauhid Rububiyah yaitu mengenal
Allah melalui perbuatan-Nya.
Tauhid Asma wa Sifat yaitu
mengenal Allah melalui nama dan
sifat-Nya.
Tauhid Al Irodi Ath Tholabi yaitu
tauhid yang diinginkan dan dituntut,
disebut juga tauhid uluhiyah.
Akan tetapi seiring semakin jauhnya
umat Islam dari ajaran agama, sehingga
banyak terjadi penyimpangan
keyakinan di dalam nama dan sifat
Allah, maka Tauhid Asma wa Sifat
disebutkan secara khusus. Sehingga
Tauhid dibagi menjadi 3 :
Tauhid Rububiyah
Yaitu mentauhidkan Allah dalam
perbuatan-Nya, seperti mencipta,
menguasai, memberikan rizki,
mengurusi makhluk, dll yang semuanya
hanya Allah semata yang mampu. Dan
semua orang meyakini adanya Rabb
yang menciptakan, menguasai, dll.
Kecuali orang atheis yang berkeyakinan
tidak adanya Rabb. Diantara
penyimpangan yang lain yaitu kaum
Zoroaster yang meyakini adanya
Pencipta Kebaikan dan Pencipta
Kejelekan, hal ini juga bertentanga
dengan aqidah yang lurus.
Tauhid Uluhiyah
Mentauhidkan Allah dalam perbuatan-
perbuatan yang dilakukan hamba. Yaitu
mengikhlaskan ibadah kepada Allah,
yang mencakup berbagai macam
ibadah seperti : tawakal, nadzar, takut,
khosyah, pengharapan, dll. Tauhid inilah
yang membedakan umat Islam dengan
kaum musyrikin. Jadi seseorang belum
cukup untuk mentauhidkan Allah dalam
perbuatan-Nya (Tauhid Rububiyah)
tanpa menyertainya dengan
mengikhlaskan semua ibadah hanya
kepada-Nya (Tauhid Uluhiyah). Karena
orang musyrikin dulu juga meyakini
bahwa Allah yang mencipta dan
mengatur, tetapi hal tersebut belum
cukup memasukkan mereka ke dalam
Islam.
Tauhid inilah yang menjadi inti
pembahasan dari Kitab Tauhid, oleh
karena itu penulis memberikan judul
“Kitab Tauhid yang merupakan hak
Allah terhadap hamba-Nya”. Judul ini
diambil dari perkataan Rasulullah
terhadap Muadz bin Jabbal di atas
keledai, “Tahukah engkau apa hak Allah
terhadap hamba-Nya, dan apa hak
hamba terhadap Allah ?”, Muadz bin
Jabbal, “Allah dan Rasulnya yang lebih
mengetahui”, Hak Allah kepada
hambanya yaitu agar hamba beribadah
mentauhidkan Allah dan tidak
menyekutukan Allah.
Tauhid Asma Wa Sifat
Mengimani dan menetapkan apa yang
sudah ditetapkan Allah di dalam Al
Quran dan oleh Nabi-Nya di dalam
hadits mengenai nama dan sifat Allah
tanpa merubah makna, mengingkari,
mendeskripsikan bentuk/cara, dan
memisalkan. Untuk pembahasan yang
lebih lengkap bisa merujuk ke beberapa
kitab diantaranya Aqidah Washithiyah,
Qowaidul Mutsla, dll.
Apabila ketiga tauhid di atas ada yang
tidak lengkap, maka seorang hamba
bisa berkurang imannya atau bahkan
telah keluar dari Islam.
Syirk
Lawan tauhid adalah syirk, yaitu
menjadikan sesuatu mempunyai sekutu
dalam suatu urusan. Maka barang siapa
yang telah syirk, maka dia telah
menjadikan sekutu bagi Allah di dalam
melaksanakan ibadah.
Pembagian Syirk
Pembagian syirk menjadi 2 bagian
Syirk besar : Mengeluarkan
seseorang dari Islam.
Mengakibatkan sifat syirk melekat
pada seseorang.
Syirk kecil : Jalan menuju syirk
akbar tapi tidak mengeluarkan
seseorang dari Islam. Sifat syirk
tidak melekat seluruhnya pada
seseorang.
Pembagian syirk menjadi 3 bagian
Syirk besar yang nyata :
Melakukan amalan syirk besar
yang nyata, seperti menyembah
patung.
Syirk kecil yang nyata :
Melakukan amalan syirk kecil yang
nyata, misalkan bersumpah
dengan nama selain Allah.
Syirk yang tersembunyi :
Melakukan amalan syirk yang
tersembunyi
Syirk yang tersembunyi dibagi menjadi
Syirk tersembunyi yang besar
(riya’nya orang munafiq) : Hal ini
mengeluarkan seseorang dari
Islam.
Syirk tersembunyi yang kecil
(riya’nya kaum muslimin) : Hal ini
tidak mengeluarkan seseorang
dari Islam.
Pembagian tauhid dan syirk menjadi 3
bagian memiliki dasar di dalam Al Quran
dan As Sunnah tidak secara tersurat
tapi tersirat. Misalkan dalam ayat Al
Fathihah, “Alhamdu lillaahi Rabbil
‘Alamin”
Al-Hamdu = Tauhid Asma wa
Sifat, sifat Al Hamid,
lillaahi = Tauhid Asma wa Sifat
dan Tauhid Uluhiyah, menetapkan
nama Allah dan menetapkan
peribadahan kepada Allah
Rabbi = Tauhid Rububiyah
Firman Allah, “Dan tidaklah Aku
menciptakan Jin dan Manusia
kecuali untuk beribadah kepada-
Ku”
Jin merupakan makhluk yang diciptakan
Allah dari api. Kata yang terdiri dari jim
( ﺝ) dan nun (ﻥ) dalam bahasa arab
memiliki makna umum tertutup.
Misalkan Majnun (orang gila) tertutupi
akal sadarnya, Jannatun (Surga) karena
tertutupi kenikmatannya dari
pandangan, pendengaran, dan
pemikiran manusia, begitu juga Jin
bermakna tertutup dari manusia. Jin
juga dibebani ibadah sebagaimana
manusia.
Manusia merupakan makhluk yang Allah
ciptakan dari tanah. Kata Al-Ins
(manusia) memiliki makna Al-Uns (jinak,
saling bantu membantu), yaitu manusia
harus saling tolong-menolong dalam
menjalani hidupnya.
Langganan:
Postingan (Atom)